Esti terkesiap kaget, Melihat wajah perempuan yang ada di depan matanya kini. “Mama, kenapa nggak ketuk pintu, sih?” Bu Maria mendengus, melirik ponsel yang kini digenggam erat Esti pada d**a. “Sudah, dua kali malah. Tapi kamu terlalu asyik menatap layar ponsel sampai tak tahu jika mama masuk.” Esti menarik ponsel dari dadanya dan menaruhnya di bawah bantal. Lantas, duduk tegak menyilangkan kaki di atas kasur. “Kenapa kamu melihat postingan keluarga Raharja? Tumben sekali? Padahal, dulu kamu paling anti saat Mama menonton video vlog mereka.” Esti gelagapan, melirikkan bola mata ke sembarang arah. “Apa kau rindu dengan Bagus?” Bola mata Esti kembali membulat cepat, menatap mamanya. Hanya raut canggung yang ditampilkannya kini tanpa bisa menjawab. “Maaf jika mama terlalu lancang.

