12||ISI HATI

831 Kata
Setelah menelpon dokter, Sandra akan masuk ke kamar Angkasa. Namun langkahnya berhenti. Saat melihat Angakasa dan Diva yang sedang berpelukan. Diva nampak sabar untuk mengelus bahu Angkasa. Angkasa pun terlihat sudah tertidur di dalam pelukan Diva. Sandra tersenyum, Angkasa itu sama seperti Rama, Rama akan sangatanja kompilasi sakit. Namun Rama tidak jahil seperti Angkasa. Sandra masih senang berada di balik pintu. Hingga bahunya di tepuk oleh sesorang. "Yangg, kenapa masih disini?" tanya Rama yang sudah siap dengan setelan jasnya. Mengganti pandangannya untuk melihat Angkasa dan Diva. Rama akan melangkah menuju mereka belum, Sandra memindahkannya. "Jangan Mas, Angkasa lagi sakit kasihan." larang Sandra. "Ya ampun yang, kamu taukan mereka berduaan di kamar. Mana posisinya intim gitu." cetus Rama. "Tapi Angkasa lagi sakit Mas, Mas kan tahu kalau dia sakit itu manja banget kayak kamu." sahut Sandra, Rama masih bisa digabungkan. Memang benar, mereka benar-benar berpelukan. "Mas katanya mau jadi nggak?" tanya Sandra, pindah pembicaraan. "Ya jadi bentar lagi telat ini." kata Rama. "Ya udah ayo berangkat." ajak Sandra sembari mengandeng lengan Rama. "Yangg, kita nggak mungkin ninggalin mereka cuma berdua doang." katakan Rama. "Iya, ya Angkasa kan kambing kamu." kata Sandra sembari berfikir. Rama mengkerutkan keningnya bingung. "Maksudnya?" tanya Rama, bingung. "Kamu kan m***m, terus Angkasa Anak kamu. Jelas mesumnya nular," ungkap Sandra, Rama terkekeh mendengar perkataan Istrinya. "Mesumnya dimana?" tanya Rama mencondongkan membuatnya agar sejajar dengan Sandra. "Kalau kamu nggak m***m, anak kita nggak mungkin udah lima." cetus Sandra, lagi Rama tertawa. "Nambah satu lagi ya! Aku pingin anak cewek jadi 3 cewek 3 cowok." pinta Rama sembari menaik turunkan alisnya. "Enggak! Enak aja kamu pikir ngelahirin itu enak ?!" seru Sandra. Suara Sandra yang sedikit besar membuat Angkasa berteriak. "Mami Papi, ngapain di situ!" teriak Angkasa, Sandra, dan Rama menengok kearah putra. Diva malu karna perbuatannya dan Angkasa di pergoki oleh Rama dan Sandra. Membuat perempuan itu menundukan perubahan. Di balik selimut, tangan Angkasa masih mengengan tangan Diva. "Ehm nggak pa-pa kok! Sa Mami sama Papi mau ada acara! Kalian jangan aneh-aneh dulu, sekolah dulu. Nanti kalau udah nikah nikah boleh ngapa ngapain." ucap Sandra lalu menarik Rama pergi keluar rumah. Diva dan Angkasa saling pandang, mereka terdiam mendengarkan ucapan Sandra. "Emang kita mau ngapa ngapain?" tanya Angkasa ke Diva. Sontak Diva mengelengkan kebebasan cepat. "Perut lo masih sakit?" tanya Diva mengalihkan pembicaraan. "Sedikit." kata Angkasa jujur. Angkasa merebahkan perut di ranjang, ia mengusap perutnya. "Lo mau makan apa? Biar gue pergi makan makanan." tawar Diva mengambil ponselnya. "Kayaknya kalau makan nasi belum bisa deh." keluh Angkasa menatap langit-langit kamarnya. "Terus lo mau makan apa?" tanya Diva perempuan masih menunggu dengan Angkasa. Angkasa mengalihkan pandangannya kearah Diva. Mereka berdua saling tatap. "Nggak mau makan apa-apa. Maunya tidur." jawab Angkasa, Angkasa Ia melentangkan diundang, lalu meminta Diva untuk tidur di sebelahnya. "Ma..maksud lo tidur di sini?" tanya Diva Angkasa mengangguk. "Bantalan lengan lo?" tanya Diva lagi, dan Angkasa mengangguk lagi. "Tapi nanti lengan lo sakit lagi," ucap Diva, Angkasa mengelengkan akhirnya. Dengan membantunya, Diva merebahkan kepemilikan di samping Angkasa. Diva tertidur dengan lengan Angkasa sebagai bantalanya. Lengan kanan Angkasa menjadi bantalan Diva, sementara tangan kirinya memainkan anak rambut Diva. Membuat perempuan tahan nafasnya, bukan hanya itu Diva juga berdetak lebih kencang. Sekitar lima menit, mereka masih berada dalam posisi seperti ini. Tangan Angkasa masih memainkan anak rambut Diva. "Lo tau nggak Div, gue suka sama cewek tapi dia nggak peka." ungkap Angkasa. Diva diam, entah bagaimana dadanya baik. Ia tau sejak awal, Diva tidak mungkin terbawa perasaan atas apa yang dilakukan oleh Angkasa. Karna dari awal hubungan mereka berjalan. "Gue suka sama dia sejak SMP, Anaknya manis banget, dia juga suka pertama gue." kata Angkasa lagi, diaktifkan masih senang tiasa memainkan anak rambut Diva. Diva masih diam tak berkutik, senang masih puas. Ia tidak mau Angkasa melihat rautujukan. Ia tidak akan mau Angkasa tahu yang sudah menyetujui hati untuk Angkasa. "Lo gimana Div? Pernah cinta sama seseorang nggak? Atau lagi cinta sama seseorang." tanya Angkasa ke Diva. "Gue cinta sama seseorang, orangnya jelek, bodoh, ngeselin, tapi ngangenin." katakanlah Diva tersenyum. Angkasa tertawa mendengar penuturan Diva. "Selera lo rendah banget sih?" ejek Angkasa masih tertawa. Diva membuang mukanya, Angkasa tak tau jika yang di ceritakan oleh Diva adalah Dirinya. "Gue tau siapa yang lo suka." kata Angkasa serius membuat Diva tampak Angkasa. Diva takut jika Angkasa tahu tentang perasannya. "Siapa?" tanya Diva senetral mungkin. Angksa tersenyum manis ia akan membalikkan menjadi menyamping. Angkasa menatap bola mata Diva jaraknya dan Diva hanya beberapa centi. Membuat Diva merasakan nafas Angkasa di sekitar bibirnya. "Lo suka sama ...... Aldo kan?" tabak Angkasa sembari manatap Bola mata Diva dengan lurus. Diva hanya mampu menggerakkankan, ia terhipnotis dengan manik mata Angkasa. Jarak dan Angkasa semakin dekat. Tangan Angkasa yang menjadi bantalan kepala Diva pun ikut merengkuh bahu Diva. Hingga membuat Diva semakin dekat. Mata Angkasa menggunakan Bibir tipis milik Diva. Diva diam bak patung yang membeku. "Astafirullhaladzim, kalian berdua ngapain!" seru Bintang, Abang-Angkasa yang berdiri di atas pintu dengan mata yang di tutup dengan kedua kalinya. ****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN