Gerald datang dengan langkah keras, seolah lorong rumah sakit itu adalah miliknya. Sepatu pantofelnya menghantam lantai berulang kali, menarik perhatian perawat yang berjaga. Wajah lelaki tua itu kaku, matanya dingin ketika menatap ke dalam kamar perawatan tempat Lusi terbaring. “Apa yang kalian lakukan di sini terlalu lama,” ucap Gerald tajam sambil membuka pintu tanpa izin. “Lusi, bersiap. Kita pulang.” Lusi yang masih lemah langsung menegang. Tangannya refleks mencengkeram seprai. Wajahnya pucat, napasnya belum stabil, dan infus masih terpasang di lengannya. “Ayah,” suara Gevan terdengar lebih dulu, rendah namun tegas. “Dokter bilang Lusi harus dirawat. Dia tidak boleh pulang.” Gerald menoleh perlahan. Tatapannya jatuh ke Gevan, lalu ke tangan mereka yang masih saling menggenggam. S

