Mungkin bagi orang lain rumah tempat untuk pulang. Tapi tidak bagi Senja. Rumahnya seperti gudang rasa sakit yang dia alami.
Cercaan, caci makian, dan celaan ia terima dari setiap anggota keluarganya. Selalu seperti itu sejak kejadian beberapa tahun yang lalu.
Miris memang. Ketika orang lain bersenda gurau dengan keluarganya, ia malah diperlakukan seperti benalu di keluarganya sendiri. Tak ada yang menerimanya.
Lalu kenapa Senja masih berada di sana? Bisa saja Senja pergi dari rumah. Namun, ia ingin berusaha memperbaiki semuanya.
"Berapa kali gue bilang? Jangan pernah lagi ngasih kita hadiah!" hardik Vania.
Senja yang hendak memberikan kedua kakaknya hadiah, tidak jadi karena mereka menolak. Lebih tepatnya tidak sudi menerima hadiah darinya.
"Aku cuma kasih ini, untuk yang terakhir kali. Aku janji gak bakalan lagi kasih kalian hadiah, terima ya, Kak?" mohon Senja.
"Apa lo tuli? Perlu gue perjelas lagi?Jangan pernah kasih kita hadiah!" tekannya dengan intonasi yang mengeras.
Tapi Senja tidak menyerah. Ia terus memberikan sebuah kotak kecil yang berisi dua jam tangan itu pada Vania. Karena ini adalah kesempatan terakhirnya, dia tidak tahu apakah tahun depan masih bisa memberikan keduanya hadiah atau tidak.
"Gue gak mau terima hadiah itu, lebih tepatnya gak sudi menerima hadiah ulang tahun dari seorang pembunuh kayak lo." Vania menepis kotak itu hingga terjatuh ke lantai.
"Dasar penghancur!"
Senja menatap jam tangan itu dengan nanar. Ternyata bukan hanya ponselnya yang menyedihkan. Jam tangan itu pun ikut menderita. Ia sama sekali tidak kesal, dia hanya kecewa. Ya, kecewa pada dirinya sendiri.
Diambilnya jam tangan itu. Lalu, Senja kembali ke kamarnya dengan murung. Dia menghela napasnya ketika sadar akan keretakkan pada salah satu jam tangan itu.
Tes!
Dengan cepat Senja mengelap jam tangan yang tertetesi darah dari hidungnya. Darah itu keluar lagi. Terlalu sering hingga bosan rasanya dia membersihkan hidungnya sendiri.
Mau tidak mau Senja harus ke kamar mandi untuk membersihkannya. Setelah itu ia pergi tidur. Mengistirahatkan dirinya untuk menghadapi hari esok. Hari esok akan lebih melelahkan daripada hari ini. Bahagia juga butuh tenaga, bukan?
***
Raksa berjalan dengan cool-nya melewati para siswi yang tengah menatapnya secara terang-terangan. Raksa bagaikan emas yang ada di tumpukkan pasir. Seperti itulah gambarannya saat ini. Ia berkilau di antara banyaknya murid di koridor. Padahal masih pagi, tapi para siswi sudah disiguhi sarapan mata.
Andai kata Raksa itu ramah, pasti mereka akan secara terang-terangan untuk mendekat. Sayangnya, cowok itu seperti tak tersentuh. Hanya Senja yang bisa tahan dengan sikap dingin Raksa. Hebat jika Senja bisa merobohkan dinding es yang cowok itu bangun.
Raksa itu baik pada orang-orang tertentu. Ia tipe orang yang pemilih untuk diajak bicara. Jika orang itu bertele-tele, maka selesai'lah. Raksa tidak akan pernah berbicara dengan orang itu lagi.
Seperti halnya Senja, inilah alasan Raksa tak acuh pada gadis itu. Ucapan yang Senja keluarkan dari mulutnya sangat tidak berfaedah.
Baru saja Senja terlintas di pikirannya, gadis itu sudah menampakkkan diri di sampingnya. Lihatlah! Dia bersikap seperti tidak mempunyai salah apapun. Jelas-jelas kemarin gadis itu membuatnya marah. Senja kembali pada sikapnya yang riang.
"Gimana tidur lo, Sa? Nyenyak?" tanya Senja.
"...."
"Soal kemarin itu, gue minta maaf," sesal Senja.
Wajah Raksa lurus ke depan. Tak sama sekali meliriknya. Dengan cepat Senja menghadang cowok itu dan-
Duk!
"Awwhh...," Senja meringis, memegang dahinya yang bertubrukan dengan dagu tegas cowok itu. Sama halnya dengan Raksa, dia juga memegang dagunya yang kesakitan.
"Kenapa lo selalu buat gue kesel?" jengah Raksa.
Senja yang tadinya meringis, kini malah terkikik geli. Menurutnya wajah Raksa ketika marah itu lucu. Ya, hanya Senja yang akan berpikir demikian.
