17||RAYUAN ANGKASA

893 Kata
Pagi ini, Diva sudah sampai di SMA Galaksi. Perempuan dengan rambut di cepol asal itu sedang duduk di kursi khusus ketua kedisplinan. Knop pintu di buka menampilkan sosok perempuan berambut panjang. "Div, hari ini kita oprasi lagi?" tanya perempuan itu. "Iya, lo chat anak-anak yang lain. Gue tunggu 10 menit lagi mereka harus udah sampai sekolah." ucap Diva, perempuan itu pun mengangguk. Diva mengambil ponsel dari saku rok, abu-abunya. Banyak sekali pesan dari Angkasa, sejak kemarin Diva kesal dengan Angkasa. Lelaki itu sudah mengambil ciuman pertamanya. Yah meski hanya menempelkan tapi sama saja itu sudah termasuk ciuman bukan? Diva membaca pesan yang di kirimkan oleh Angkasa. KUDANIL m***m:* P P P Sayang Diva:* Kok nggk di baca, Padahaln online lo:( Mama Diva:* Kucingnya Angkasa Cantik! Marah mulu Cepet tua nanti. Yang Yang Sayangnya Angkasa:* Diva menyimpan ponselnya di atas meja. Bulu kuduknya merinding melihat pesan terakhir yang di kirim kan oleh Angkasa. "Gila nih anak," ucap Diva sembari mengusap tengkuk lehernya. Tak berapa lama, teman-temannya sudah berkumpul di ruangan Diva. Diva mulai membicarakan oprasi hari ini. Semua mengangguki perkatan Diva. Meraka pun mulai beroprasi. Jam di tangan Diva sudah menunjukan pukul 06:45. Pintu gerbang sudah di tutup oleh satpam. Semua anak-anak yang telat ada di luar gerbang. Diva melangkah dengan sebuah buku catatan di tangannya. "Sintia! Panggil pak Johan, kita mulai oprasi sekarang!" seru Diva kepada salah satu rekannya Sintia. Suara geberan motor, membuat Diva mengalihkan tatapan matanya kepada lelaki berhoodie hitam itu. Lelaki itu melepas helem yang melekat di kepalanya. Ia berlari menuju Diva. "Kenapa lo nggak bilang sih kalau lo berangkat duluan!" seru lelaki itu dengan raut wajah yang kesal. Diva memutar bola matanya malas! "Males!" jawab Diva judes. Angkasa tersenyum. "Masih marah ternyata," ucap Angkasa menaik-turunkan alisnya. Dan juga, dengan jari telunjuk yang mencolek dagu tunangannya. "Diem deh!" seru Diva dengan nada penuh kekesalan. "Nambah manis aja," ucap Angkasa yang masih mengoda Diva. Tidak berapa lama Pak Johan dan Sintia datang. "Loh! Angkasa ngapain kamu disini?" tanya Pak Johan. "Kan saya telat pak," jawab Angkasa dengan bangga. "Ck, telat aja bangga," cibir Diva. "Ya kalau kamu telat ya, mbok disana ngapian to kamu di sini?" tanya Pak Johan, dengan nada medoknya. "Nemenin calon bini pak." jawab Angkasa dengan cengiran jahilnya. Diva menatap tajam Angkasa. "Oalah, anak jaman sekarang enek wae tingkahe (anak jaman sekarang ada saja tingkahnya)" ucap Pak Johan. "Baris!" bentak Diva kepada Angkasa. Angkasa pun masuk kedalam barisan, dia mengeser murid lain agar dia ada di barisan terdepan. Panas matahari membakar kulit Diva buliran keringat juga jatuh di pelipisnya. Pak Johan selaku guru BK sedang memberi wajengan kepada mereka, para murid yang telat. Diva masih berdiri di belakang pak Johan. Angkasa terus mengamati wajah Diva, yang sedikit memerah. "Mau jadi apa bangsa ini kalau generasi mudanya seperti kalian! Inget lo ya tadi bapak ngomong apa, wes reti lek kewajiban ne ki sekolah yo tangi ojo di omong di bengok'i embok'e baru podo tangi!" ucap pak Johan semua anak muridnya bergumam tak paham. Diva sendiri pun merasa pusing dengan apa yang di bicarakan oleh pak Johan. Angkasa tampak santai lelaki itu berjalan kearah Diva membuat pak Johan menghentikan aksi wajengannya. Angkasa mengusap lembut kening Diva yang masih basah oleh keringat, bukan hanya itu. Bahunya yang lebar pun menutupi wajah Diva agar tidak terkena matahari, secara langsung. Angkasa juga mengelus-elus pipi Diva dangan jari telunjuknya. Diva terpaku dengan prilaku Angkasa. Angkasa tersenyum manis membuat pipi Diva bersemu merah. Kejadian itu tidak berlangsung lama, karna telinga Angkasa di tarik oleh pak Johan. "Oalah, dasar bocah gemblung! Ono wong ngomong malah biayaan teko endi-endi!" kata Pak Johan, tak ada satu pun murid di sana yang mengerti dengan perkataan pak Johan. "Aduhh, pak sakit. Telinga saya copot nanti!" seru Angkasa meringis, Diva yang melihat itu pun ikut meringis seakan merasakan rasa sakit yang di rasakan Angkasa. **** Diva duduk di pingir lapangan, ia melihat Angkasa yang sedang keliling lapangan. Wajah Angkasa basah oleh keringat, Meskipun begitu Angkasa tak pernah berhenti untuk menebar senyum kepada Diva. Sudah 20 kali putaran Angkasa langsung duduk di sebelah Diva. Badannya penuh dengan keringat, lelaki itu memeluk tubuh Diva dari Samping. Diva melebarkan matanya. "Angkasa! Lo bau tau nggak!" seru Diva sembari mendorong bahu Angkasa. "Biarin, biar bau gue nempel di badan lo." ucap Angkasa masih menepelkan tubuhnya pada tubuh Diva. "Angkasa!" seru Diva kesal. "Apa sayang," jawab Angkasa Mengeratkan pelukannya. "Lepasin!" perintah Diva dengan nada kesal. Angkasa pun melepaskan pelukannya. Diva mengerang kesal karna bajunya yang basah. "Untung gue pakek baju olahraga," ketus Diva, Angkasa terkekeh geli. "Div!" panggil Angkasa. "Hm!" "Maafin gue kemarin khilap," ucap Angkasa menatap mata Diva. "Nggak mau ah, gue masih kesel sama lo." ucap Diva membuang mukanya. "Gue beliin Kudanil lagi deh," balas Angkasa memohon. Mendengar kata Kudanil, Diva langsung melihat kearah Angkasa. "Serius!? 3 ya!" seru Diva menunjukan kelima jarinya. "Itu 5 sayang," ucap Angkasa lemas, dan lesu. "Nggak mau tau pokoknya 5." ucap Diva. "Itu keba-" "Mau dapat maaf nggak?" potong Diva cepat. "Iya deh iya," ucap Angkasa Akhirnya. "Tapi yang 2 ngutang ya." ucap Angkasa dengan senyum lebarnya. "Ck, dasar pelit!" cibir Diva. "Biarin! Sini peluk lagi." ucap Angkasa merangkul bahu Diva, Lelaki itu pun menjatuhkan kepalanya di bahu diva. Diva hanya diam membiarkan Angkasa memeluk tubuhnya. "I miss you honey," bisik Angkasa di telinga Diva. Diva tersenyum tipis. 'I miss you to honey!' balas Diva dalam hati. *****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN