Waktu, pada akhirnya, adalah seorang penyair yang paling jujur. Ia menuliskan bait-baitnya melalui kerutan di sudut mata, melalui uban yang memutih seperti kapas, dan melalui langkah kaki yang tak lagi segesit dulu. Namun, di dalam apartemen yang telah menjadi saksi bisu selama puluhan tahun itu, cinta tidak pernah menjadi antik. Ia justru bertransformasi menjadi sesuatu yang abadi. Ayla duduk di kursi goyangnya, memandangi langit Jakarta dari balkon lantai dua belas. Pagi ini, udara terasa sedikit lebih bersih setelah hujan semalam. Di pangkuannya, terdapat sebuah album foto fisik—benda yang kini dianggap kuno oleh generasi masa kini, namun bagi Ayla, itu adalah tabung oksigen bagi ingatannya. "Masih melihat foto itu, Ayl?" suara Reza terdengar dari arah dapur. Reza muncul dengan na

