Seperti piano. Yang selalu di sakiti, namun membalasnya dengan nada yang tercipta setiap di tekan.
- Alessea Nichole
***
Alessea melangkahkan kakinya menuju kelas sambil mendengarkan musik dari earphone birunya. Mulutnya ikut bersenandung mengikuti musik yang didengarnya. Sesampainya di kelas, Alessea hanya menemukan April yang sibuk membaca novel.
Terkadang Alessea bingung, walaupun dirinya baru berteman dengan April, tetapi melihat April yang sering membaca novel membuatnya terheran-heran. Apalagi kalau gadis itu tiba-tiba tersenyum sendiri, lalu tak lama lagi tiba-tiba nangis tanpa sebab.
Dengan iseng, ia berjalan dengan pelan menuju tempat duduknya. Berniat mengagetkan gadis manis berkacamata itu.
"Door!"
April yang terkejut langsung menutup novelnya. "Nasi goreng Mbak Surti enak," latah April yang mendapat gelak tawa dari Alessea. April cemberut menatap Alessea.
Alessea duduk dan menaruh tasnya diatas meja. Gadis itu belum berhenti tertawa setelah berhasil mengerjai teman duduknya. Mungkin setelah ini, ia akan sering mengerjakan April seperti tadi.
"Pagi-Pagi udah bikin gue jantungan lo." April mendorong pelan bahu Alessea.
"Lo serius banget sih bacanya," jawab Alessea ditengah-tengah tawanya.
"Ini lagi tegang-tegangnya gue baca, terus lo ngagetin gue." April kembali membuka novelnya dan kembali melanjutkan aktivitas membacanya. Tak memperdulikan Alessea yang masih setia dengan tawanya.
Apa Alessea bilang, April terlalu mendalami dalam membaca cerita novelnya. Lihat saja, gadis berkacamata itu tengah senyum-senyum tak jelas.
"Lo belum makan ya, Pril?" tanya Alessea setelah berhasil menghentikan tawanya.
April menoleh. "Iya, tadi gue bangun kesiangan terus nggak sempat bikin bekal." April kembali melanjutkan bacaannya. Rasanya, novel sudah menjadi candunya bagi April. Di manapun dan kapanpun, kalau ada waktu senggang akan ia gunakan untuk membaca novel.
Semalam banyak sekali pengunjung yang datang ke cafenya. Membuat gadis berambut pendek itu kelelahan dan kurang tidur. Alessea mengeluarkan bekal miliknya dalam tas. Lalu memberikannya ke April. April menatap bingung Alessea.
"Makan dulu, masih ada waktu sebelum bel bunyi."
April ragu untuk menerima bekal milik Alessea.
"Terus lo makan apa?" Tanya April. Walaupun dirinya lapar, ia masih ragu menerima bekal makanan dari Alessea. Pasti temannya itu juga belum sarapan.
"Gue udah sarapan kok."
April mengangguk lalu membuka bekal Alessea yang berisi nasi goreng. Tadi dirinya sudah mampir ke kantin untuk membeli sarapan. Tapi ternyata Mbak Surti belum buka. Alhasil ia hanya bisa membaca novel untuk menghilangkan rasa laparnya.
"Makasih ya, Se." Alessea mengangguk sambil tersenyum manis.
Sambil menunggu April selesai sarapan, Alessea memanfaatkan waktu sebelum bel masuk berbunyi untuk streaming MV biasnya. Sudah menjadi suatu kewajiban bagi Alessea untuk melakukan streaming MV idolnya. Ah, bukan untuk Alessea saja. Bukannya seorang fans harus mendukung idolnya?
Acara streamingnya terganggu saat suara riuh dari gerombolan Dylan memasuki kelas. Siapa lagi kalau bukan Rolan dan Arlan yang membuat kegaduhan? Si kembar dengan sebutan Duo Bandit. Dua cowok itu tertawa begitu keras sampai membuat Alessea kesal. Terpaksa Alessea harus menghentikan acara streamingnya.
"Lo berdua bisa diem nggak sih?!" sembur Alessea. Baik Rolan, Arlan, Alva, dan Dylan berhenti berjalan menuju tempat duduknya.
"Eh Neng Sea, udah makan belum." Arlan tersenyum manis, melancarkan aksinya menjaili siswi.
Bukannya mendapat balasan yang manis, Arlan malah mendapat jawaban ketus.
"Diem lo! Gue tampol nih?!" Alessea mengangkat novel milik April.
April yang menyadari kalau novel barunya diangkat oleh Alessea, langsung merebutnya kembali. "Jangan apa-apain novel gue. Susah payah nabung buat ikutan PO, seenaknya lo buat nimpuk kepala Arlan." April memeluk novelnya dengan kasih sayang. Membuat Alessea memutar bola matanya.
"Ntar gue beliin kalau rusak," sombong Alessea.
"Masalahnya bakalan beda, Se. Ini gue beli pas PO." April memasukan novelnya ke dalam tas agar lebih aman. Percayalah, bagi April novel PO segalanya. Pasalnya ia mendapatkan tanda tangan dari sang penulisnya. Di tambah dengan bonus-bonus yang menggiurkan.
Alessea tak menanggapi omelan April. Di ayunkannya kedua tangan ke depan. Mengusir empat kurcaci yang membuat mood paginya rusak.
"Hus hus, semangat gue jadi ilang." Alessea mengusir gerombolan Dylan yang dari tadi berdiri di depan mejanya.
"Eh, tunggu Al,"
Langkah Dylan dan Alvaro terhenti saat Alessea memanggil Alvaro. Mereka berdua sama-sama menoleh. "Apa?"
"Al, tolong bilangin ke teman sebangku lo ya. Kalau mau ngechat gue nggak usah pura-pura dari KFC,"
"Gue tahu kok gue cantik. Makanya dia bingung mau ngechat gue gimana," sambung Alessea sambil mengibas-kibaskan rambutnya yang di ikat. Gadis itu ternyata sedang menyindir Dylan yang masih berdiri di sampingnya.
Alvaro hanya mengangguk sebagai jawabannya. Ia belum terlalu paham dengan apa yang di maksud Alessea.
Saat Dylan ingin membalas ucapan Alessea yang songong. Alvaro lebih dulu mendorong Dylan untuk menuju tempat duduknya.
"Lo semalam ngechat Sea?" tanya Alvaro penasaran.
"Nggak penting," balas Dylan malas dan merasa malu. Pasalnya Alessea menyindir di depan Alvaro. Beruntungnya Arkan dan Rolan tidak mendengar sindiran itu. Coba saja kalau mendengarnya. Sudah pasti bakalan jadi bahan ejekan.
"Dapat nomornya dari siapa?" kepo Alvaro sambil menaruh tasnya.
"Kenapa? Lo mau minta?" balas Dylan yang sedikit kesal karena Alvaro yang kepo.
"Kalau dikasih ya gue terima," kekeh Alvaro menggoda Dylan. Semakin membuat Dylan menjadi kesal.
"Minta sendiri." Dylan memutuskan untuk menelungkupkan kepalanya di antara kedua tangan yang ia lipat di atas meja.
Dari jawaban Dylan barusan, Alvaro jadi yakin kalau sahabatnya ini ada rasa sama teman barunya.
"Yaudah nanti gue minta sendiri."
Dylan reflek menoleh ke Alvaro.
"Kenapa? Lo barusan nyuruh buat gue minta nomornya sendiri." Alvaro menaikkan satu alisnya.
Dylan hanya mengendikkan kedua bahunya. "Bodo amatlah."
Alvaro terkekeh mendengar jawaban Dylan. "Bilang aja takut ke tikung, kan?" Cowok itu menyenggol lengan Dylan. Berniat menggodanya.
"Dih, mending lo fokus buat ngejar Bulan sana," kata Dylan asal-asalan membahas Bulan.
Sekejap Alvaro terdiam mendengar peruturan Dylan. Apa dirinya terlalu kelihatan kalau sedang berusaha mendekati Bulan?
"Kenapa lo? Kesambet?" tanya Dylan menegakkan tubuhnya.
Alvaro menggelng pelan. "Dy, gue kelihatan banget ya sedang ngejar Bulan?" tanya Alvaro seketika.
Dylan menaikkan satu alisnya. "Enggak sih. Gue bahkan kemarin kaget pas tahu lo lagi dekat sama Bulan,"
Cowok di samping Dylan menghela napas panjang. "Tapi, kayaknya gue nggak mau ngejar Bulan lagi deh,"
Dylan tak menjawab. cowok itu hanya melemparkan tatapan tanda tanya. Alvaro yang mengerti tatapan sahabatnya, langsung tersenyum.
"Sebenarnya gue udah nyoba deketin Bulan. Tapi, cinta gue bertepuk sebelah tangan kayaknya,"
"Yang gue denger dari anak-anak OSIS, Bulan lagi deket sama cowok. Dan itu bukan gue," sambung Alvaro menceritakan kegelisahan dalah hatinya.
"Yaudah kalau gitu lo lupain Bulan aja. Cari yang baru,"
"Kalau ngomong mudah, Dy." Dylan hendak membalas. Tapi keduluan dengan bel sekolahnya.
Bel berbunyi menandakan bahwa jam pelajaran pertama akan segera dimulai. Pak Jeff selaku guru seni masuk dan tak lupa mengucapkan salam.
"Murid-murid, hari ini Bapak akan membagi kelompok masing-masing lima anak untuk tugas seni musik"
Para murid mulai ribut membicarakan kelompoknya. Mereka berharap bisa memilih kelompoknya sendiri.
"Mau Bapak yang membagi kelompok atau kalian yang pilih sendiri kelompoknya?" tanya Pak Jeff selesai menjelaskan.
"Pilih sendiri pak!" seru satu kelas kompak.
Seperti biasanya, Dylan selalu bersama gerombolannya yang beranggotakan lima orang. Tapi, karena salah satu dari mereka ada yang sedang izin, kelompok Dylan kekurangan satu anggota.
Sedangkan Alessea bingung belum menemukan kelompoknya. Ia tak bisa satu kelompok dengan April, karena teman sebangkunya itu sudah diajak dulu oleh Gina. Awalnya April menolak. Tapi karena Alessea bilang tidak apa, akhirnya ia menerima ajakan Gina.
"Baik, sudah semuanya kan? Kertasnya bisa dikumpulkan."
Para murid mewakili kelompoknya untuk mengumpulkan sebuah kertas yang berisikan nama anggotanya.
Tanpa ragu, Alessea mengangkat jari sambil memanggil Pak Jeff. Pak Jeff yang sedang membaca kertas berisikan kelompok, menoleh. "Ada apa, Alessea?"
"Saya belum dapat kelompok, Pak," jujur Alessea.
Pak Jeff kembali membaca kertas-kertas itu. Lalu menjawab, "kamu satu kelompok dengan Dylan, Alessea."
Alessea yang mendengar terkejut. Siapa yang memasukan dirinya di kelompok rusuh itu? Alessea menoleh ke belakang pojok. Dimana tempat duduk Dylan dan Alvaro yang kini juga menatapnya.
Dylan hanya mengangguk sambil tersenyum manis. Alessea langsung membalikkan badannya.
"Lo beruntung banget bisa satu kelompok sama Tambal Band." April tiba-tiba menyuara.
"Tambal Band?" bro Alessea tak paham.
"Iya, itu nama bandnya Dylan sama gerombolannya," jelas April membuat kedua mata Alessea melotot.
"Nggak elit banget sumpah namanya," komentar Alessea menohok.
April merubah posisi duduknya ke samping. Menatap ke Alessea. "Ada satu g**g sekolah lagi yang namanya bakal bikin lo mual," ujar April menggantung.
"Siapa?"
"Nanti ada waktunya lo tahu dan lihat sendiri." April kembali merubah posisi duduknya menghadap ke depan.
"Sumpah ya, Pril. Pengen tak hih banget lo!" kesal Alessea karena dibuat penasaran sama April. Tahu kan rasanya penasaran banget?
"T-tapi ya, Se. Lo itu beruntung pakai banget bisa satu kelompok sama mereka." April kembali berucap kalimat yang sama dengan sebelumnya.
"Bagi gue bukannya beruntung. Tapi, s**l banget."
April menggelengkan kepalanya. Alessea berbeda dengan siswi kebanyakan disini. Semua siswi akan bersorak saat gerombolan Dylan berjalan memasuki kantin. Banyak mereka yang mendedikasikan dirinya sebagai fans dari Tambal Band.
Berbeda dengan Alessea yang malah menunjukkan sikap kesalnya.
***
Dylan dan Alessea sampai di rumah Rolan dan Arlan. Mereka semua memutuskan untuk berlatih setelah sepulang sekolah agar besok dapat menampilkan musik dengan maksimal.
Alessea menatap rumah si kembar yang bisa dibilang lebih luas dari rumah Dylan. Terlebih lagi, rumah Rolan dan Arlan memiliki studio musik yang lengkap. Membuat mereka semua mudah untuk berlatih.
"Lo kenapa natap rumah kembar segitunya?" tanya Dylan yang berhenti berjalan mendadak.
Sejak pertama masuk ke rumah kembar, Dylan melirik Alessea yang mengamati rumah ini dengan terkagum-kagum.
Alessea tak menjawab. Ia masih menatap ke sekeliling rumah si kembar. Sampai tak sadar bahwa Dylan menghentikan langkahnya.
"k*****t! Lo kalau mau berhenti jalan kasih aba-aba dulu bangsul. Jadinya gue nabrak kan." Alessea mengelus hidungnya yang menabrak punggung Dylan.
"Ya salah lo, jalan lihatnya kedepan." Dylan tak mau kalah dengan Alessea. Sedangkan gadis di belakangnnya menampakkan ekspresi kesal.
"Kok gue sih. Gue kan lagi lihat seisi rumah duo bandit." Alessea tak mau di salahkan oleh Dylan.
"Debat sama lo nggak ada habisnya, Se," ucap Dylan kembali berjalan dengan santainya memasuki rumah si kembar. Seakan itu adalah rumahnya sendiri.
Alessea kembali mengekori Dylan. Keduanya berjalan menuju lantai dua dimana studio musik terletak.
"Sorry telat."
Dylan menyalami para sahabatnya. Tapi tidak dengan Alessea. Ia memilih langsung duduk manis tanpa akhlak. Baik Rolan dan Arkan hanya bisa menggelengkan kepalanya.
"Padahal gue belum suruh duduk lo, Se. Langsung main duduk aja." Arlan menggelengkan kepalanya.
"Emang salah? Biasanya kan tuan rumah selalu bilang gini," Alessea berdeham sebentar.
"Anggap aja rumah sendiri. Yaudah gue anggap rumah sendiri," tuntasnya dengan percaya diri.
"Dasar cewek songong lo!" seru Dylan yang duduk di sampingnya.
"Nggak denger,"
"Udah woy! Berantem terus lo berdua. Ntar kalau jodoh tahu rasa." Alvaro melerai pertikaian Arlan dan Alessea.
Bak melihat sesuatu yang menjijikan, Alessea berpura-pura memuntahkan isi makannya.
"Ogah banget, amit-amit." kata keduanya sama terus.
"Tuh kan apa kata gue. Lo berdua jodoh keknya." Alvaro memakan makanan hasil dari lomba tadi.
Rolan dan Arkan hanya menyimak saja. Tak tahu harus menanggapi yang bagaimana.
"Sekarang kita fokus buat besok. Kalian udah nemu lagu yang pas buat besok?" tanya Dylan langsung pada tujuannya.
"Belum, lo ada saran nggak?" balas Alvaro.
Dylan mengeluarkan ponseknya. Mencari referensi lagu yang pas untuk ditampilkan.
"Lo ada saran nggak, Se?" Alessea yang sejak tadi menatap sebuah piano, langsung menoleh ke Rolan.
"Apa?" bingung Alessea.
Rolan memutar bola matanya. "Lo ada saran lagu buat besok kita tampilkan nggak?"
Alessea hanya menggeleng. Dan itu membuat kesal Rolan. Alvaro dan Arlan hanya terkekeh. Mereka tak kaget lagi kalau Alessea ini memang songong dan seenak jidatnya.
"Gimana kalau lagu Merindu Lagi?" kata Dylan tiba-tiba.
Alvaro mengangguk-anggukkan kepala. "Gue setuju"
"Lo semua?" tanya Dylan meyakinkan.
"Gue setuju," balas Rolan dan Arlan bersama.
Hanya Alessea saja yang terdiam tidak menjawab. Bukan karena sombong, namun gadis itu belum pernah mendengarkan lagu berjudul Merindu Lagi yang disarankan Dylan.
"Lo gimana, Se?" Arlan yang sejak tadi terdiam, kini bertanya pada Alessea.
"Gue nggak tahu lagunya."
Ke-empat cowok itu membelalakkan matanya. Tak percaya dengan apa yang keluar dari mulut Alessea. Hei! Jaman sekarang siapa yang tidak tahu lagu Merindu Lagi? Lagu yang sangat popular di Indonesia. Terlebih lagu ini adalah lagu andalan untuk FTV.
"Lo beneran nggak tahu?" Alvaro menanyakan lagi. Siapa tahu Alessea hanya mengerjai mereka. Alessea tak menjawab. Ia hanya menggeleng pelan.
Dylan membuka aplikasi youtube dan menuliskan kata kunci Merindu Lagi. Lalu memutarkannya sampai habis. Alessea dengan cermat mendengarkan. Alessea akui, musiknya memang enak didengar.
"Gimana?" tanya Dylan yang duduk di samping Alessea.
"Bagus, gue setuju. Tapi gue nggak hafal lagunya," jujur Alessea.
"Tenang, lo cuman main piano kok." Alessea yang mendengar kata Dylan, sedikit tidak terima. Ia tak terbiasa memainkan piano tanpa bernyanyi. Alessea suka menyanyi dan memainkan alat musik.
Arlan yang melihat ekspresi tidak terima dari Alessea, langsung mengajukan saran. "Menurut gue, lo duet sama Sea aja, Dy."
Semuanya menatap Arlan. Ada benarnya juga dari saran Arlan.
"Gini lho, mumpung ada Sea kita manfaatin buat duet. Kita kan belum pernah duet bareng cewek. Lagi, lagu ini pas banget. Gue yakin, semuanya akan baper," jelas Arlan panjang lebar.
Rolan—abang Arlan—menempelkan tangannya dikening Arlan. Mengecek suhu badannya. Pasti ada yang salah dengan apa yang dimakan Arlan.
"Apa sih." Arlan menepis tangan abangnya.
"Mau ngetes suhu badan lo. Siapa tahu lo kesurupan," balas Rolan ngaur.
"Arlan bener juga. Kenapa nggak duet aja?" Alvaro menyetujui saran Arlan. Kini tinggal keputusan dari Dylan.
Dylan menimang masukan dari para sahabatnya. Kemudian menatap Alessea teliti. Alessea yang ditatap oleh Dylan merasa risih.
"APA LIHAT-LIHAT?! Ntar naksir sama gue lo." Alessea mengibaskan rambutnya.
Kenapa hidup Dylan harus berubah setelah kenal Alessea? Dia harus mengelus d**a terus karena kelakuan gadis itu yang kelewat songongnya. Jangan lupakan, ucapan gadis itu juga tak kalah pedes.Walaupun tak bisa disangkal, kalau Alessea itu gadis yang cantik.
"Gue naksir sama lo? Bae Irene yang secantik itu aja gue tolak. Apalagi lo yang cuman sebutir upil," balas Dylan membuat darah Alessea mendidih.
"Wah, ngajakin gue baku hantam ya lo?!" Alessea berpura-pura mengelan lengan kemeja yang dipakainya. Seakan memang hendak baku hantam dengan Dylan.
"Anjir, Sea galak banget," bisik Rolan pada Alvaro.
"Kayak Bulan galaknya." Reflek Alvaro menyamakan Alessea dengan seorang gadis yang bernama Bulan.
"Kok lo samain Sea sama Bulan?" Rolan tersenyum simpul. Ia menatap Alvaro sambil menaikturunkan kedua alisnya.
"Kalau suka bilang aja kali, Al. Ketikung mampus lo," balas Arlan membuat Alvaro geram.
"Bukan gitu maksud gue," bantah Alvaro yang seakan paham arti senyum Rolan.
"Ini kenapa pada ribut dah. Katanya mau latihan buat besok." Suara Arlan yang keras menghentikan mereka berempat ribut dengan masalah masing-masing.
Dylan menghela napas panjang sebelum bersuara lagi.
"Oke, tapi gue mau dengar suara lo. Gue nggak mau salah ambil keputusan." Dylan melipat kedua tangannya dan menaruhnya di depan d**a.
Alessea memukul kepala Dylan dengan stik drum yang ia dapat dimeja sebelahnya. Dylan mengadu kesakitan, mengelus kepalanya yang terasa berdenyut. Sedangkan Rolan, Arlan, dan Alvaro menertawai Dylan.
"Lo kayak nggak percaya banget sama gue. Gini-gini gue punya suara yang sebanding dengan Lee Ji-eun." Alessea bangkit dan menuju ke sebuah piano.
"Halu terus lo!"
Alessea tak menggubris. Ia berjalan menuju ke sebuah piano yang terletak tak jauh dari kursinya. Alessea mulai fokus memainkan piano yang sudah seperti sahabatnya. Ia memilih sebuah lagu yang berjudul Pembeda. Sebuah lagu yang menjadi kesukaannya sejak dua hari yang lalu.
Alessea mengambil napas kemudian
menghembuskan perlahan. Jemarinya mulai menari di tuts piano dengan lincah. Ke-empat cowok itu kini memfokuskan dirinya pada Alessea.
Semuanya terpana dengan suara emas milik Alessea. Dylan akui, suara Alessea bahkan lebih bagus dibandingkan suaranya. Tetapi ia mencoba terbiasa mungkin. Agar Alessea dan teman-temannya tak melihat bahwa Dylan mulai kesemsem dan Alessea.
Alessea mengakhir tampilannya. Lalu membalikkan badannya. Alessea terkekeh saat melihat para temannya menatap dirinya tanpa berkedip. Bahkan mereka tidak menyadari kalau Alessea selesai bernyanyi.
Alessea mengibaskan rambutnya ke belakang. "Gue tahu suara gue mirip Lee Ji-eun,"
Seketika mereka semua sadar dan sedikit malu. Tetapi mendengar ucapan Alessea yang songong, membuat mereka menjadi kesal.
"Gimana? Bagus kan?" tanya Alessea lagi. Menunggu balasan dari t****k.
"Gue akui, suara lo lumayan juga," komentar Dylan yang membuat mata Alessea semakin membesar.
"LUMAYAN LO BILANG?!" teriak Alessea berdiri sambil berkacak pinggang.
Dylan langsung berdiri berniat untuk menghindari amukan singa betina. Tapi, Dylan telat menghindar. Alessea sudah menangkap dirinya dan dengan ganas menjambak rambutnya.
"Bantuin gue dari amukan singa betina, woy!" seru Dylan meminta bantuan para sahabatnya.
"APA LO BILANG?! SINGA BETINA?!"
"Hajar terus, Se. Jangan kasih kendor." Bukannya melerai, Arlan malah menyemangati Alessea untuk terus menjambak rambut Dylan.
Tapi, bukannya mendapat pertolongan, ke-tiga cowok itu malah menertawai Dylan yang mendapat serangan hyena betina.
"Kuping lo perlu gue lebarin." Alessea masih setia menjambaki Dylan tanpa ampun.
"Ampun Se, ampun."