Saat tanah itu sudah berada didepan matanya, tidak ada rasa sakit yang ia rasakan. Namun Faikar terbangun dari tidurnya dengan cepat. Ia melihat pohon-pohon diatasnya, menyadari ini adalah tempat yang ia tiduri sebelumnya. Jantung nya berdetak kencang, Faikar yakin itu benar-benar mimpi terburuknya, ia menutup kedua matanya dengan lengan kiri miliknya. Berusaha mengoptimalkan nafas yang memburu cepat akibat mimpi yang ia alami itu. “Bermimpi buruk? Ataukah sebuah pertanda?” terdengar pertanyaan Raph yang masih jelas di ingatan Faikar. Segera, Faikar bangkit dengan terburu-buru dan menatap Raph yang tengah berdiri dihadapannya dengan tatapan yang aneh padanya. “Hh... Hh... Hh…” nafas Faikar makin memburu, rasa panik mulai menggerayanginya saat ini, ketika menyadari apa yang ia mimpikan men

