15||TUNANGAN SOMPLAK

850 Kata
Meskipun jari manis sudah terselip cincin pertunangan. Angkasa tetap Angkasa lelaki dengan sejuta kejahilannya. Seperti pagi ini, ia sedang menganggu Diva yang sedang mengerjakan PR-nya di kelas. Angkasa membawa buku Diva untuk di letakan di atas lemari. "ANGKASAA! BUKU GUE!" teriak Diva kesal. Angkasa masih diam mengubris ucapan selamat dari Diva. "Sa ambilin buku gue! Bu Neli bentar lagi masuk loh!" teriak Diva lagi. "Suruh siapa? Lo nggak ngerjain PR. Malah asyik nonton Drakor. Mau gue bakar laptop lo!" seru Angkasa sewot, Diva memajukan bibirnya. "Lagian! Udah punya tunangan ganteng gini kok. Masih lirik cowok lain." cibir Angkasa. "Ganteng apanya? Mirip kudanil iya!" seru Diva kesal, perempuan itu duduk di kursi guru. "Saa! Lima menit lagi Bu Neli masuk loh." kata Diva benar-benar kesal untuk Angkasa. "Biarin, biar lo di hukum." katakan Angkasa santai. Tak berapa lama bu Neli benar-benar datang. Membuat Diva dan Angkasa, berjalan menuju tempat duduknya. Raut wajah Diva sudah memerah. Perempuan itu memegang kesal untuk Angkasa. Sementara itu Angkasa tersenyum manatap Diva. "Selamat pagi anak-anak." sapa Bu Neli guru Kimia. "Pagi bu." balas satu kelas. "Minggu lalu, ibu memberi tugas sama kalian. Silakan kumpulkan tugas tersebut." katakan Bu Neli, tanpa basa-basi. Diva mengigit bibir bawahnya. "Kurang 2 siapa yang belum mengerjakan tugas saya." kata bu Neli setelah mengihitung jumlah buku tersebut. Diva mengangkat tangannya. Ia berdiri lalu pergi keluar kelas. Sebelum mengajar, Bu Neli memberi peraturan untuk siapa saja yang tidak mengerjakan tugas darinya. Akan membersikah Lab Kimia. Diva pun berjalan menuju Lab Kimia untuk membersihkan Lab Kimia. Diva sedang mengelap satu persatu meja yang ada di Lab Kimia. Tiba-tiba saja Angkasa duduk di atas meja yang akan di lap oleh Diva. "Ngapain lo kesini." kata Diva kesal, Angkasa tersenyum. "Gue kan juga di hukum sama Bu Neli." ucap Angkasa tersenyum manis. Diva terbengong menatap Angkasa. "Bohong, lo kan ngerjain tugas." sahut Diva, kembali mengelap meja yang lain. "Gue emang ngerjain tugas, tapi buku gue nggak gue kumpul." kata Angkasa mengikuti langkah Diva. "Kenapa?" tanya Diva. "Karnakan tunangan gue di hukum. Jadi tunangan sebagai yang baik. Gue mau nemenin lo di hukum." ucap Angkasa dengan senyum manisnya, Diva terpesona oleh senyum manis Angkasa. "Nggak jelas!" seru Diva sewot. "Kurang jelas? Kalau gue itu maunya samaan sama lo." katakan Angkasa dengan nada kesal. Diva menatap Angkasa sedetik kemudian perempuan tertawa. "Kok lo jadi bucin sih." cibir Diva, menatap Angkas jijik. Angkasa memajukan bibirnya. "Definisi romantis menutut lo itu apa sih Div? Gue heran deh." kesal Angkasa. "Oh jadi lo mau jadi cowok romantis?" tanya Diva berjalan mendekati Arah Angkasa. Tangan Diva merengkuh tubuh Angkasa. Membuat Angkasa memegang nafasnya Diva menatap manik mata hitam milik Angkasa. "Romantis itu? KALAU LO NGGAK JAHIL LAGI SAMA GUE!" teriak Diva di telinga Angkasa, membuat Angkasa mengelus telinganya. "Kesel gue sama lo! Bisa-bisanya buat ngerjain gue kayak gitu. Lo pikir kalau kita di hukum itu romantis?" kata Diva galak. Angkasa masih Diam. "Yaudah gue minta maaf." katakan Angkasa akhirnya. "Udah gue maafin." ucap Diva namun nada bicaranya masih sewot. Angkasa berjalan kerah Diva dipindahkan terbuka lebar di depan Diva. "Mau ngapain?" tanya Diva heran. "Peluk," manja Angkasa. "Peluk sono lemari!" seru Diva mendorong bahu Angkasa, membuat Angkasa mendengus sebal. **** Bel pulang sekolah sudah berbunyi Angkasa dan Diva juga sudah ada di dalam mobil. Angkasa mulai melaju mobilnya dengan kecepatam sedang. "Div ke mall dulu yuk!" ajak Angkasa, Diva yang sedang memainkan game di ponselnya pun menoleh ke Arah Angkasa. "Ngapain?males ah!" ucap Diva. "Gue bosen, kalau pulang kerumah. Di rumah nggak ada orang!" curhat Angkasa. "Mami, Papi, Venus, Mars, sama Bang Bintang kemana?" tanya Diva masih fokus dengan Gamenya. "Kerumah Oma, bang Bintang kuliah!" jawab Angkasa. "Yah, game over, 'kan!" kesal Diva saat melihat tulisan di layar ponselnya "Mau ya?" bujuk Angkasa, Diva menatap sekelilingnya. "Tanpa gue, iya, lo juga udah markirin mobil lo di parkiran mall." kesal Diva Angkasa tertawa, mereka pun keluar dari mobil. Angkasa merangkul bahu Diva, lalu meluncurkan Angkasa merangkul bahunya. "Main time zone yuk!" ajak Angkasa, Diva hanya menurut. 30 menit mereka bermain di time zone. Lalu  Angkasa membarikan Diva es krim. "Gue nggak suka es krim." balas Diva. "Serius?" tanya Angkasa, Diva mengangguk. "Perasaan kebanyakan cewek itu suka deh sama es krim. Kenapa lo nggak suka?" tanya Angkasa sembari menjilat es krim miliknya. "Karna nggak suka!" jawab Diva mencolek es krim yang ada di tangan Angkasa lalu mengoleskannya di pipi Angkasa. "Itu bukan jawaban ya!" seru Angkasa. Diva tertawa, lihat pemandangan menangkap sesuatuh di toko boneka. Matanya berbinar melihat hal itu. "Sa!" panggil Diva manja, perempuan itu mengoyangkan lengan Angkasa. "Apa?" tanya Angkasa. "Mau boneka itu," pinta Diva menunjuk salah satu toko boneka. "Boneka beruang yang gede itu?" tanya Angkasa. "Bukan beruang sebelahnya." balas Diva, Menampar lengan Angkasa karna kesal. "Kudanil?" tanya Angkasa saat melihat boneka kudanil dikumpulkan sedang. Diva mengangguk seperti meminta permen kepada izin. "Jangan Ah! Ngeri gue liat boneka kudanil. Nanti lo di caplok lagi sama dia." ucap Angkasa, Diva merajuk. "Beruang aja ya?" bujuk Angkasa. Diva mengelengkan persetujuan. "Dasar pelit!" seru Diva kesal. "Sembarangn ngatain gue pelit, Ayo kita beli bonekanya. Bila perlu sama tokonya." kata Angkasa menarik tangan Diva. *****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN