Tidak bisa memasak

1053 Kata
Di ruang kerja minimalis itu kini Revan sedang berkutat dengan pekerjaanya yang menumpuk. Karena mempersiapkan pernikahan dengan Maurren tempo-tempo hari lalu membuatnya banyak menunda pekerjaan sampai menggunung seperti ini, ingin melimpahkan pekerjaannya pada sekretaris ia tak tega sebab sekretarisnya juga sedang banyak pekerjaan karena ulahnya dan akhirnya kini ia harus menanggung semuanya sendiri. Tok.. tok.. Pintu ruangannya diketuk, Revan menoleh sebentar lalu berucap. "Masuk" Pintu terbuka dan disana sudah berdiri Alea dengan kemeja putih kebesarannya yang ia pakaikan semalam pada gadis itu, jika mengingat hal kemarin ia menjadi canggung sendiri. Jujur Revan bukanlah pria baik-baik yang tak pernah melihat tubuh polos wanita namun kemarin itu beda sebab yang ia lihat bukan tubuh p*****r yang menawarkan dri padanya melainkan tubuh polos istrinya sendiri, perempuan yang sudah sangat sah dan tak haram baginya untuk menyentuh Alea. Tapi ia menolak, Revan menyakinkan dirinya untuk tak membawa perasaan ataupun nafsu pada pernikahan singkat ini nantinya. "Ada apa?" Tanya Revan dengan matanya yang masih sibuk dengan berkas di depan mejanya. Alea maju beberapa langkah mendekat pada meja yang sedang di duduki Revan. "Bicaralah cepat aku sedang sibuk" ucap Revan lagi. Bibir Alea seolah kelu perempuan 25 tahun itu sangat takut meminta izin keluar pada Revan. Padahal sebelum menikah dengan Revan ia sangat bebas untuk keluar sebab kedua orang tua Alea tak pernah marah akan hal itu. Seolah mereka tak peduli dengan anak sulung mereka. "A-aku.. boleh keluar?" Tutur Alea penuh kegugupan. "Kemana?" Tanya Revan dengan aktivasnya yang sama seperti tadi "Ke kios" "Ngapain?" "Mau ketemu teman" Pria itu diam sejenak dan berucap kemudian "Pergilah" "Makasih" ucap Alea cepat lalu meninggalkan ruangan Revan. Ia pikir Revan tak memperbolehkananya pergi ternyata ia salah. Saat akan mau mandi tiba-tiba langkahnya berhenti. "Oh iya kan aku nggak punya baju, hm" gumam gadis itu pelan. Lelah dengan pikirannya sendiri ditambah takut jika minta bantuan Revan malah mengganggu dia yang lagi sibuk dengan pekerjaannya, Alea memutuskan untuk keluar dari kamar dengan tampang menyedihkannya ia duduk di depan Televisi. Tak lupa ia membuka room chatnya bersama Riri untuk mengabarkan Riri bahwa ia tak bisa keluar. Alea Ri maaf ya aku nggak bisa ke Kios sekarang tiba-tiba perut aku lagi nggak enak banget Riri Yaudah, nggak papa cepat sembuh Al ** Beberapa jam kemudian Revan yang sudah penat dengan pekerjaannya memutuskan untuk keluar dari ruang kerjanya untuk sekedar mengambil air minum. Langkahnya terhenti di dekat ruang Tv di sana ada Alea yang sedang tertidur di sofa. "Bukannya dia tadi bilang mau pergi sama temannya" gumam Revan pelan lalu melanjutkan jalannya menuju ruang dapur tujuan awalnya keluar. Setelah tuntas dahaganya pria itu kembali keruang keluarga namun kondisi tidur ALea menggagu citra matanya yang polos bagaimana tidak kemeja yang dipakai oleh Alea bergeser ke atas hingga menampakkan bagian bawah Alea yang tertutup dengan lingerie sexy yang ia pakaikan semalam. "Ck.." Lalu ia masuk kedalam kamarnya dan mengambil selimut kemudian kembali keruang TV dan menutupi tubuh Alea dengan selimut yang ia bawa tadi. Sore menjelang , Alea terbangun dan terheran melihat sebuah selimut yang menutupi tubuhnya. "Ah... aku ketiduran" gumamnya Ketika ia melihat kesamping betap terkejutnya ia bahwa di sana ada Revan yang sedang duduk dengan ponsel di tangannya. "Ya ampun" kejutnya sembari mengelus d**a. "Kek lihat hantu aja" balasnya acuh. "Kamu ngapain disini?" Tanya Alea lagi sembari duduk dan membenarkan selimut untuk menutupi pahanya yang polos. "Ini rumah aku kalau-kalau kamu lupa" Alea tersenyum kecut sembari menggosokan belakang lehernya. "Sudah nyeyak tidur?" Alea memiringkan kepalanya bingung, "Maksudnya?" "Kalau sudah buatkan aku makan" Perintah dari pria itu, dan membuat Alea sukses terkejut. "Huh?" "Kamu bisa masak?" Alea gugup ditanya seperti itu, karena ia hanya bisa masak nasi goreng dan juga mie kalau soal masak masakan berat Alea tak mampu sebab sebelumnya yang sering masak di rumah adalah pembantu yang di pekerjakan oleh orang tuanya. Bisa masak nasi goreng itu pun karena dadakan dan masakan yang paling mudah dan praktis. "Maaf, aku tidak bisa masak yang berat berat bisanya cuma nasi goreng aja sebab sebelumnya kalau dirumah yang masak bibi" "Ck, tidak berguna" Alea menghela nafasnya mendengar penuturan terakhir Revan, memang dia tidak memiliki keahlian apa-apa, selama ini apa pun selalu di kerjakan oleh pembantu di rumah. Bahkan untuk mencuci piring saja Alea tidak pernah, sangat berbeda dengan adiknya yang bisa melakukan apa pun, baik melakukan pekerjaan rumah atau pekerjaan lainnya. "Mau aku masakin mie ?" Tanya Alea. "Mm" Revan menggumam dengan fokus matanya masih dengan ponselnya. "Mm maksudnya mau? atau?" "Iya buatkan" Alea tersenyum tak bisa dipungkiri jika ia sedikit merasa lega sebab Revan tak kelaparan saat ini. "Baik, tunggu sebentar ya aku buatkan" ucap gadis itu lalu berlalu ke dapur guna membuatkan Revan sepiring mie. Sesampainya di dapur ia membuka kulkas Revan disana tak ia temui Mie lalu ia beranjak ke lemari yang berada di dekat kulkas dan beruntungnya ia bahwa Revan banyak menyetok mie, Ada berbagai macam jenis mie disana membuktikan jika Revan menyukai mie. Gadis itu terpatung ia lupa bertanya dengan Revan soal jenis mie apa yang disukai oleh pria itu. Dan saat gadis itu berbalik betapa terkejutnya ia bahwa ada Revan di belakangnya. "Oh tuhan..." Lagi-lagi Alea terkejut dan penyebab utamanya adalah Revan. "Kenapa?" ucap Revan sinis. Alea mundur beberapa langkah karena jarak mereka saat ini sangat dekat takut jika Revan mendengar detak jantungnya yang berirama terlalu kecang. "Kamu kenapa kesini?" "Takut kamu ngehancurin dapur aku" "Segitunya? kan kamu tadi pagi sudah lihat aku bisa masak" "Cuma nasi goreng anak umur 12 tahun juga bisa" "Mm" Alea menggumam dengan kepalanya yang menunduk. Sebenarnya bukan salahnya jka dia tidak bisa memasak, selain itu dia juga tidak ada niat untuk menikah secepat ini. Sebelumnya Alea sudah menata atau merencanakan hidupnya dengan baik. Dia akan menikah di umur 27 tahun umur yang menurutnya sudah matang dari sisi batin dan jiwanya. Alea juga ingin mengembangkan kiosnya dulu. Tapi karena ulah adiknya yang kabur, dialah yang menanggung akibatnya dan membuat rencana yang sudah dia susun dengan sempurna kacau dengan seketika. "Kenapa diam? mau buat aku mati kelaparan nunggu mie yang kamu buat" celoteh Revan. "Kamu suka mie yag direbus atau di goreng" Revan diam sejenak setelahnya ia mengambil dua bungkus mie di dalam lemari lalu memberikannya pada Alea. Gadis itu mengerti lalu membawa mie yang Revan buat menuju kompor dan memulai acara memasaknya. Sedangkan Revan pria itu memilih untuk duduk di kursi makan menunggu Alea siap memasak mie kesukaannya. ###
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN