6. Hyper Micro Chipset

1081 Kata
Setelah Virus Reinka-99 pertama yang mereka temui berhasil dimusnahkan, tiba-tiba warna merah memenuhi layar monitor. "Apa ini?!" Yoland tampak cemas. "Sekarang!" seru Rico kemudian mencolok sebuah flashdisk ke CPU yang ada di bawah meja. "Fyuuhh...." Rico menghela nafas. "Kenapa, Rico?" tanya Sakti. "Aku sudah berhasil mengkompres data dari virus ini." Rico mengangkat kaca-matanya. "Untuk apa?" tanya Sakti heran. "Virus ini akan ku teliti. Siapa tahu nanti kita bisa menemukan cara agar bisa dengan cepat menghentikan penyebarannya," jawab Rico. "Lalu, warna merah ini? Apa ini termasuk dari rencanamu, Rico?" tanya Yoland. "Ya," jawab Rico, "Sebenarnya aku sudah memasang program untuk menghisap data virus yang nantinya akan kita musnahkan. Tapi, aku tidak menyangka jika kita dapat mendapatkan datanya semudah ini," sambung Rico menjelaskan. "Kalau begitu, cepat kau teliti dulu virus ini sebelum kita lanjutkan memusnahkan virus lainnya!" seru Yoland. "Akan ku periksa dulu data-datanya," jawab Rico kemudian membuka file-file dari dalam folder berformat zip yang berasal dari data virus Reinka-99 tadi, "Tidak mungkin..." Rico tercengang sekaligus menggelengkan kepalanya setelah melihat isi file dari dalam folder tersebut. "Apa yang kau temukan?!" tanya Sakti heran. "Virus ini jenis program yang belum pernah ku temui. Tapi, yang jelas..." Rico terdiam. "Yang jelas?" Sakti penasaran. "Kita bisa memakai... Maksudku, kita bisa menggunakan virus ini untuk menyerang virus lain," ucap Rico, "Lebih jelasnya, virus ini bisa kita kendalikan." Rico kembali terdiam. "Virus ini bisa dikendalikan? Itu kan, sudah jelas..." sahut Anata. "Rico, apa kau bisa mengetaui siapa yang menciptakan virus ini?" tanya Yoland. Rico menggeleng, "Aku tidak bisa melacaknya, Ketua," jawab Rico, "Perangkat yang dia gunakan sepertinya adalah hasil programnya sendiri. Dengan kata lain, dia bukan hanya menciptakan virus ini, tapi dia menciptakan makhluk hidup yang tumbuh di dalam seluruh jaringan internet," sambung Rico menjelaskan. "Jadi, itulah penyebab virus ini bisa berkembang biak dengan cepat?" tanya Sakti. Rico mengangguk, "Bahkan virus ini bisa mengumpulkan koloni untuk membuat pertahanan. Lebih jelasnya, di dalam data virus ini terdapat sebuah hyper micro chipset yang dapat membuatnya memiliki akal atau sering disebut HMC," jawab Rico. "Hyper micro chipset?" tanya Sakti bingung. "Menurut sepengetahuanku, hyper micro chipset mirip seperti urat saraf pada tubuh manusia," ucap Anata. "Kau benar," sahut Rico. "Jadi, jika hyper micro chipset ini bisa kita program ulang, maka bukan tidak mungkin kita akan dapat mengendalikan virus ini," ucap Anata. "Kalau begitu, kita lakukan bedah pada virus ini!" seru Sakti bersemangat. "Tapi, aku rasa ini akan memakan waktu yang sangat lama karena kita harus mempelajari sirkuit-sirkuit yang rumit dalam HMC ini terlebih dahulu," sahut Rico. "Kita tidak bisa membuang-buang waktu lagi, karena sepertinya virus Reinka-99 ini sudah hampir menyebar ke seluruh titik di negara kita," ucap Yoland setelah warna merah pada layar monitor di depannya sudah menghilang dan seketika melihat fitur map yang menunjukkan setiap kota di negara tempat tinggalnya memiliki satu titik merah yang kuat. "Bagaimana kalau kita membagi tugas," ucap Sakti, "Aku, Yoland, dan Pom akan memusnahkan semua virus yang kami temui. Lalu Rico dan Anata, kalian meneliti virus ini," sambung Sakti. "Sepertinya itu adalah rencana yang bagus, Sakti," ucap Yoland, "Baiklah, aku akan mulai lebih dulu!" seru Yoland kemudian kembali memainkan game yang mereka ciptakan. "Ketua sudah bergerak. Ayo!" seru Sakti. "Baiklah. Anata, tolong bantu aku jika nanti virus ini mencoba melawan," ucap Rico. "Baik!" sahut Anata. Rico dan Anata pun bekerja sama untuk meneliti virus itu. Sementara itu, Pom tak menghiraukan dan terus saja menyantap camilan makanan ringan yang ada di atas meja. "Pom! Cepat!" seru Sakti. "Iya, iya.." sahut Pom kemudian ikut bersama Sakti dan Yoland kembali memainkan game ciptaan mereka. "Kali ini aku akan memilih job penembak..." ucap Sakti pelan. "Kenapa kau tidak menggunakan job pemanah tadi saja?" tanya Yoland. "Jangkauan tembaknya terlalu pendek, aku perlu jarak tembakan yang lebih luas," sahut Sakti. "Ya sudah, terserah kamu saja," ucap Yoland kemudian menoleh ke arah Pom yang duduk bersebelahan dengannya, "Pom, apa kau sudah siap?" tanya Yoland. "Ya, Ketua. Aku sudah siap..." sahut Pom. "Sakti, tolong tunjukkan dimana lokasi virus terdekat!" seru Yoland. "Ikuti aku," sahut Sakti kemudian lebih dulu menggerakkan karakternya berjalan menuju ke titik merah terdekat yang ditunjukkan pada fitur map di layar monitornya. Kemudian Yoland dan Pom menggerakkan karakter mereka mengiringi karakter Sakti. Setelah beberapa menit berlalu, akhirnya karakter Sakti, Yoland, dan Pom tiba pada sebuah titik merah yang ditunjukkan pada fitur map di layar monitor Sakti. Pom tercengang saat melihat visual dari sekitar rumah tempat tinggalnya, "Ini kan, lokasi tempat tinggalku?!" "Kau benar, Pom," sahut Sakti, "Sebelum kita menuju ke titik merah di kota lain, di kota tempat tinggal kita saat ini pun terdapat sembilan titik merah yang tersebar," sambung Sakti. "Apa?! Sembilan?!" Yoland terkejut. "Lumayan banyak juga ternyata," ucap Pom sambil terus menyumpal mulutnya dengan camilan di depannya. "Rico, Anata, berapa lama waktu yang kalian perlukan hingga berhasil membedah virus di tangan kalian itu?" tanya Sakti. "Aku belum tahu pasti, mungkin ini bisa memakan waktu tiga hari," jawab Rico. "Tiga hari... Aku rasa itu sudah lebih dari cukup, dan kita harus memusnahkan sembilan titik merah hari ini juga," ucap Sakti pelan. "Satu hari untuk sembilan titik?" ucap Rico heran, "Sakti, tolong kamu kirim data map milikmu kepadaku." "Sebentar.." Sakti mengirim data map miliknya berupa file ke komputer Rico. "Semuanya ada sembilan puluh enam titik," ucap Rico setelah memecah data map yang tadi dikirim oleh Sakti dan menghitung jumlah semua titik merah yang ada. "Sembilan puluh enam? Kalau begitu, kita harus dapat menghabiskannya dalam enam hari!" ucap Sakti dengan yakin. "Jadi, jumlah virus yang harus kita musnahkan hari ini ada enam belas," ucap Yoland mulai bersemangat. "Benar, Ketua," sahut Sakti. "Baiklah... Rico! Kau membuat benteng. Aku dan Sakti akan berkeliling mencari virus yang ada di lokasi ini," ucap Yoland. "Siap!" seru Pom kemudian mengaktifkan skill yang membuat karakter golemnya berubah wujud menjadi sebuah bangunan benteng yang besar. "Sakti! Gunakan skill mata elang!" seru Yoland. "Mata elang?! Aku belum bisa menggunakan skill itu.. Weh!" sahut Sakti. "Lalu, bagaimana kita bisa menemukan virus di lokasi ini?" ucap Yoland bertanya. "Ketua! Ikuti aku," ucap Sakti kemudian menggerakkan karakternya berjalan memasuki benteng. "Baik," sahut Yoland kemudian mengikuti Sakti. Karakter Sakti dan Yoland berada di puncak benteng. "Ketua, aku akan memantau dari atas sini, dan setelah aku menemukannya kau harus memancingnya ke sini," ucap Sakti. "Kenapa aku tidak bekeliling saja agar virus itu menyadari keberadaan kita?" sahut Yoland. "Nah! Itu rencana yang lebih bagus," ucap Sakti. Karakter Yoland menarik pedangnya, kemudian langsung melompat dari atas benteng lalu berjalan menelusuri setiap jalan. Sementara itu, karakter Sakti terus memantau dari atas benteng besar yang merupakan wujud dari karakter Pom.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN