Shanum baru saja menidurkan Zayn. Ia tak bisa menolak, saat bocah kecil itu ingin tidur bersama dengannya. Jujur, ia juga sangat merindukan Zayn. Bocah kecil yang sudah memikat hatinya sejak pertama kali melihatnya di sekolah tempat ia bekerja dulu. Bocah kecil ini juga yang mempertemukan dirinya dengan pria yang mampu membuat jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya. Shanum menarik selimut untuk menutup tubuh mungil Zayn, lalu mengecup keningnya. “Selamat malam, Sayang. Semoga malam ini kamu mimpi indah.” Shanum tak menyangka, jika keputusannya untuk tinggal di rumah ibunya sudah membuat hati bocah kecil itu terluka. Apalagi saat bocah kecil itu mengatakan, kalau kemarin malam Zayn bermimpi tentang dirinya. Maafin Bunda, Sayang. Maaf, karena Bunda sudah egois. Shanum lalu be

