Sebelum pulang mereka singgah di sebuah perlatan toko buku, “Ngapain kesini..?” Imbuh Maya dengan santai.
Brian melepas sabuk pengamannya, “Tunggu disini.. jangan kemana-mana..”
“Hm.. asal loe gak lama aja..” Mewah juga nih mobil.. anak orang kaya.. Maya memperhatikan ke sekeliling dalam mobil, sesekali menusuk-nusuk jok mobil, empuk,, nyaman juga..
Dari dalam mobil Maya memperhatikan Brian yang sedang mengobrol ramah dengan pemilik toko itu, tak lama kemudian ia melihat wanita cantik yang tak lain adalah Nilam masuk kedalam toko.
Mereka berdua saling melempar pandang, Nilam melempar senyuman manisnya namun lagi-labi Brian tak menghiraukannya.
Merasa kesal selalu diabaikan, “Brian tunggu! Kita harus bicara..” Nilam memegang erat tangannya.
“No...! don’t touch me..” jawabnya dengan tegas.
“Wah ada yang lagi berantem nih..?” kehadiran Maya mengejutkan Nilam.
“Siapa dia..?” tanya Nilam penasaran.
“Gw pacarnya..” Maya menepis tangan Nilam dari Brian, “Jangan pegang-pegang.. sana..”
Nilam terkejut melihat Brian yang bisa moveon darinya semudah itu.
Mereka berdua masuk kembali kedalam mobil, “Sorry yang tadi...”
“Tidak apa-apa.. dia cuma masalalu..”
“Gak nanya tuh..! eh tapi hebat juga ya cowok kayak loe pernah punya pacar haha..”
“Berisik..” Brian melajukan mobilnya.
***
Sepulang mengantar Maya kerumahnya Brian kembali melanjutkan perjalanannya menuju perusahaan papah Kusuma.
Sesampainya di perusahaan, “Selamat pagi mas Brian...” sapa seorang resepsionis.
“Pagi...”
Brian menunggu pintu lift terbuka bersamaan dengan beberapa orang karyawan. Ia melebarkan pandangannya keseluruh isi bangunan diperusahaan itu, suasananya semakin ramai..
Pintu liftpun terbuka, 5 menit kemudian ia sampai di ruangan CEO.
Di luar ruangan itu ia dapati seorang sekretaris muda yang sedang asik berdandan, memakai lipstik merah di bibir, “Ehem...” deheman nyaring itu mengagetkan sekretaris tersebut hingga stik lipstik itu naik kepipi.
“Tu.. tuan.. selamat pagi..”
Brian mengangguk, “Lanjutkan lagi aktifitasmu..”
Sektertaris itu hanya diam menunduk merasa malu. Brian melanjutkan langkahnya masuk kedalam ruangan CEO.
Toktok...
Suara ketukan itu mengalihkan perhatian papah Kusuma yang sejak tadi fokus membaca laporan keuangan perusahaan, “Brian.. masuk.. ada apa kesini? Tumben sekali..”
Brian mengangguk, diam dan duduk di sofa biru itu, kemudian papahnya mendekat untuk duduk bersama.
“Kamu kesini ada perlu apa..? kalau kamu datang hanya untuk membatalkan perjodohan itu, papah tidak akan menyetujuinya sampai kapanpun..”
“Hm... Brian tahu pah.. Brian kesini bukan untuk membahas masalah pembatalan tersebut..”
Papah Kusuma terlihat bingung, ia melonggarkan dasi yang sedari tadi terikat kencang, “Maksud kamu..?”
“Brian terima perjodohan itu dengan 1 syarat..”
“Apa...?”
“Brian mau pernikahan kami di buat seolah-olah bukan karena perjodohan..” ia menatap papahnya yang masih bingung, “Maksudnya.. Brian mau kami jalani dulu masa-masa untuk saling mengenal, karena pernikahan bukan hal sepele bukan untuk dipermainkan.. Brian juga tidak ingin jika kelak salah 1 di antara kami menyesal..” Brian bangkit dari duduknya dan melenggang pergi tanpa mendengar jawaban dari papahnya.
Sesaat setelah Brian meninggalkan ruangan CEO tak jauh darinya seorang wanita muda berlarian dengan membawa beberapa berkas, karena buru-buru wanita itu sampai tak melihat pria yang ada di depannya dan bruk..!
Semua berkas itu berhambur, jatuh berserakan di lantai, “Ma.. maaf mas saya buru-buru jadi tidak lihat..”
Brian mengibas-ngibaskan kemejanya, “Hm..” kemudian ia kembali melenggang pergi meninggalkannya tanpa membantu sedikitpun.