Dua

1817 Kata
Pagi sekali, Rukmi tergopoh-gopoh berlarian di lorong rumah sakit seolah tak menghiraukan kandungannya. Tadi pagi dia berniat mengambil baju ganti untuk si kembar ke rumah, bergantian dengan suaminya yang menjaga si kembar. Namun baru sampai rumah adiknya, dia dikejutkan oleh telepon masuk ke nomor rumah itu. Yang membuatnya seolah lupa segala hal dan menemui suaminya. “Pak!! Bapak!!!” teriak Rukmi sambil menangis. Sang suami yang masih tertidur itu mendengar suara istrinya langsung terkesiap dan duduk. Rukmi duduk di lantai dan terisak. “Kamu kenapa, Bu?” tanya Bagus yang masih bingung, dia baru saja memejamkan mata namun sudah dikejutkan dengan kedatangan sang istri yang sambil menangis. “Anto, Pak! Anto!” isak Rukmi. “Anto anak kita? Kenapa?” “Anto semalam katanya ikut balapan liar! Terus tabrakan adu banteng sama temannya! Dan temannya meninggal! Sekarang Anto di penjara!” Adu banteng biasa di sebut dalam balapan liar saat kedua motor bertabrakan secara berhadapan. “Astaga ibu ... bagaimana bisa?” ujar Bagus yang ikut menangis. Para orang tua pasien yang berada di dekat mereka pun menghampiri dan berusaha menenangkan. Termasuk salah satu teman Triana yang langsung menyampaikan berita itu kepada Triana, sahabatnya. Sementara dokter senior pemilik rumah sakit yang juga merupakan ayah Delia, mendengar keributan di dalam bangsal pun ikut masuk. Menanyakan yang terjadi. Lalu mengangguk seolah mengerti. “Apa benar itu nomor kantor polisi? Bukan penipuan?” tanya ayah Delia. “Benar, Pak. Tadi saya sudah bicara dengan Antonya juga, ini nomor telepon kantor polisinya,” ucap Rukmi yang melipat kertas kecil dalam genggamannya, menyerahkan kepada Ayah Delia. Ayah Delia membuka kertas itu dan memperhatikan dengan seksama nama polisi serta nomor teleponnya. “Di kantor polisi mana?” tanya ayah Delia. Rukmi pun menyebut nama daerah mereka tinggal. Lalu ayah Delia keluar dari ruang rawat itu untuk memastikan apakah benar ada polisi bernama tersebut yang bertugas di sana, dia meminta asistennya mencari informasi tentang ini. Tak berapa lama, di dapatlah nama itu beserta kronologis kejadian, dan memang benar Anto, anak dari pasangan Bagus dan Rukmi sedang berada dalam sel tahanan karena balapan liar yang mengakibatkan hilangnya nyawa seorang pemuda lainnya. Ayah Delia kembali masuk ke dalam ruang rawat itu dan meminta kedua orang tua Anto keluar dari ruang rawat dan mengajak mereka ke ruangannya. Sementara dia meminta perawat menjaga si kembar, bertepatan dengan Triana yang sampai ruang rawat itu bersama suaminya. *** “Diminum dulu,” ucap ayah Delia, mempersilakan Bagus dan Rukmi meminum teh hangat yang tersedia di mejanya. Ruang kerja ayah Delia tentu sangat luas dan mewah. Mereka bahkan terasa sangat tak pantas duduk di atas sofa mahal ruangan itu. Bagus dan Rukmi saling tatap dan mengambil cangkir berisi teh hangat itu, menyesapnya dan meletakkan kembali ke meja. “Saya bisa bantu kalian membebaskan anak kalian, saya juga bisa membantu proses hukum dan biaya ganti rugi untuk korbannya,” ucap ayah Delia. “M-maksud bapak dokter?” tanya Bagus tergagap. “Ya, saya bisa membantu kalian keluar dari permasalahan ini, namun ... jika boleh saya ingin mengadopsi salah satu keponakan kalian, anak saya kebetulan tak bisa mempunyai keturunan dan ingin merawatnya, dia dan suami adalah pengusaha yang sukses, saya berani jamin keponakan kalian tak akan kekurangan sesuatu apapun,” ucap ayah Delia. Bagus dan istri saling tatap. “Pak, biarkan saja Pak, Anto jauh lebih penting dan butuh pertolongan,” ucap Rukmi. “T-tapi, Bu,” ucap Bagus, menimbang kedua hal tersebut, dia pun memikirkan seluruh biaya yang pasti dibutuhkan, dan itu jelas tak sedikit. “Betul kata istri kamu, sebaiknya kalian menerima penawaran saya, karena kasus ini cukup berat, akan butuh biaya yang besar dan waktu yang lama untuk mengurusnya. Namun jika kalian mempercayakan saya mengurusnya, hari ini