“Kakak beneran gak pernah ketemu sama Astar?”
“Kayaknya enggak pernah, Bun. Kalau pun pernah papasan Naura gak bakalan ingat deh— Bunda pasti tahu sendiri ‘kan aturan di pondok pesantren.”
“Dilihat dari gaya bicaranya seperti orang yang sudah kenal dekat dengan keluarga kita. Setahu Bunda, keluarganya tidak pernah diundang ke acara ulang tahun perusahaan.”
“Dia tuh sok kenal dan sok dekat. Waktu di acara sendratari banyak tingkahnya. Ada-ada saja alasannya buat samperin Naura.”
“Dimas jagain Kakak, ‘kan?”
Naura mengulum senyum. Lalu menganggukkan kepalanya. “Jagain banget. Bunda tau nggak— Dimas tuh sekarang so sweet. Pas Naura mau ke toilet, gamis bagian bawah dikasih peniti biar gak kesusahan jalan,” terangnya malu-malu.
Gemas dengan tingkah putrinya, Bu Siva langsung menarik hidung mancungnya, kemudian mencium kedua pipi chubby-nya.
“Sudah mulai luluh kayaknya. Selamat ya Kakak— Ah, sebentar lagi Bunda bakal punya menantu.”
“Ih, Bunda jangan gitu dong. Mana boleh Naura menikah muda. Kalau Papa sampai tahu bakal ngomel tujuh hari tujuh malam.”
“Misal— ini misal ya, Kak. Papa kasih izin Kakak menikah muda dan Dimas juga mau. Gimana?”
Sebelum menjawab, Naura berpikir sejenak. Menurutnya menikah muda bukan sebuah masalah. Karena umur hanyalah angka. Yang paling penting adalah kesiapannya dalam mengarungi bahtera rumah tangga.
Dalam segi finansial Naura tidak ada masalah akan hal itu. Selain lahir dari keluarga berada, Dimas dan dirinya sudah bisa menghasilkan uang sendiri.
Masalahnya itu pada restu. Pak Gio memang suka dengan Dimas. Namun, bukan berarti setuju jika putrinya menikah sebelum lulus kuliah.
Bundanya hanya berandai-andai. Belum tentu terjadi dan Naura tidak mau kecewa karena terlalu berharap.
“Naura terserah apa kata Papa dan Bunda saja,” jawabnya sembari memeluk erat wanita yang selalu membuatnya tenang.
Bu Siva bukanlah Ibu kandung Naura. Tapi, rasa sayangnya pada putri sambungnya sangatlah besar.
Beliau membesarkan Naura penuh dengan kasih sayang dan perhatian. Hingga gadis itu tak pernah merasa iri pada sang adik.
Tidak ada rahasia yang disimpan Naura. Semua yang terjadi dalam hidupnya akan diceritakan pada Bundanya. Kerena baginya, Bundanya selalu memiliki solusi dalam setiap masalahnya.
“Putri cantiknya Bunda baik banget sih— pantesan banyak yang suka. Sampai Papa kewalahan menghadapi fans beratnya Kakak.”
“Tapi, Naura sukanya sama Dimas.”
“Iya, Bunda dan Papa tahu kok. Sepertinya semua yang tinggal di rumah ini juga tahu. Karena setiap hari rumah pasti berganti warna cat,” goda Bu Siva.
Bau cat menjadi hal biasa bagi keluarga Pak Gio dan para pekerjanya. Semua itu ulah dari putrinya yang cantik jelita. Hobi memborong cat dari toko Si Ayang.
Baru minggu ini rumahnya tak berganti warna. Dikarenakan kesibukan Naura yang sangat padat. Juga belum mendapatkan ijin dari Papanya untuk mengecat ruang gym.
Naura melepaskan pelukannya. Lalu memundurkan badannya. Berputar sekali sambil berkata, “Cantik apa tidak, Bun?”
“Cantik banget anaknya Bunda. Gamisnya cocok sekali di badan Kakak. Pinter Dimas pilihnya,” jawab Bu Siva dengan jujur.
“Naura juga ngerasa gitu, Bun— kayak ada yang beda saat pakai gamis pemberian Dimas. Padahal model gamis ini Naura punya banyak di lemari.”
“Yakin Kakak gak tahu alasannya?” Bu Siva menatap jahil ke arah putrinya. “Bunda jelaskan sekarang apa nanti?”
Naura menutup wajahnya menggunakan telapak tangan. Kakinya menghentak-hentak lantai. Malu karena di goda oleh Bundanya.
Pastinya dia tahu alasannya. Ya— namanya juga seorang gadis. Tentunya sikap malu-malu kucing pasti muncul ketika sedang jatuh cinta. Sekalipun sikapnya sangat bar-bar.
***
Kedatangan Dimas ke kediaman Naura membuat kaget seluruh penghuni rumah. Baru kali ini dia berinisiatif berkunjung tanpa paksaan.
Alasannya pun sangat lucu. Membuat Naura gemas ingin mencubit lengannya yang kekar. Tapi, belum boleh tunggu halal dulu.
“Memangnya aku bilang minta dijemput ya, Ai?” Tanya Naura dengan polosnya.
“Kamu lupa semalam merengek minta diantar ke kampus?” Tanya balik Dimas.
Wajah lelaki itu sangat datar. Tak ada ekspresi apapun. Sama seperti ekspresi Pak Gio selama menemui tamunya pagi ini.
Naura akhirnya mengangguk-anggukkan kepalanya. Meminta maaf karena lupa dengan janji yang dibuatnya sendiri.
“Loh, bukannya Naura akan berangkat dengan ku?” Astar tak terima jika Dimas mengantar gadis yang sedang diincarnya.
“Aku akan diantar sama Dimas. Lagipula tidak ada yang memintamu untuk mengantarku ke kampus,” ujar Naura dengan ketus.
“Aku yang lebih dulu datang ke sini. Seharusnya kamu berangkat denganku,” paksa Astar.
Bu Siva memberi kode pada sang suami agar menjadi penengah. Sikap kurang sopan dan sok kenal Astar membuatnya jengah. Rasanya ingin melarang lelaki itu datang ke rumahnya lagi.
“Nak Astar— biarkan Naura berangkat dengan Dimas. Selain mereka sudah membuat janji lebih dulu. Ada pekerjaan yang harus dibicarakan keduanya pagi ini. Karena Naura ada kelas pagi hingga sore, jadi sepanjang perjalanan ke kampus nanti pekerjaan itu akan di bahas,” terang Pak Gio.
Astar menatap Dimas dengan tatapan mengejek. Seolah menganggap lawannya tak sepadan dengannya.
Mungkin dia tahunya jika Dimas adalah seorang yatim piatu. Kebetulan diangkat anak oleh keluarga kaya. Maka dari itulah berani menyombongkan diri.
“Naik motor mana bisa sambil membahas pekerjaan. Lagipula sepanjang jalan bakal banyak debu. Kasihan Naura jika terlalu banyak menghirupnya,” ujar Astar.
Kedua sudut bibir Dimas terangkat sedikit. Sama sekali tidak berniat menanggapi ocehan burung beo di depannya.
Waktunya sangat berharga. Lebih baik segera membawa Naura pergi daripada mual mendengarkan kesombongan anak Mami dan Papi.
“Om— saya pamit dulu ya. Sekalian izin antar Naura,” ucap Dimas sembari mengulurkan tangan pada Pak Gio.
“Hati-hati di jalan. Jangan ngebut!” Pak Gio ikut mengulurkan tangan. Lalu membisikkan sesuatu pada telinga Dimas.
Dimas pun langsung terkekeh pelan. Memeluk Pak Gio sejenak setelah itu pamit pada Bu Siva.
“Harusnya datangnya lebih pagi biar bisa ikut sarapan,” omel Bu Siva, namun terdengar seperti rengekan seorang Ibu pada putranya.
“Dimas janji— akhir pekan nanti akan sarapan, makan siang dan makan malam di rumah Tante. Kebetulan ada pekerjaan yang harus Dimas diskusikan sama Om.”
“Bener ya, gak boleh bohong,” jawab Bu Siva penuh antusias.
Dimas menyunggingkan senyumnya. Sebagai jawaban atas pertanyaan dari Bu Siva.
Naura kembali ke dalam untuk mengambil tas-nya. Juga ingin merapikan penampilannya. Mau dia antar Ayang harus tampil rapi dan cantik.
Sedangkan Astar merasa jika dirinya tidak dianggap ada oleh kedua orang tua Naura. Bahkan dia merasa Dimas menjadi kesayangan keluarga Abraham.
Tak hanya Pak Gio yang bersikap lembut padanya, melainkan Opa Alvin juga. Padahal keduanya terkenal dingin, galak dan tidak ramah dalam dunia bisnis.
“Kamu pintar sekali mengambil hati orang-orang. Modalmu pasti menjual kesedihan dan kemalangan hidup. Benar begitu ‘kan?” sindir Astar setelah Pak Gio dan Bu Siva pamit kembali ke dalam.
Dimas sibuk membalas pesan yang dikirim oleh Putra. Ada beberapa cat yang kosong dan sudah dipesan tapi tak kunjung di kirim oleh pabrik. Padahal cat itu sudah banyak yang pesan.
Putra meminta Dimas menghubungi sales pabrik tersebut untuk menanyakan kapan barang pesanannya di kirim.
Kesibukan Dimas membuat Astar kesal. Percuma bicara panjang lebar tapi tidak digubris.
Brakkk!!! Ponsel Dimas jatuh ke atas lantai dengan suara cukup keras.
“Kamu mau apa, ha?!” Tanya Dimas, masih dengan nada suara rendah. Membiarkan ponselnya tergeletak pada lantai.
“Anak pungut sepertimu tidak pantas bersanding dengan Naura! Harusnya kamu ngaca— siapa kamu? Dari mana asalmu? Dan, apa yang kamu miliki di dunia ini? Orang tua saja kamu tidak punya, lagaknya mau masuk keluarga kaya raya, mimpimu terlalu tinggi, woiiii!!!”
Sebelah alis Dimas terangkat ke atas. “Lalu kamu siapa?” Tanyanya kemudian.
Astar tertawa cukup keras. Merasa jika tak ada yang mendengar ucapan maupun tawanya. “Cek internet. Ketik namaku pada pencarian dan kamu akan menemukan asal-usul keluargaku yang akan membuatmu tercengang,” perintahnya dengan angkuh.
Dimas tidak peduli dengan bualan yang sedang dikatakan oleh Astar. Dia beranjak dari sofa, mengambil ponselnya yang pecah dan mengajak Naura berangkat.
Tanpa Astar sadari, Pak Gio dan Naura berada di balik tembok yang memisahkan ruang tengah dan ruang tamu. Keduanya mendengar semua hinaan yang dilayangkan oleh Astar pada Dimas.
“Pulanglah segera!” seru Dimas sebelum meninggalkan ruang tamu. “Belilah rasa malu dengan kekayaanmu yang menggunung itu,” tukasnya sembari berlalu begitu saja.