Nona-ku Canduku | Prolog

451 Kata
Deg "Pak Darmo? Kok Pak Darmo ikut masuk ke kamar Hanna?" tanya seorang gadis belia tampak terkejut. Pria tua dengan pakaian lusuh itu tampak tersenyum tipis. Tanpa merasa canggung karena sudah lancang masuk ke dalam tempat pribadi nona mudanya. "Memangnya kenapa, Non? Apa Non Hanna tidak suka?" tanya Darmo dengan wajah pura-pura sedih. Hanna tampak gelagapan dengan wajah gugup. Menggigit ibu jarinya dengan raut memberenggut. "Bu-Bukan gitu, Pak Darmo. Tapi Hanna mau ganti baju." cicit gadis itu malu-malu. Darmo merasa gemas dengan tingkah polos gadis di depannya. Tubuhnya semakin bergejolak menyadari betapa polosnya nona mudanya ini. "Tidak apa-apa, Non. Non Hanna bisa ganti baju di depan saya." ujar Darmo dengan nada membujuk. Hanna tampak berdiri kikuk. Baru pertama kali ini ada pria lain yang masuk ke dalam kamarnya. Selama ini, orang tuanya tidak pernah memperbolehkan dirinya bergaul dengan lawan jenis. Sehingga membuat gadis itu benar-benar polos dan tidak mengenal cinta. "T-Tapi Hanna malu, Pak." cicit Hanna dengan wajah memberenggut. Darmo sepertinya masih tidak ingin menyerah. Dengan tipu muslihatnya dia berhasil memanipulasi gadis polos itu. "Santai saja, Non. Di sini tidak ada siapa-siapa selain saya." bujuk Darmo. Karena mulai merasa kedinginan, Hanna akhirnya menuruti ucapan pria tua tersebut. Dengan pipi bersemu, Hanna mulai melepaskan satu persatu kancing seragamnya yang telah basah. Gadis itu tak sadar jika sedari tadi Darmo tengah menatapnya dengan pandangan lapar. Apalagi saat melihat d**a Hanna yang menyembul dari balik bra putih yang gadis itu kenakan. Greb Gerakan tangan Hanna terhenti saat merasakan tangan besar Darmo menyentuh punggung tangannya. Gadis itu mendongak, terkesiap saat baru menyadari jika pria itu sudah berada tepat di depannya. "Biar saya bantu ya, Non." ujar Darmo menawarkan diri. Seakan terhipnotis, Hanna tanpa sadar mengangguk. Membiarkan tukang kebunnya tersebut melepaskan seragamnya dari tubuhnya. Glup Darmo tampak menelan ludahnya susah payah saat melihat tubuh atas Hanna yang setengah bugil. Hanya bra putih polos sebagai penutup aset pribadinya saat ini. Karena tak tahan dengan gairahnya sendiri, Darmo akhirnya memberanikan diri untuk menangkup kedua d**a Hanna yang masih terbalut penghalang. Meremasnya dengan tiba-tiba yang membuat sang empu berjengit. "Pak.." cicit Hanna yang terlihat kebingungan dengan apa yang dilakukan oleh pria tua di depannya. "Tidak apa-apa, Non. Non Hanna cukup diam saja." ujar Darmo menenangkan. "Tapi Pa-ahhh.." ucapan Hanna terpotong saat Darmo kembali meremas payudaranya dengan cukup kuat. "Enak kan, Non?" tanya Darmo terkekeh. Hanna yang merasa kebingungan hanya bisa mengangguk. Tidak ingin munafik, dia memang merasakan nikmat saat Darmo meremas bukit kembarnya. "Boleh saya lanjutkan, Non?" tanya Darmo yang terlihat begitu senang. Anggukan kecil yang Hanna berikan membuat Darmo merasa girang di dalam hati. Sehingga setelah mendapat persetujuan dari nona mudanya itu, Darmo tak segan lagi untuk meremas gundukan kenyal milik Hanna. Yang merupakan anak dari majikannya. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN