Bintang terang hanya terlihat dalam kegelapan. "Sebelas.... Sebelas... oh sungguhkah ini kamu Sebelas?" berulang kali dokter Rut mendesah, tersenyum takjub, aku takkan salah dengan mataku, bahwa dia adalah sepertinya sedang mengaggumiku, sebagai ciptaannya. Dia lalu mengeluarkan semua makanan yang ada di kulkas, lalu memasaknya dengan cara yang instan. "Sebelas, sebelas... sulit aku mempercayai apa yang sedang kualami kini." Berulang kali dia menyebut panggilanku dulu. "Kini aku punya nama, dokter Rut." Kulihat dokter Rut sedikit terkejut. "Namaku,Yusuf, dokter Rut." Koreksiku. Lagi. Tentu saja aku merasa risih dipanggil dengan deretan angka. Tapi dokter Rut terus menyebutkan angka sial itu. Sebelas. "Kenapa dokter Rut t

