Berkali-kali kuyakini hatiku untuk tidak cemburu melihat kedekatan Ana dan Valdo. Namun, rasanya begitu sulit. Aku melepaskan Ana agar bahagia dengan pilihannya, tapi justru aku yang tersiksa dengan keputusan itu. "Pak, mau ke mana?" Samar-sama kudengar sopir bicara walau tak jelas. Ia melirikku melalui spion atas. "Bisa antar aku ke rumah Melody?" "Baik, Pak." Kupalingkan wajah ke luar di mana banyak kendaraan memadati jalan raya. Sepasang tua renta berteduh dari terik matahari di bawa pohon rindang, duduk di samping gerobak usang yang menjadi tempat barang bekas yang mereka kumpulkan. Perasaanku tersentuh saat mereka makan sebungkus nasi bersama. Mereka masih bisa tertawa walau keadaan sulit. Pemandangan itu berlalu seiring mobil bergerak. Aku memiliki segalanya, tak kurang sedikit

