Bab 6

1123 Kata
Jam sebelas Rahma sudah sampai tempat bosnya, acara tinggal satu jam lagi. Rahmapun meminta sopir mobil box itu untuk mengangkut semua barangnya dan membantu menyusunnya. Barang-barang peralatan rumah tangga yang dibelinya dionggokkan begitu saja di gudang, nanti selesai menata makanan dia akan merapikannya. Makanan sudah terhidang di meja makan yang dialasi taplak meja cantik yang dibelinya kemarin. Setiap sudut ruangan dihiasi bunga-bunga plastik yang indah. Ruang tengah dipasang permadani cantik yang juga dibelinya kemarin. Delapan buah kursi cantik disusun di halaman belakang yang cukup teduh oleh rimbunan pohon ketapang. Empat buah meja kecil di letakkan di sudut ruangan, diletakkan juga berbagai macam minuman soda dan teh kemasan botol, tak lupa kue-kue yang dibuatnya diletakkan di piring keramik cantik, dilapisi plastik mika. Gelas-gelas piala diletakkan di meja terpisah. Buah-buahan dan es buah diletakkan di dekat hidangan utama. Ah ... beres! Tinggal nunggu tamunya datang. Sebuah nada notifikasi terdengar dari ponselnya, dari bosnya. Woow, rupanya banyak sekali panggilan tak terjawab dan SMS yang bosnya kirimkan. Yah, bagaimana mau menerima telpon atau balas SMS, diakan sedang sibuk? (Kami berangkat dari kantor jam dua belas. Bagaimana? sudah siap?) Jam 11 (Bagaimana? sudah siap belum? Kenapa ditelpon gak jawab-jawab?) jam 11. 25 (Woi ... angkat ngapa telponnya! Awas ya kalau sampai acaraku ini gagal, terima konsekuennya) jam 11. 45 (Woi, Balas!!) Jam 11. 47 Rahma tertawa ngikik melihat kecemasan bosnya. "Tuh, lah. Suka meragukan kemampuan dan profesionalisme seorang Rahma, sih? Jadi salting sendiri kan?" gumam Rahma sambil membalas SMS bosnya. (Ready, Bos. Come on go ... go ...go!!!) Balasan SMS Rahma langsung dibaca, tetapi tidak dibalasnya. Sambil menunggu tamu agung datang, Rahma menyapu dan membersihkan ruangan yang sekiranya masih kotor. Rasanya badannya sudah pegal sekali pengen dibawa baring, tapi dia gak enaklah sama bosnya, jadi ya ditahan-tahan. **** Terdengar deru suara mobil dan motor yang memasuki halaman. Rahma segera berlari membuka pintu. Tampak Bastian dan Romi datang duluan, berjalan cepat ke dalam rumah, Rahma segera menyongsong bosnya itu. "Gimana? Benar sudah siap?" tanya Bastian tanpa basa-basi. "Silahkan diperiksa sendiri, Bos," jawab Rahma dan berlalu kebelakang untuk menyimpan sapu yang digunakannya tadi. "Wah ... perfekto, Bro!" pekik Romi melihat dekorasi rumah Bastian. "Ini bukan makan siang biasa, it is a party! Emejing," lanjutnya. Bastian hanya mengangguk-ngangguk sambil berkacak pinggang. "Lumayan," gumamnya. " Rom, ayo sambut klien kita," lanjut Bastian. Romi segera menuju ke ruang depan, menyambut kliennya dan beberapa pegawai yang ikut serta. Bastian sendiri menuju hidangan utama, diperiksa lauk di wadah satu persatu dan dicicipinya. ‘Lumayan, hampir mirip sama masakan restoran,’ batinnya. "Bos, tugasku sudah selesai, kan? Aku pergi sebentar ya, mau menjemput Alif," kata Rahma menghampiri Bastian. "Apa? Kalau ada yang butuh dilayani bagaimana? Nanti kusuruh pegawaiku saja yang jemput," kata Bastian sambil berlalu menyambut tamunya. Rahma hanya mendesah sebal melangkah kearah dapur. "Aish, sebentar doang aja gak boleh, gimana nih aku? Sudah kangen banget sama Alif," keluhnya. Para tamu sudah masuk semua ke ruangan, mereka mulai memakan hidangan ringan sambil bercengkrama. Silvia yang ikut datang, memasang aksi bak nyonya rumah. Semua tamu ditawarinya makan, minum atau camilan. Dia bahkan menerangkan makan siangnya itu dengan detil, seolah-olah dia yang memasak. Sedangkan Bastian sibuk mengobrol dengan Bos pemilik Mall. "Maaf Pak Bas, apa tidak disediakan asbak?" tanya Bos Mall itu "O, maaf, sebentar ya, Pak.” Bastian segera ke dapur mencari Rahma. Setelah ketemu, disuruhnya Rahma membawa asbak ke meja di taman belakang. "Bro ... eh, Bro!" panggil Romi antusias. Disejajari langkah Bastian. "Siapa dia, Bas?" tanya Romi sambil menepuk punggung Bastian. "Siapa?" "Itu yang barusan ngobrol sama elu, Bro,” kata Romi sambil menghentikan langkah. “Yang mana?” “Eitdah, cewek barusan, yang pakai jilbab maroon itu, loh.” Romi menunjuk ke arah Rahma. "Oh ... itu? Itu pembokat gue," jawab Bastian santai "Jadi ... jadi itu pembokat elu?" "Iya, emang kenapa?" tanya Bastian sambil mengernyitkan dahi. Bastian merasa heran dengan pertanyaan Romi, roman-romannya ada apa-apa nih? "Aduh, Bro. Kenapa gak bilang punya pembantu kayak gitu? Wanita kayak gitu, Bro, tipe ideal calon istri gue," kata Romi bersemangat. "Ha?" Bastian mengernyitkan dahi mendengar perkataan Romi "Sepertinya gue jatuh cinta ini, Bro." Romi menatap Rahma dari jauh sambil berdecak kagum dan menggeleng-gelengkan kepala. "What? Elu jatuh cinta sama pembokat gue?" tanya Bastian "Iya, emang kenapa? Dia cuma pembokat elu, kan? Bukan pacar atau bini elu?" Romi menatap Bastian heran. "Elu gak bakal ngomong gitu kalau tahu dia sudah punya anak." "Ha? Dia sudah nikah, bro? Sudah punya suami?" tanya Romi, ada gurat kecewa di matanya. "Dia sudah punya anak, tapi belum pernah nikah dan gak punya suami. Elu bayangin gimana parahnya perempuan itu, emangnya Ibu lu bakal ngijinin? Gue tahu gimana kolotnya ibu elu itu," kata Bastian Suasana hati Romi yang sempat kecewa, kembali berbunga-bunga. Dia tidak mengindahkan perkataan Bastian. "Ahayyy, yang penting dia masih singel, Bro. Gue bisa bedain mana berlian mana batu sungai. Kalau dia bisa jadi milikku, aku gak bakal kekurangan. Memasak dan membuat acara kekgini aja dia bisa, mana masakannya enak lagi, pasti dia bisa mengurus rumah tangga dengan baik, kalau soal dia punya anak, itu berarti bonus ... ha ... ha ...." Romi tertawa gembira. Kata-kata Romi benar-benar mempengaruhi Bastian, tiba-tiba saja perasaannya menjadi tidak enak. Dia tidak menyadari apa yang dirasakannya, tetapi dia benar-benar tidak suka dengan ucapan Romi. Melihat wajah Romi yang berbinar-binar seperti itu rasanya dia ingin sekali menghajar lelaki di hadapannya itu. Entahlah, mendadak dia jadi benci banget sama Romi. "Pak Bos, ini sudah jam satu. Saya ijin sebentar mau jemput Alif. Mana katanya pegawaimu yang mau jemput?" tanya Rahma menyadarkan Bastian. 'Ah, iya ... kenapa aku lupa menyuruh seseorang menjemput anak pembatu ini,' batin Bastian. "Aku saja yang jemput anak kamu, di mana sekolahnya?" tanya Romi, dia langsung gerak cepat mengambil kesempatan. "Benarkah? Terima kasih, ya? Dia sekolah di Manhaj SDIT Annur," kata Rahma dengan wajah berbinar. "Ya sudah, aku tahu tempatnya," kata Romi berlalu pergi, tak lupa mengerlingkan mata ke arah Rahma. Romi benar-benar senang, dia melangkah ke mobilnya sambil bersiul riang, ini adalah kesempatan agar dia bisa PDKT dengan anak Rahma, kalau anaknya merestui, kan jalannya jadi lebih mudah. Berbeda sekali dengan yang dirasakan Bastian, lelaki itu mendengus sebal dan tersenyum sinis melihat Rahma. 'Ngapain lagi nih orang? Tiap hari mukanya kok sangar gitu,' batin Rahma sambil berlalu dari hadapan Bosnya. Melihat sikap Rahma yang cuek seperti itu, justru Bastian bertambah dongkol. "Mbak ... mbak! Minta tisue, mbak," panggil salah satu pegawai wanita. Mereka duduk melingkar sesama pegawai wanita. Dandanan mereka yang modis seperti artis dan foto model membuat Rahma salut, berapa lamalah mereka ini dandan seperti itu. "Sebentar ya, Bu." Rahma segera beringsut menuju dapur mencari stok tissue yang kemarin dibelinya. "Siapa perempuan itu?" tanya Nina, staf bagian perencanaan kepada Lusy si wanita yang meminta tissue itu. "Itu Babunya Bos." Silvia yang menjawab.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN