Percayalah, sekaya apapun, secantik atau setampan apapun, dan sesukses apapun kalian nantinya. Tetap bakalan ada yang tidak suka pada kita.
- Alessea Nichole
***
"Jangan lupa belajar ya. Satu bulan lagi kalian menghadapi UTS." Pak Juna mengingkatkan anak didiknya tentang UTS yang akan segera mereka laksanakan. Padahal rasanya baru bulan kemarin mereka melaksanakan Ujian kenaikan kelas. Sekarang mereka akan menghadapi ulangan lagi. Waktu berjalan begitu cepat.
"Baik, Pak!" Seru murid-murid serempak.
Pak Juna membereskan buku-bukunya, lalu berjalan ke tengah depan. Jam pelajaran mapel miliknya sudah berakhir dua menit yang lalu.
"Bel istirahat sudah berbunyi. Selamat Siang semua."
Setelah Pak Juna keluar, para murid berdesakan untuk keluar menuju tempat tujuan mereka. Yang kebanyakan adalah kantin.
Begitu juga dengan Alessea dan April yang berjalan menuju kantin. Di sepanjang mereka berjalan, banyak para murid yang berbisik tentang Alessea. Gadis itu hanya mencoba untuk menghiraukannya saja. Tetapi tetap saja terdengar di telinganya.
"Lo udah lihat video Dylan yang duet sama Sea belum?"
"Jadi murid baru itu namanya Sea?"
"Udah. Gila, gue sampai baper banget tahu nggak," timpal temannya sambil memegangi dadanya. Menghayati ucapannya.
"Nggak nyangka, kalau murid baru itu punya suara yang lembut kayak Seokjin."
"Jelas mirip suaranya Seokjin. Orang gue adiknya," batin Alessea tersenyum lebar karena bangga mendengar pujian dari beberapa murid.
Tak jarang juga ada yang menghujatnya. Seakan tak terima kalau Alessea yang notabenya murid baru, dengan cepat menjadi perbincangan seantero sekolah. Terlebih bukan karena kejelekannya. Tetapi karena bakat dan juga parasnya yang cantik.
Alessea dan April bergabung dengan gerombolan Dylan. Tentu saja kedatangan mereka berdua diterima dengan senang hati. Mereka berdua mencoba untuk membaur dengan siapa saja. Walaupun terkadang Alessea merasa kesal dengan gerombolan Dylan yang selalu menjahili nya.
"Kalian udah pada pesan, ya?" tanya Alessea yang melihat beberapa makanan diatas meja.
"Iya, salah lo telat datangnya." Arlan memasukan bakso ke dalam mulutnya setelah menjawab pertanyaan Alessea.
"Biar gue pesanin, Se. Kayak biasanya kan?" April berdiri, hendak melangkah menuju kedai Mbak Surti. Namun, Rolan juga ikut berdiri. Membuat semuanya bingung.
"Biar gue yang pesanin." April hanya mengangguk, kemudian kembali duduk.
"Mau makan apa?" tanya Rolan pada keduanya.
"Gue nasi goreng sama jus mangga." April menoleh ke Alessea. "Lo apa, Se?" lanjut ucapannya menanyai Alessea.
"Gue bakso sama es teh aja deh." Rolan mengangguk. Saat hendak menuju tempat makanan yang mereka inginkan, tiba-tiba Alessea berucap.
"Lan, sekalian bayarin ya?" Alessea mengeluarkan puppy eye'snya. Gaya andalannya saat dirinya hendak meminta sesuatu.
"Untung gue nggak bakalan jatuh miskin kalau cuman traktir lo." Sarkas Rolan segera memerankan makanan Alessea dan April.
Semuanya terkekeh mendengar ucapan Rolan yang tak kalah songong dengan Alessea. Mungkin karena efek temanan sama Alessea. Jadi sifat songong gadis itu menular ke Rolan.
"Bagus! Kalau gitu sering-sering traktir gue!" teriak Alessea karena Rolan sudah terlanjur menjauh.
Akibat teriakan Alessea barusan. Para pengunjung kantin menatapnya sinis. Alessea bersikap bodo amat. Membiarkan orang-orang membencinya. Toh mereka belum tahu identitas dirinya yang sebenarnya. Kalau saja mereka tahu, tidak akan ada tatapan sinis atau semacamnya yang Alessea dapatkan.
Alessea mengeluarkan ponselnya. Lalu membuka aplikasi youtube untuk streaming MV biasnya. Dirinya tak kenal tempat untuk streaming. Karena Alessea benar-benar menghargai karya idolanya. Ia tak mau mengecewakan usaha idolanya untuk bisa sesukses ini.
"Sea," panggil Alvaro, namun tak di gubris oleh Alessea. Ia terlalu fokus menonton MV DNA. Gadis itu seperti menulikan telinganya.
Dylan yang duduk di sampingnya menyenggol lengan Alessea. Hampir saja ponselnya terjatuh kalau dirinya tak langsung menggenggam erat ponselnya.
Alessea menatap kesal ke Dylan. "Kalau ponsel gue jatuh, lo mau ganti rugi?" dumelnya. Menaruh ponselnya di atas meja.
"Lo mau ponsel merk apapun gue beliin. Nggak bakal miskin juga." Alessea semakin kesal pada Dylan yang ikut-ikutan songong.
"Cukup gue yang songong. Lo semua nggak boleh," ucapnya menekan setiap kata.
Semuanya kebingungan dengan maksud ucapan Alessea. Baru kali ini, mereka menemukan makhluk spesies aneh seperti Alessea.
"Kenapa?" tanya mereka serempak.
"Karena gue nggak suka. Itu aja sih. Pokoknya kalian nggak boleh songong," tajam Alessea melipat kedua tangannya dan menaruhnya di atas meja.
Mereka semua menatap tak percaya ke Alessea. Lalu menggelengkan kepalanya. Mau heran, tapi itu Alessea.
Tak lama kemudian Rolan datang membawa pesanan Alessea dan April. Langsung saja, Alessea mengambil pesanan miliknya dan melahapnya. Mereka menatap aneh pada Alessea. Tak memikirkan bahwa dirinya sedang di tatapan teman-temannya.
Setelah selesai menghabiskan makanannya, gadis yang mendapat julukan si songong itu baru menyadari kalau teman-temannya menatap aneh ke dirinya.
"Lo semua kenapa natap gue gitu?" tanyanya sambil meminum es tehnya sampai habis.
"Lo selain songong ternyata aneh juga ya." Arlan menggelengkan kepalanya.
Alessea hanya mengendikkan bahunya. Tak peduli dengan teman-temannya. Baginya, makanan adalah teman yang sebenarnya bagi Alessea. Lagi pula, ia tak merasa ada yang aneh. Dirinya masih menggunakan tangan untuk makan. Kalau dirinya menggunakan kaki, baru teman-temannya boleh bilang dirinya aneh.
"Oh iya gue ingat, tadi siapa yang manggil gue?" tak ada yang menjawab apa yang di tanya oleh Alessea. Gadis itu jadi kesal.
"Kalian jahat banget sih sama istrinya Park Jimin."
Detik setelah itu, semuanya berpura-pura menyibukkan diri sendiri. Semakin membuat Alessea kesal.
"Gue nggak denger, gue pakai kacamata," kata Dylan yang berada disampingnya. Menatap ke arah lain.
"Gue nggak lihat apa yang dia bilang." Arlan juga ikut-ikutan. Yang lain juga mulai tertarik untuk menjaili Alessea.
"Gue sibuk menerawang masa depan." Rolan yang sedang menghabiskan makannya juga tak kalah ikutan.
Alvaro, sang Ketua OSIS itu sedang memikirkan hal yang serupa dengan teman-temannya.
"Gue ada di Merkurius. Jadi nggak tahu apa-apa."
Alessea menggeram kesal. Menggertakkan giginya. Tapi ia senang karena April tidak ikut-ikutan membuatnya kesal. Lagi-lagi, ia salah. April juga tak mau kalah dengan yang lainnya.
"Gue belum lahir ke dunia." Final April melengkapi kekesalan Alessea. Gadis itu hanya mencibikkan mulutnya.
Mereka tertawa kencang. Para penghuni kantin yang sedang menghabiskan makanannya, menatap ke arah meja gerombolan Dylan.
Entah apa yang mereka semua tertawakan, namun anehnya para penghuni kantin juga ikutan tertawa. Seakan tawa mereka semua memiliki magnet untuk menarik semua orang yang berada disekitarnya tertarik untuk tertawa.
Hanya ada satu meja yang ditempati tiga siswi yang tidak ikutan tertawa. Mereka bertiga malahan menatap sinis ke arah Alessea. Letaknya yang berada di pojok dekat pintu masuk kantin, membuat mereka leluasa mengawasi Alessea.
"Apa sih yang di miliki murid baru itu. Sampai gerombolannya Dylan mau mungut dia." Seorang gadis dengan rambutnya yang di gerai dan bermake up tebal, mengeluarkan unek-uneknya selama lima hari memantau Alessea. Panggil saja dia Sarah.
"Dia anak orang kaya?" tanya gadis berambut pendek dengan name tag Melody Faradita.
Sarah, gadis berambut panjang itu menoleh ke teman-temannya. "Tampilan kayak gitu anak orang kaya? Mata lo rabun ya, Me?" Sarkas Sarah.
Melody hanya mengendikkan kedua bahunya. Lalu menyeruput jus jeruk.
"Udahlah, Sar. Dia nggak pantes buat jadi target bullyan lo." Feny menimpali.
"Masalahnya, dia jadi dekat sama Alva. Dan gue nggak terima. Susah-susah gue deketin lagi biar bisa balikan. Nyingkirin Bulan aja belum selesai. Ini uda ada saingan lagi," geramnya membalas ucapan Feny.
"Tapi, gue rasa Alva nggak tertarik sama Alessea. Dia masih nyoba deketin Bulan soalnya. Jadi, gue rasa dia emang bukan target bullyan kita." Melody mengangguk-anggukan kepalanya. Setuju dengan ucapan Feli.
Sarah menoleh ke arah teman-temannya. Kemudian menatap ke arah gerombolan Dylan lagi. "Walaupun dia bukan saingan gue. Tapi, gue nggak Terima kalau dia bisa deket-dekan sama milik gue. Dia pantas di musnahkan." Sarah tersenyum miring.
Feli hanya memutar bola matanya. "Gue rasa, fokusin singkirin Bulan dulu. Alessea nggak penting."
Melody hanya diam. Ia bingung harus menimpali ucapan teman-temannya. Dua-duanya sama-sama kekeh dengan pendapat masing-masing.
"Gue nggak butuh pendapat lo kali ini, Fel. Jadi, kalian cukup diam dan ikutin apa yang gue mau. Lagi pula, nyingkirin Bulan susah. Apalagi dia ketua ekskul taekwondo." Sarah bergidik ngeri saat membayangkan kejadian bulan lalu. Dimana lengannya terkilir akibat mencoba melawan Bulan yang jago taekwondo.
Sarah kembali memantau Alessea yang sedang tertawa bersama Dylan dan teman-temannya. Ada rasa iri yang begitu dalam pada Alessea. Sarah iri karena Alessea dengan mudahnya bergabung dengan pasukan Dylan. Sedangkan dirinya, baru saja mendekat sudah mendapat penolakan.
"Gue punya ide," katanya mengeluarkan senyum sinis.
"Apa?" tanya Melody dan Feny bersamaan.
Sarah menyuruh kedua temannya untuk mendekat. Lalu membisikkan sesuatu pada keduanya.
Feny menatap Sarah. "Lo yakin, Sar? Gue nggak yakin." Sarah hanya mengangguk. Tak lupa dengan senyum sinisnya.
"Yakin setarus persen!"
"Ya, kalau lo yakin, kita bisa apa?"
***
Alessea dan April berjalan berdua didepan. Keduanya berbincang-bincang membicarakan sebuah drakor yang lagi booming sekarang. Sedangkan Dylan dan ke-tiga temannya berada di belakang mereka berdua. Mereka hanya diam. Memilih mendengarkan perbincangan Alessea. Tak jarang Rolan dan Arlan melancarkan aksinya. Yaitu tebar pesona ke murid-murid.
Masih ada waktu lima menit lagi sebelum bel istirahat berbunyi. Dan mereka memilih untuk kembali ke kelas. Saat Alessea dan April berbelok untuk menuju kelasnya, tiba-tiba saja Sarah dan kedua temannya secara bersamaan menyiramkan air es yang berada di gelas tepat di baju Alessea.
Mereka semua terkejut. Terlebih Alessea yang merasa kedinginan. Gadis itu mendelik karena terkejut. Alessea menatap Saran dan teman-temannya tak percaya. Ia marah.
"APA-APAAN LO?!" Tanya Alessea marah. Mereka pikir Alessea bisa di tindas? Oh kalau kalian berpikir seperti itu, berarti kalian salah.
"Ini adalah peringatan pertama karena lo dengan lancang deketin Alva," kata Sarah ketus.
Alessea berdecih. Ia maju selangkah lebih dekat dengan Sarah. Teman-temannya memilih diam walau rasanya ingin memarahi Sarah juga.
"HEH MAK LAMPIR, LO PIKIR LO SIAPANYA ALVARO? GEBETAN? PACAR? ATAU ISTRINYA ALVARO? BUKA KAN? LO ITU CUMAN BENALUNYA ALVARO!" Geram Alessea mengeluarkan semua caci maki untuk Sarah.
Mereka yang berada di sekelilingnya, terkejut saat mendengar ucapan Alessea yang terlampau pedasnya. Bahkan Dylan dan Alvaro sampai memegangi dadanya karena sesak mendengarnya. Sedangkan Rolan dan Arlan malah terkikik. April sendiri mencoba menenangkan Alessea.
Sarah di buat naik pitam oleh Alessea. Bisa-bisanya murid baru di depannya ini mempermalukan dirinya. Harusnya Sarah yang mempermalukan Alessea. Bukan sebaliknya seperti ini.
Sarah menampar Alessea cukup keras sampai menimbulkan suara. Alessea meringis memegangi pipi kirinya yang sudah memerah. Tatapannya kini berubah semakin tajam. Jangan lupakan senyum miring menakutkan itu. Membuat Feli dan Melody memilih diam karena takut.
Alvaro dan Dylan mendekati Alessea untuk melihat keadaan gadis itu.
"Se, lo nggak apa-apa? Sakit nggak?" Tanya Dylan mengusap pelan pipi Alessea.
"Lo pikir di tampar ada yang enak?" sarkas Alessea membuat Dylan menciut. Sepertinya gadis ini sedang PMS.
"Bangga lo buat gini?" Pertanyaan dengan nada serius dan penuh tekanan dari Alvaro membuat Sarah menoleh ke arah cowok tersebut.
"Jelas. Karena gue nggak suka lihat dia dekat-dekat sama lo!" Sarah menunjuk ke wajah Alessea. Membuat gadis itu semakin ingin memakinya.
"SINGKIRIN TANGAN LO DARI DEPAN WAJAH GUE!"
Refleks Sarah menurunkan tangannya. Ia tak menggubris seruan dari Alessea. Kini ia lebih terpaku dan mencoba merayu Alvaro.
"Gue tekankan lagi ya. Gue sama lo udah nggak ada hubungan apapun." Sarah menggeleng tidak setuju.
Diraihnya lengan Alvaro dengan manja. "Al, kita bisa perbaiki hubungan kita. Aku janji bakalan berubah, kok."
Alessea rasanya ingin memuntahkan makanan tadi saat mendengar ucapan Sarah. Dylan memeluk dari samping untuk membantu Alessea menahan hawa dingin. Mata Alessea membaca name tag yang terpasang dengan rapi di seragam ketiga gadis itu. Melody Aura, Felisya Sabita, dan Sarah William yang tak lain ternyata adalah mantan Alvaro. Pantas saja dia marah saat melihat dirinya berdekatan dengan Alvaro. Padahal dirinya hanya berteman saja.
Alvaro menepis tangan Sarah dengan paksa. "Gue nggak sudi balikan sama orang yang nggak bisa ngehargai dan semena-mena kayak lo," tajam Alvaro.
"Tapi gue masih cinta sama lo, Al." Kedua mata Sarah mulai berair. Begitu sakitnya ia mendengar penolakan Alvaro kali ini. Ia merasa di permalukan di sini.
"Tapi, gue nggak!"
Alessea tertawa kecil. Membuat Feli ikut geram melihatnya. "Heh Mak Lampir, lo dengar kan? Alvaro nggak sudi balikan sama lo. Jadi, mending lo pergi deh. Atau pindah ke Mars aja sekalian?" Satu alis Alessea terangkat.
"Cih, anak baru sok berkuasa," desis Feli menatap Alessea. Dan tidak di tanggapi oleh gadis itu.
"Gue bilang pergi!" Usir Alvaro kedua kalinya.
"Dan jangan ganggu Alessea lagi," sambung Dylan memperingati Sarah dan kedua temannya.
Sarah memilih pergi dari hadapan Alessea dan teman-temannya. Sepeninggalnya, banyak beberapa murid yang berbisik soal Alessea.
"BUBAR!"
"Lo nggak pa-pa, Se?" tanya Dylan yang sejak tadi cemas. Alessea hanya mengangguk, walau ia berusaha menahan rasa dingin yang masuk kedalam tubuhnya.
"Sorry ya soal yang tadi." Alvaro meminta maaf karena ulah mantannya, Alessea jadi kedinginan.
"Gue nggak apa-apa, Al. Lagian gue merasa terhibur kok. Walaupun jadi bm basah kuyup gini." Alessea tertawa kecil.
"Bisa-bisanya ketika lo di bully malah merasa terhibur." April mengangguk setuju dengan ucapan Arlan.
"Ya, gimana? Kalau gue cuman diam aja mereka bakalan semakin ngelunjak."
Benar yang di bilang Alessea. Jangan pernah mau menjadi bahan bullyan. Dan jangan diam saja kalau di bully. Berusahalah agar terlihat kuat walaupun hatinya menangis.
"Sekarang gue gimana? Nggak mungkin kan gue masuk kelas dengan keadaan basah gini?" tanya Alessea mencemaskan dirinya sendiri. Ia menunduk melihat baju seragamnya yang sudah basah kuyup.
"Gimana kalau bolos?" mata mereka semua menoleh ke arah Arlan.
Bolos?
"Boleh juga," ucap Rolan yang setuju dengan saran adiknya.
"Gue ikut." Alvaro juga tak kalah.
Alessea yang mendengarnya tak percaya dengan kalimat persetujuan dari Alvaro. Apa cowok itu lupa kalau dirinya sedang menjabat Ketua OSIS?
"Lo ikut? Bukannya lo Ketua OSIS?" tanya Alessea yang sedikit tidak setuju dengan Alvaro. Apa jadinya nanti kalau seorang Ketua OSIS ketahuan membolos sekolah?
Alvaro terkekeh. "Dua bulan lagi jabatan gue udah diganti sama yang baru."
"Itu nggak apa-apa lo bolos? Walaupun gitu, lo masih punya tanggung jawab sebagai Ketua OSIS," kata Alessea.
Alvaro terkekeh geli mendengarnya. "Tenang aja, Se. Lagi pula gue bolos nya nggak setiap hari kok. Ini pertama kalinya gue bolos sekolah setelah jadi Ketua OSIS,"
"Kalau menurut lo nggak masalah, yaudah deh." Alessea mengangguk. Saat ia hendak menanyai April, gadis itu sudah berbicara dulu. Seakan tahu apa yang akan diucapkan dirinya.
"Gue nggak mau ikut. Gue ke kelas dulu."
"Kenapa?" Tanya Alessea sedih.
"Gue sekolah lewat jalur beasiswa. Sekali bolos, beasiswa gue di pertaruhkan. Kalian bolos aja, nanti gue bawain tas kalian."
Alessea memeluk April. "Makasih April."
Setelah kepergian April yang memilih untuk tidak ikut membolos, ke-lima murid itu berlari menuju belakang sekolahan. Hanya akses itu yang dapat digunakan untuk membolos.
Mereka semua sampai diparkiran. Saat sampai di pos satpan, Alvaro yang menyetir di stop oleh Pak Adi.
"Mau kemana?" tanya Pak Adi yang menatap curiga ke Alvaro.
Beruntunglah mereka berlima sudah membuat skenario untuk membolos. Dengan Alessea yang duduk di depan dan berpura-pura sakit. Sedangkan Rolan, Arlan, dan Dylan yang duduk di kursi penumpang, menundukkan tubuhnya agar tidak kelihatan.
"Mau ngantar teman saya pulang, Pak. Dia sakit," alibi Alvaro.
Pak Adi awalnya tidak percaya. Tapi karena Alvaro tidak pernah membuat masalah selama sekolah, terlebih pemuda itu seorang Ketua OSIS dan melihat Alessea yang terpejam, membuat Pak Adi membukakan pintu gerbang sekolah.
"Hati-hati, Al," kata Pak Adi setelah membukakan pintu gerbangnya.
"Iya, Pak. Makasih banyak. Nanti bukakan gerbangnya lagi setelah saya mengantarkan Alessea pulang, ya, Pak." Pak Adi hanya mengangguk.
Setelah berhasil keluar dari sekolah, Alvaro memajukan mobilnya sedikit menjauh dari area sekolah. Lalu menyuruh Alessea berpindah ke belakang.
Kini posisisnya, Alvaro yang menyetir di temani Rolan yang duduk di sampingnya. Sedangkan di kursi penumpang ada Dylan, Alessea, dan Arlan.
"Kemana? Jangan rumah gue, ada Bunda," cegah Dylan. Bisa berabe kalau dirinya ketahuan membolos sekolah. Bakalan kena ceramah tujuh hari tujuh malam.
"kerumah gue aja. Mumpung sepi," kata Rolan di angguki Arlan.
Saat ditengah perjalanan, Alessea yang sedang fokus menonton DraKor di ponselnya, tiba-tiba Alessea merasakan pipinya yang dingin karena di tempeli alkohol oleh Dylan.
"Apa?" Bingung Alessea.
"Diam aja. Gue obatin pipi lo yang tadi kena tamparan. Pasti masih nyeri, kan?"
Alessea tak bisa berbohong. Pipinya memang masih terasa berdenyut nyeri karena tamparan Sarah yang begitu kuat.
"Hati-hati,"
"Iya-iya, bawel lo. Sini dekatan dikit," suruh Dylan.
Arlan yang tahu akal bulus dari sahabatnya itu, memutar bola matanya. Muak mendengarnya. "Dasar modus lo, Dy."
"Gue nolongin malah di bilang modus. Dasar bandit,"
Dengan telaten, Dylan mengobati pipi Alessea yang masih memerah akubat tamparan. Jarak kedua orang tersebut terlalu dekat. Alessea yang menatap ke depan dan posisi tubuh Dylan yang memiring agar lebih memudahkan mengibatinya.
Mobil berjalan begitu cepat sampai tak menyadari kalau ada polisi tidur. Alvaro yang tak sempat mengerempum terpaksa saat melalui polisi tidur mobil melaju kencang.
Tak sengaja, Dylan mencium pipi Alessea. Membuat tubuh gadis itu menegang seketika. Arlan yang menjadi saksinya, tersenyum senang.
"Bau-bau makan gratis, nih!"
***
Mereka semua turun dari mobil dan masuk kerumah si kembar yang mendapat julukan Duo Bandit. Saat menaiki anak tangga, Mbak Ani yang merupakan ART dirumahnya terkejut melihat anak dari tuannya sudah sampai dirumah. Padahal masih pukul sepuluh pagi.
"Lho, Den Rolan sama Den Arlan sudah pulang? Ini masih pagi lho?" tanyanya kebingungan.
"Bolos Mbak." Mbak Ani yang mendengarnya terkejut lagi.
"Kalau Tuan sama Nyonya tahu gimana?" Pertanyaan Mbak Ani barusan membuat Arlan menghentikan langkah kakinya. Begitu juga dengan yang lainnya.
"Ya jangan bilang dong, Mbak. Nanti Arlan beliin pulsa seratus ribu deh, buat telfonan sama pacarnya," kata Arlan memohon.
"Yaudah, jangan lupa ya Den. Pulsanya di tranfer nanti malam, ya." Arlan mengangguk.
Alessea tak salah mendengar kan? Lain kali, kalau dirinya main ke rumah si kembar, ia akan mengajari ART keluarga ini. Agar kalau mau di sogok yang mahalan. Ini pulsa seratus ribu. Misalnya: tiket konser, album, lightstick, atau apalah. Ini cuman di transfer pulsa seratus ribu aja mau.
Mereka sampai diruang musik. Memang sudah di sepakati kalau mereka akan bermain musik.
"Lagu apa yang mau di nyanyiin?" tanya Alvaro memulai.
Arlan menyisir rambutnya. Walaupun masih berdenyut karena kesakitan, ia tetap merapikan rambutnya. Matanya terkejut saat melihat rambutnya yang rontok. Ya, gara-gara tadi cowok itu menggodanya di mobil, Alessea langsung menghadiahi sebuah jambakan.
"Se, tanggung jawab lo, udah bikin rambut gue rontok banyak."
Alessea yang sedang duduk di bangku piano, menoleh. Tidak terima disalahkan. "Kok gue? Salah lo sendiri lah, punya mulut kok lemes."
Arlan tidak terima. Alessea benar-benar tidak bisa di kalahkan menurutnya. Dasar keras kepala.
"Tanggung jawab nggak. Gue aduin ke Jenny Blacpink lo!" Alessea menatap malas Arlan.
"Halu lo. Mana mau Mbak Jenny sama butiran debu kek lo," sembur Alessea pedas.
"Tanggung jawab nggak?!"
Alessea menghela napas panjang. "Iya-iya, ntar gue beliin wig warna apa? Hijau? Hitam? Atau pink? Atau yang rainbow?"
Mendengar jawaban Alessea, mereka yang berada di ruangan tertawa. Sedangkan Arlan malah menjambak rambutnya karena frustasi menghadapi Alessea yang kelewat songongnya.
"Salah apa gue punya temen modelan kayak lo, Se," gerutunya masih didengar Alessea. Karena jarak keduanya tak terlalu dekat.
"Emang lo temen gue?" sarkas Alessea dengan senyum miring dan satu alisnya yang terangkat.
Alessea dan lainnya tertawa terbahak-bahak karena berhasil membuat Arlan kesal.
Dylan berdeham, semuanya mengalihkan perhatian ke Dylan. Cowok yang duduk di sofa itu berbicara.
"Jadi main musik nggak?" tanyanya menunggu kepastian dari yang lain.
"Jadi dong," jawab mereka semua.
"Bentar, gue mau tanya ke Alva. Yang tadi itu mantan lo, Al?" tanya Alessea penasaran.
"Iya, mantannya Alva." Bukan Alva yang menjawab. Melainkan Dylan.
"Gue tanya Alva buka lo, Somat!" Rolan dan Arlan terkekeh mendengar Alessea yang kesal.
"Kok lo bisa sih, pacaran sama nenek lampir kek gitu?" heran Alessea. Tentu saja, Alvaro ini bisa di sebut good boy. Dan harus mendapatkan cewek modelan Sarah?
Mendengar pertanyaan berupa ejekan Alessea barusan. Membuat mereka berempat tergelak tertawa.
"Gue juga nggak tahu kenapa gue bisa suka sama nenek lampir," balas Alvaro mengikuti Alessea yang memanggil Sarah dengan sebutan nenek lampir.
"Terus lo kok bisa putus sama dia?" tanya Alessea lagi.
"Sifat dia yang bikin gue nggak betah. Terlebih dia juga ketahuan selingkuh di belakang gue," jelas Alvaro.
"Pantesan. Cewek modelan kayak dia nggak betah punya cowok satu. Terus, Bulan itu beneran gebetan lo?" Alessea kembali bertanya. Entah kenapa dirinya menjadi sangat kepo.
Dylan yang jengah mendengar pertanyaan Alessea yang tidak ada habisnya, menjewer telinganya. Membuat gadis itu kesakitan.
"Cerewet banget sih lo jadi cewek."
"Suka-suka gue lah."
"Jadi mau nge-band nggak?" tanya Rolan.
"Jadi, lagu apa?" Tanya Alessea.
"Terserah, asal jangan dangdut." Dylan menggerutu kesal karena Rolan sudah lebih dulu melarangnya.
Alvaro teringat soal lomba pentas seni musik yang akan diadakan lima hari lagi. Terlebih merekalah yang yang akan mewakili sekolahnya.
"Gimana kalau kita latihan buat lomba pentas seni musik?" ajak Alvaro disetujui lainnya.
"Tapi kan lagunya belum ditentuin Pak Jeff," Rolan berpendapat.
"Seenggaknya kita punya satu lagu yang bisa di rekomendasikan ke Pak Jeff." Alessea yang tadi terdiam kembali bersuara.
Semuanya mengangguk. Lalu berpikir keras tentang lagu apa yang akan dibawakan mereka semua. Lagu yang sederhana, namun memiliki makna mendalam.
"Gue ada rekomendasi lagu." Alessea mengeluarkan ponselnya. Mencari sebuah lagu yang dia maksud.
"Jangan bilang k-pop." Dylan memutar bola matanya. Ia dapat menebaknya. Karena hawa kpopers Alessea selalu tercium walau dari jarak dua kilometer.
"Iya. Tapi, ini bagus banget. Artinya juga mendalam."
Alessea memutar sebuah lagunya. Suasana menjadi senyap tak bersuara. Mereka mendengarkan alunan musik yang memang terdengar indah. Alessea tak menyetelnya sampai habis. Hanya sampai reff saja.
"Gue tahu lagu ini, ostnya Descendants Of The Sun." Arlan reflek menepuk tangannya.
"Kok lo tahu si, Lan?" tanya Rolan. Pasalnya kembaranya itu tak pernah menonton DraKor. Atau dirinya saja yang tak pernah melihat Arlan menonton drakor?
"Gue nonton dramanya." Arlan terkekeh sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Kalau lo semua belum yakin, coba cari di youtube lirik lagunya yang ada subtitle Indonesia."
Dylan, Rolan, dan Alvaro membuka ponselnya. Mereka bertiga fokus melihat liriknya sambil mendengarkan. Memang sangat pas untuk dinyanyikan. Apalagi sekarang Indonesia sedang di landa yang namanya demam Kpop.
"Bagus sih. Tapi kan gue nggak hafal liriknya." Dylan mengeluarkan keluhannya. Lidahnya bisa keseleo saat mengucapkannya.
"Masih ada waktu sampai lima hari. Cukup kok buat hafalin liriknya kalau beneran serius."
Semuanya mengangguk. Kemudian mengambil posisi masing-masing dengan alat musiknya. Mereka berlima sudah menentukan lagu yang akan dibawakan saat lomba. Tentu saja besok mereka harus berdiskusi dengan Pak Jeff.