Hanya jiwa pasrahlah yang dapat berdamai dengan rasa sakit **** Di saat tak tepat, Aku menjadi si pangeran malang, yang terjebak siklus biologis. Siklus kutukan, membuat aku lemas ditebing takdirku. Terkapar lunglai setelah kejang karena emosi jiwaku memaksa kulitku meluruh. Lalu hujan asam turun mengguyur tubuhku. Kecepatan kereta yang 100km/jam membuat air hujan yang menabrak tubuhku terasa seperti hujan jarum yang turun dari neraka. Tajam, keras, asam, menambah kesengsaraan. Aku masih setia menempelkan head set di telingaku. Berharap telpon genggamku menangkap sinyal. Berharap aku bisa mendengar suara Qonita lagi. Aku yang kini cerdas, seperti manusia bodoh. Tentu saja aku tahu jarak dan perbukitan yang memisahkan kami mem

