Kutatap wajah lusuhku di cermin berbingkai 'pasti mahal'. Perlahan aku menyisir rambutku. Jika keadaan susah dan menghimpit seperti ini, biasanya ibu Ratija akan mendekatiku, menyisiri rambutku, aku bisa melihat wajah tuanya. Lewat suara tuanya yang lembut, berpadu dengan mata teduhnya, dia akan mampu mengorek semua isi pikiran dan jiwaku yang sesak. Ibu Ratija. Aku ingin sekali kau menyisir rambut kusutku, dan meringankan semuanya kesesakan kepala dan jiwa ini. Aku lelah sekali. "Qon?" pak Jan mengetuk pintu. Dengan cepat aku ambil jilbabku. Ku lirik jam di penyerentaku. Ha? Jam 11.00 mau apa, dia? Tapi sebelum pikiranku bersilmulasi maca-macam, kudengar lagi suara pak Jan. "Makanlah, Qon...!" Makan! Ah ya aku belum makan malam karena pe

