"Alif ... sebenarnya Bunda Rahma bukan ibu kandung Alif," kata Fitri dengan suara lembut. "Apaaa??" Selembut apapun nada bicara Fitri, tapi berita itu bagai gelegar petir di telinga Alif, menggungcang jiwa kecilnya, sehingga tubuh kecilnya meluruh bersimpuh ke tanah. "Tante Fitri bohong, kan? Tidak mungkin Bunda bukan ibu kandung Alif." Tangis anak itu pecah, ditangkupkan kedua tangannya ke wajah yang ditopang kedua kakinya. Fitri sudah menduga semua ini pasti terjadi, tapi dia harus bisa membesarkan hati anak itu. Diraihnya kedua tangan anak itu, kemudian dipeluknya anak itu dengan erat, diusap air mata yang membasahi pipinya. "Alif, kamu harus tenang, sayang. Demi Bunda ... kau harus tahu kenyataannya dari sekarang, karena akan ada badai yang akan menghantam kalian berdua," kata