"Cewek aneh," cetusnya sebelum berlalu begitu saja melewati Senja.
Senja berbalik, menatap punggung lebar cowok itu. Senyumnya tak pernah hilang ketika matanya melihat sosok Raksa.
"RAKSA, SARANGEEE!!!" teriak Senja tak tahu malu. Padahal banyak orang di koridor yang tengah memperhatikannya.
Karena Senja sudah melihat Raksa, ia pergi ke kelasnya dengan langkah riang. Dia senang bukan main bertemu dengan Raksa pagi ini. Sepertinya cowok itu adalah sumber bahagianya. Senja yakini itu.
***
Bau sedap makanan lezat menelusup ke hidung Senja dan Elijah. Kini mereka ada di kantin, dan di hadapkan dua mangkuk bakso di meja mereka.
Tentu saja Senja mau ke kantin, soalnya Raksa hari ini juga pergi ke kantin. Tidak biasanya jika mengingat cowok itu jarang sekali duduk di kantin.
Mereka berdua asik melahap bakso. Tetiba, seseorang duduk di depan Senja hingga menjadikannya pusat perhatian. Dia Aster. Sekarang tengah tersenyum pada Senja.
Bukannya terkejut, Senja malah ikut tersenyum menyambut kedatangan cowok itu.
"Hai, bro!" sapa Senja yang terlihat bodo amat dengan keadaan sekitar. Padahal Orang-orang sudah berbisik membicarakannya.
"Tumben lo ke kantin, Ja?"
Senja cengengesan sembari menunjuk Raksa yang duduk tak jauh darinya. Aster menoleh pada arah telunjuk gadis itu sebentar. Lalu, Aster mengangguk paham.
Sementara Elijah mematung melihat betapa tampannya Aster ketika dilihat dari jarak sedekat itu. Kata siapa Aster kasar? Jelas-jelas Aster melemparkan senyuman manis nan berkarisma pada Elijah.
Aster terkekeh melihat ekspresi Elijah. "Kenapa tuh temen lo?"
"Biasalah... Dia kena sindrom cogan," jawab Senja. Dia tidak terlalu memperdulikannya karena Elijah memang tipe cewek yang tidak bisa biasa-biasa saja melihat cogan.
Elijah hampir menjerit saat melihat Aster tersenyum. Ternyata dugaanya salah, Aster tak semenyeramkan yang dia bayangkan.
"Ja, kenapa lo bisa seakrab itu sama kak Aster?" pekik Elijah.
Senja mengedikkan bahunya.
"Wah, Ja! Ibaratnya gini, lo gak dapet emas, tapi malah dapet berlian. Sama halnya dengan, lo gak dapet Raksa tapi lo dapet kak Aster. Gila gak tuh?" heboh Elijah.
Sementara di tempat lain, Raksa mengepalkan tangannya saat memperhatikan Senja yang terlihat begitu akrab dengan Aster. Entah apa yang membuatnya kesal, yang jelas dia tidak terlalu menyukai kedekatan mereka. Hatinya mulai aneh.
"Gue kira Senja gak deket sama cowo lain selain lo, Sa," ujar Ervin yang ikut memperhatikan mereka.
"Gak salah sih, Senja'kan orangnya humble. Gak pernah tuh gue liat dia gak senyum lama-lama," timpal Alga.
Ervin mengangguk, ia setuju dengan pendapat Alga. Senja itu tipe cewek yang ramah ke semua orang. Orang-orang tertentu tentunya. Cewek itu tidak akan bersikap ramah pada orang yang menyainginya, siapa dia? Amara. Senja benci pada Amara karena terlihat jelas cewek itu menyukai Raksa.
Alga menyadari perubahan raut wajah Raksa. Alga yakin, Raksa sekarang mulai merasa tersaingi meskipun hal itu bukanlah pertandingan.
"Sabar, Sa! Dia gak bakalan berpaling ke lain hati." Alga menepuk-nepuk pundak Raksa, tapi cowok itu tepis sebelum pergi meninggalkan kantin.
"Ada yang kebakar tuh hatinya," ledek Ervin, tentu saja ledekan itu ia keluarkan setelah Raksa pergi. Mana berani ia meledek temannya itu dengan terang-terangan.
Senja melihat kepergian Raksa. Dia dengan buru-buru menyeruput minumannya. Detik kemudian dia meninggalkan Aster dan Elijah yang dari tadi mengoceh. Terdengar protesan mereka tapi Senja menghiraukannya.
Senja mengikuti langkah Raksa menyusuri koridor. Punggung cowok itu ia rekam di memorinya. Senyuman masih terukir di bibirnya. Seperti yang kalian tahu, Sosok Raksa adalah sumber kebahagiaannya.
"Balas perasaan gue, Sa. Dikit aja," batinnya. Senja sangat berharap bisa memiliki Raksa.
"RAKSA!" panggilnya.
Raksa tidak menoleh, ia terus berjalan.
"RAKSA!"
Masih tetap sama.
"KALO LO TERUS JALAN, ITU ARTINYA LO SUKA SAMA GUE!" teriaknya dengan lantang. Untung saja mereka berada di koridor yang sepi.
Raksa terus berjalan dan itu mengundang keanehan bagi Senja. Tidak ada tanda-tanda cowok itu menghentikan langkahnya. Senja sampai menutup mulutnya sendiri dengan sebelah tangan.
"Gak mungkin'kan dia suka sama gue?" gumamnya.
Senja menghela napasnya kecewa saat Raksa menghentikan langkahnya. Dengan cepat ia berlari dan berdiri di hadapan Raksa.
"Lo mau kemana?" tanya Senja.
"Toilet."
"Ikut."
Raksa langsung menatapnya dengan tajam. Tapi Senja malah terkikik geli. "Lo malu ya...?" godanya.
Raksa memalingkan wajahnya kearah lain saat Senja menatapnya dengan tatapan jahil.
"Ayo! Gue anter lo ke toilet!" ajak Senja tak tahu malu.
"Lo gila?"
Senja menggeleng dengan polos.
"Kalo gitu, jangan ikut gue!" larang Raksa.
"Gue tungguin lo di luar, ya?" bujuk Senja.
"Gak!" Raksa menyingkirkan tubuh ramping Senja yang menghalangi jalannya.
Sudah dilarangpun, Senja masih saja membuntutinya ke toilet. Saat sampai di depan pintu yang bertuliskan toilet pria, Raksa berbalik.
"Diem di sini!" titahnya sebelum masuk ke toilet.
Senja manggut-manggut dengan patuh. Dia tetap diam menunggu Raksa di depan pintu kamar mandi sampai cowok itu kembali keluar.
"Sekarang mau kemana?" tanya Senja.
"Ke kelas."
Sampai di kelasnya, Senja masih tetap membuntuti Raksa. Helaan napas jengah membuat Senja kembali cengengesan.
"Mau sampai kapan lo ikutin gue?"
"Sampai lo masuk ke kelas lo dengan selamat."
"Udah'kan?"
Senja mengangguk. "Kalo gitu gue pamit dulu ke kelas ya, my hani bani wup?"
Senja mulai meninggalkan Raksa dengan berjalan mundur. Dari kejauhan Senja menciptakan bentuk lope dengan kedua tangannya dan berteriak, "I LOVE YOU!"
Raksa mendengus melihatnya. Namun, bibirnya membentuk senyum yang sangat tipis setelah Senja benar-benar hilang dari pandangannya.
***
Baru saja Senja memijakkan kakinya di teras rumahnya, Vania sudah berdiri dengan bersedekap d**a. Ekspresinya terlihat marah. Senja tidak tahu apa penyebab kemarahannya itu.
"Murahan banget lo," cela Vania.
Senja heran. "Maksud Kak Vania apa?"
"Setelah Raksa, siapa? Aster? Lo mau embat mereka berdua sekaligus, Ja? Lo bener-bener ya?" cercahnya dengan kasar.
"Aku bener-bener gak ngerti apa maksud kakak." Senja berjalan melewati Vania, namun tangannya tiba-tiba dicengram dengan keras.
"Jangan deketin Aster lagi!" larang Vania.
"Tapi kak Vania gak berhak larang-larang aku buat deket sama siapapun!" balas Senja.
"GUE BILANG JANGAN DEKETIN DIA LAGI!"
PLAK!
Mata Senja spontan terpejam. Ia merasakan perih di pipinya akibat tamparan Vania. Sudut bibirnya juga berdarah. Entah apa yang membuat kakaknya bisa semarah itu. Senja sama sekali tidak mengerti.
"Kalo gue lihat lo deket lagi sama Aster, gue gak akan segan-segan buat sakitin lo!" ancam Vania penuh penekanan sebelum berlalu dari hadapan Senja yang tengah mematung.
Tanpa Senja sadari, sedari tadi seseorang tengah memperhatikannya dengan mengepalkan kedua tangannya. Hatinya ikut meringis kesakitan melihat Senja dalam keadaan seperti itu. Tapi ia tidak bisa memperlihatkan secara gamblang karena hatinya dipenuhi kebencian. Dia Vano, kakaknya.
Senja memegang pipinya dan meringis. Bukan hanya pipinya yang perih, hatinya juga. Semua orang begitu membencinya. Dalam hal itu ia tetap bersyukur, mungkin kepergiannya nanti tidak akan menjadi luka untuk mereka.
"Teruskan rasa benci kalian, agar aku bisa pergi tanpa meninggalkan luka."