juga anak kalian bisa keluar dari penjara,” ucap ayah Delia. “Oiya, saya juga akan membebaskan seluruh tagihan rumah sakit, dan memberikan uang untuk sangu kalian, cukup untuk kalian pulang kampung dan biaya kebutuhan kalian sehari-hari,” tawar ayah Delia. “Pak kami setuju,” ucap Rukmi seraya menyikut sang suami. Bagus mengangguk pasrah meski dia sangat sedih, bagaimana dia bisa merelakan keponakannya seperti ini? “Saya akan urus semuanya, kalian tenang saja dan percayakan dengan saya. Saya juga butuh dokumen untuk adopsi salah satu dari keponakan kembar kalian, oiya satu lagi, jangan pernah cari anak yang kami adopsi untuk alasan apapun juga. Bagaimana? Setuju?” tanya ayah Delia. “K-kami ... tak boleh menemuinya sama sekali?” tanya Bagus dengan suara tergagap dan penuh kesedihan. Ayah Delia menggeleng. “Tidak bisa, lagi pula dia akan tinggal di luar negeri bersama anak saya. Setelah ini, anggap kita tak pernah saling kenal.” Bagus dan Rukmi berjalan dengan sedih keluar dari ruangan itu, Bagus merasa melayang di udara, terombang ambing, mengapa permasalahan datang bertubi-tubi. Hingga Delia menghampiri mereka dan ikut ke dalam ruang rawat, memperhatikan kedua anak yang masih tertidur pulas di ranjang. “Mereka kembar tak identik kan?” tanya Delia memastikan. Bagus sudah tak bisa bersuara dan hanya duduk lemah di sudut ruangan. “Iya, kembar tak identik,” jawab Rukmi dengan mata sayup dan kelelahan. “Ini namanya siapa?” “Yang ini anak pertama namanya Darren, yang ini anak ketiga namanya Devan, yang kedua sedang digendong bu Triana namanya Davin,” ucap Rukmi, Triana semakin mendekap erat Davin seolah tak ingin diambil darinya, dia sudah terlanjur jatuh cinta dengan sosok Davin. “Saya rawat Devan saja,” ucap Delia. “Bisa berikan akta kelahiran dan copy kartu keluarga Devan?” imbuh Delia. Rukmi membuka laci meja di ruangan itu dan mengeluarkan berkas yang diminta. Delia meminta kepada sekretarisnya sebuah dokumen yang harus ditanda tangani oleh Bagus selaku wali dari Devan. Bagus menandatangi dengan isak tangis yang tertahan, dia merasa seolah telah menjual keponakannya sendiri. Delia mengeluarkan amplop cokelat berisi tumpukan uang cash yang diserahkan ke Bagus namun Bagus tak mau menerimanya hingga dia memberikan amplop itu ke Rukmi yang menerimanya dengan hati tersayat, dia sedang bersedih karena memikirkan putra pertamanya itu. Keputusan memberikan Devan dirasa adalah yang paling tepat untuk saat ini. Setelahnya, Delia dibantu seorang perawat membawa Devan keluar dari ruangan itu, dan untuk terakhir kalinya, Bagus mengecup kening keponakannya seraya menangis dan membiarkannya pergi jauh, dia tahu mungkin dia tak akan bisa menemuinya lagi setelah ini. *** Triana dan sang suami menghampiri Rukmi dan Bagus yang duduk di lantai seraya bersandar di dinding. Darren sudah bangun dan berada di gendongan suami Triana, sementara Triana menggendong Devin. “Saya tahu ini sangat berat, namun melihat permasalahan yang ada, sepertinya keputusan tepat membiarkan keponakan kalian untuk kami adopsi, kami tetap akan memberikan izin kalian jika ingin menjenguknya, kami tak akan menghilangkan identitasnya, dan tetap menulis nama orang tuanya di dalam kartu keluarga kami. Dan yang pasti kami akan menyayanginya setulus hati kami,” ucap Bachtiar, suami dari Triana. Rukmi dan Bagus seolah berkelana dengan pikiran mereka sendiri dan mengabaikan ucapan Bachtiar.   “Bu, Rukmi,” panggil Triana. Rukmi menyenggol sikut sang suami yang masih bersedih. “Tolong jangan ambil Darren, biarkan saya merawat satu saja keponakan saya,” ucap Bagus sambil menyeka air matanya. “Kami tak mau merebut mereka, kami hanya ingin membantu merawatnya, tolong percayakan Davin kepada kami, Ya?” ucap Bachtiar bijaksana. Rukmi berpikir bahwa memang mereka tak akan bisa merawat kedua anak itu bersamaan karena akan sangat merepotkan, ditambah permasalahn yang mereka hadapi kini, membuat Rukmi semakin putus asa. “Silakan, Bu Triana, saya percaya ibu akan merawatnya dengan baik,” ucap Rukmi. Sementara suaminya kembali melamun. Bachtiar menyerahkan Darren ke dalam dekapan Bagus yang langsung menciumi kepalanya. Sementara dia mengeluarkan amplop putih berisi uang tunai. “Maaf jika ibu dan bapak tersinggung, saya tak berniat buruk dengan memberikan uang tunai ini. saya harap ibu dan bapak menerimanya meski tak seberapa, dan di sana ada nomor telepon saya, hubungi saya jika butuh sesuatu, saya akan usahakan membantu semaksimal mungkin,” ucap Bachtiar. Rukmi menerima amplop itu dan menyerahkan akta kelahiran Davin juga berkas lainnya. Setelahnya, dengan wajah sumringah, Triana membawa Davin pulang, mengecup kepalanya dengan sangat lembut dan penuh kasih sayang, dia akan melimpahi Davin dengan cinta yang besar. *** Selang beberapa jam kemudian, seorang perawat meminta Rukmi dan Bagus menuju telepon di mejanya yang sudah tersambung dengan kantor polisi daerah tempat tinggal mereka. Mereka berhak lega karena Anto telah bebas, dan keluarga korban tak menuntut lebih karena telah mendapat ganti rugi yang cukup besar. Bagus terkulai lemah di lantai, dia tak tahu bagaimana harus bereaksi? Senang kah karena anaknya bebas? Sedihkah karena tak bisa menjaga dua keponakannya? Atau marahkah karena perbuatan anaknya, yang membuatnya seolah menjadi orang jahat dengan mengorbankan keponakannya dirawat orang lain? Yang Bagus tahu, hatinya hancur saat ini! *** Rumah keluarga Bagaskara, adik Bagus tampak sepi, hanya Darren yang seolah mencari kedua adiknya dengan berjalan di sekitaran rumah, mendorong pintu yang satu dan lainnya. Membuat Bagus kian terisak. “Pak, bereskan barang-barang, kita pulang sekarang,” ucap Rukmi. Bagus hanya mengangguk lemah. Lalu terdengar ketukan pintu utama. Rukmi membukanya dan muncullah seorang pria yang mungkin seusia dengan Bagaskara adik iparnya. “Maaf, siapa ya?” tanya Rukmi. “Saya Rian, teman dari mendiang Bagaskara,” ucap pria itu. “Oh silakan masuk,” ucap Rukmi. Bagus menyalami Rian, dia ingat kemarin saat prosesi pemakaman, pria itu sangat membantu semuanya sampai selesai, dia tahu Rian adalah sahabat Bagas dan juga rekan kerjanya sejak lama. Rian duduk di sofa tunggal. “Kedatangan saya kesini, untuk menawarkan sesuatu,” ucap Rian. “Menawarkan apa?” tanya Rukmi. “Mbak dan Mas pasti butuh biaya untuk membesarkan Darren, bagaimana jika saya membeli rumah ini dan isinya, nanti Mas bisa membeli sawah di kampung halaman dan membiayai Darren, daripada rumah ini jatuh ke tangan orang yang tak bertanggung jawab?” ucap Rian. “Pak,” panggil Rukmi. Bagus menoleh ke sang istri yang memintanya bicara empat mata. Rian mengerti dan membiarkan kedua orang itu masuk ke dalam sementara dia menemani Darren bermain seraya memeluknya dan menitikkan air mata. “Nasib kamu Nak, sayang, sudah terpisah dengan orang tua, kini terpisah dengan adik kamu sendiri, seandainya Om bisa merawat kamu,” ucap Rian seraya menyusut air matanya. Hingga Bagus dan Rukmi yang tampak telah berdiskusi itu pun menyetujui Rian untuk membeli rumah milik adik mereka itu. Rian pun menjelaskan mekanisme pembelian itu dan dia yang akan mengantar uang secara cash karena Bagus dan istri tak mempunyai rekening. Dia juga membantu mengepak baju-baju Darren dan adik-adiknya, juga baju orang tuanya untuk dibawa oleh Bagus dan istri, beberapa barang penting peninggalaan Bagas pun ikut dipacking oleh Rian. Dia tahu mungkin ini adalah cara terakhir dan terbaik yang bisa dilakukukan untuk Darren. Dan jika waktunya nanti tepat, dia akan memberitahukan semuanya. ***  Bersambung dalam waktu yang tidak ditentukan ^^, mohon dukungannya untuk memberikan love (add to library) dan juga komentar yang buanyakkkk ^^ tapi ingat tahan jari yaa jangan berkomentar yang menyakiti ^^ be humble, be wise and always to be a lovely person ^^ see you next time :D
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN