Setelah di usir Bella, Rahma turun ke lantai dua. Dia tidak tahu ruangan apa di lantai dua ini, namun papan penunjuk jalan menunjukkan lantai dua ini sebagai poliklinik. Pantasan suasananya ramai, banyak orang yang akan berobat tengah duduk-duduk di ruang tunggu menunggu giliran. Rahma ikut duduk bersama mereka, tatapannya benar-benar kosong. Pikirannya hanya terpusat pada Bastian. 'Ya Allah ... Bos. Kenapa keadaanmu parah begitu? Mana kau koma lagi. Hiks ... hiks ....' Tanpa terasa dia sudah terisak-isak menangis, menarik perhatian orang-orang yang duduk di sebelahnya. "Ada apa, Mbak? Kenapa menangis?" tanya seorang bapak di depannya. "Yang sabar ya, Mbak. Mbak sakit apa?" tanya seorang ibu yang di sebelahnya, Rahma tidak menjawab tetapi tangisnya malah semakin kencang. "Mungkin saki

