BAB 9

1628 Kata
Seperti Biasa, Pagi Ini Nendo Telah Terbangun Lebih Dulu Daripada Nadya. Setelah Cukup Lama Memandangi Wajah Nadya, Akhirnya Nendo Memilih Untuk Mandi. Selesai Mandi, Nadya Masih Belum Bangun Juga. Nendo Bergegas Membangunkan Gadis Itu Untuk Sarapan Bersama Di Bawah.   " Nady.."   " Nady…"   “ Nady… Bangun Udah Jam Berapa Ini? Ayo Kita Sarapan Dulu. " Ucap Nendo Sambil Mengguncang Tubuh Nadya Agar Lekas Bangun.   " Nadya, Udah Jam 8 Pagi. Ayo Kita Turun Sarapan Bersama. Gak Enak Sama Mamah Dan Papah, Pasti Mereka Sudah Nungguin Kita Di Bawah. " Ucap Nendo Yang Masih Berusaha Membangunkan Nadya.   Nadya Menguap, Matanya Masih Tetap Terpejam Meskipun Sudah Sedikit Tersadar. " Mmmm... Masih Ngantuk Banget Nendo.  Nadya Tadi Malem Gak Bisa Tidur Gara - Gara Nendo Takut – Takutin. " Ucap Nadya Dengan Suara Berat.   " Ayo Cepet Bangun Dan Mandi, Setelah Itu Kita Turun Ke Bawah Sarapan. "   " Nanti Aja. " Nadya Menolak, Dia Masih Merasa Mengantuk.   " Sekarang! " Tegas Nendo.   " Bodo Amat! Nadya Masih Ngantuk. Nendo Gak Pengertian Banget Sih Jadi Suami. " Gerutunya Kesal.   “ Ayo Nadya Bangun!! ”   “ Gak! ”   " Oke Baiklah, Kalau Lo Mau Nya Kayak Gini. " Ucap Nendo, Ia Menarik Selimut Yang Menutupi Tubuh Nadya. Nendo Langsung Mengangkat Tubuh Nadya Sampai Gadis Itu Sangat Terkejut Karena Secara Tiba - Tiba Tubuhnya Di Angkat Begitu Saja.   " Aaaaa… Nendo Apa - Apaan Sih. Gue Masih Mau Tidur! Turunin Gak, Cepetan Turunin! " Teriak Nadya Sambil Menggerakan Kedua Kakinya, Ia Berusaha Untuk Turun, Tapi Nendo Sama Sekali Tidak Memperdulikan Dirinya Yang Sudah Berteriak Dan Memberontak. Nendo Tetap Saja Berjalan Ketempat Tujuannya, Yaitu Kamar Mandi.     Saat Sudah Berada Di Depan Kamar Mandi, Nendo Pun Menurunkan Nadya.   " Lihat Kedepan, Itu Pintu Kamar Mandi. Sekarang Lo Masuk Kedalam, Terus Mandi Yang Bersih. " Ujar Nendo Memberi Perintah Kepada Istrinya Itu.   " Enggak Mau! " Nadya Membalikkan Badan, Ia Ingin Melangkahkan Kakinya Untuk Kembali Ke Kasur Karena Masih Mengantuk. Nadya Hanya Ingin Tidur Saat Ini, Tapi Dengan Cepat Nendo Menarik Tangannya.   " Nady Kalo Lo Gak Mau Mandi ….”   " Kalo Gamau Apa, Hah? " Nadya Mendongakan Dagunya, Menantang Nendo.   " Gue Buka Baju Lo Secara Paksa, Biar Lo Mandi! “ Nendo Kembali Mengeluarkan Ancaman, Mendengar Itu Nadya Hanya Bisa Terdiam Meneguk Ludahnya Berkali - Kali. Nadya Faham Betul Nendo Tidak Akan Bercanda Dengan Ancamanya.   " Ishh, Iya - Iya Bawel!! “ Sambil Menghentakan Kakinya, Nadya Kembali Berjalan Masuk Ke Dalam Kamar Mandi.   “ Bagus! ” Nendo Tersenyum Miring. “ Itu Baru Istri Takut Suami! Bukan Suami Takut Istri! ” Seru Nendo.     **     Seperti Biasa, Pagi Ini Mereka Sarapan Bersama Dengan Keluarga Nendo. Sesekali Mereka Tertawa Karena Albert Berbicara Hal - Hal Lucu. Suasana Makan Pun Tidak Terasa Sepi, Sama Seperti Dahulu Ketika Nadya Makan Bersama Kedua Orang Tuanya. Nadya Merasa Tidak Asing Di Rumah Ini Karena Keluarga Nendo Sangat Baik Kepadanya.     " Nadya Kamu Hari Ini Mau Ikut Mamah Shoping Atau Mau Ikut Nendo Ke Kantor? " Tanya Margarey.   “ Aku Dirumah Aja Deh, Mah. ” Jawab Nadya.   " Lo Ikut Gue Aja Ke Kantor. Pokoknya, Gak Boleh Nolak. " Sambung Nendo.   " Emang Mau Ngapain Ikut Lo Ke Kantor?  Liatin Lo Kerja Gitu? " Nadya Memutar Kedua Bola Matanya Malas.   " Ya Enggak Gitu Juga Nadya. Gue Itu Ajak Lo Ke Kantor, Mau Nunjukin Ke Kerabat Kerja, Biar Mereka Tahu Kalau Nendo Si Lelaki Tampan Sudah Punya Istri Secantik Bidadari. " Ucap Nendo Sambil Cengengesan. Tak Dapat Dipungkiri , Ucapan Nendo Tadi Membuat Nadya Tersipu Malu. Senyum Nadya Merekah Seraya Menganggukan Kepalanya Tanda Ia Setuju Untuk Ikut Nendo Ke Kantor.   " Heh! Kalian Berdua Ini Apa – Apaan, Sih? Masa Suami - Istri Ngomongnya Lo - Gue. Gak So Sweet Banget, Sih.  " Sahut Albert Menatap Mereka Berdua Yang Kini Juga Menatap Albert Sambil Terkekeh.   “ Kamu Gimana Sih Nendo? Sebagai Suami Gak Ada Romantis - Romantisnya Banget! Panggil Nadya Tuh Dengan Sebutan Mamah Dong! ”  Margarey Juga Ikut Menyahut.   “ Kaya Kita Berdua Ya, Pah. ” Kata Margarey Lagi Seraya Melirik Albert.   “ Iya Betul Itu.  Papah Manggil Mamah Dengan Sebutan Mamah Dan Mamah Panggil Papah Dengan Sebutan Papah! “ Penjelasan Albert Yang Sedikit Membingungkan Membuat Nendo Dan Nadya Sedikit Sulit Mencerna . Mereka Berdua Hanya Manggut -Manggut Saja Seolah Mengerti Maksud Margarey Dan Albert.   “ Tapi, Kalo Nendo Panggil Nadya Dengan Sebutan Mamah Itu Kedengarannya Aneh? Nadya Kan Belum Punya Anak? ” Lanjut Albert, Ia Jadi Bingung Sendiri.   “ Eh Papah, Emangnya Harus Punya Anak Dulu Baru Boleh Dipanggil Mamah! ” Celetuk Margarey Yang Tak Setuju Dengan Pendapat Suaminya.   “ Oh, Iya Juga Ya. “ Akhirnya Albert Memilih Setuju Dengan Pendapat Istrinya.   “ Pokoknya, Mulai Detik Ini Kalian Berdua Gak Boleh Ngomong Lo - Gue Lagi. Kalian Berdua Ngerti, Kan? ” Margarey Menatap Ke Arah Nadya Dan Nendo.   “ Iya Mah. ” Mereka Berdua Memilih Mengiyakan Saja Ucapan Margarey.   “ Lo - Gue End! ” Tiba - Tiba Saja Kamila, Adik Angkat Nendo Yang Masih Kecil Berteriak Nyaring Membuat Mereka Semua Terkejut Mendengarnya Dan Menoreh Ke Arah Kamila Yang Kini Tersenyum Lebar Tanpa Dosa.         **     Nadya Pov ( Dari Suduh Pandang Nadya)     Hari Ini Nendo Akan Mengajakku Ke Kantornya. Ini Adalah Hari Pertamanya Bertemu Beberapa Rekan Kerjanya Hanya Untuk Sekedar Berkumpul Memberitahu Bahwa Kini Perusahan Milik Papahnya Telah Beralih Ketangannya. Pastinya Di Sana Akan Ada Banyak Orang - Orang Terpandang, Aku Tidak Ingin Membuat Nendo Malu. Jadi, Hari Ini Aku Harus Menggunakan Pakaian Yang Bagus. Biar Bagaimana Pun, Nendo Suami Ku, Meskipun Aku Sendiri Tidak Mencintainya.   Aku Harus Tampil Perfect! Bukan Nadya Kalo Gak Membuat Orang Terpesona!   Aku Membuka Lemari, Memandang Baju Yang Di Gantung Di Dalamnya. Padahal, Ada Banyak Baju Yang Bagus, Tapi Kalian Para Wanita Tentunya Sangat Tau Bukan? Sebanyak Apapun Pakaian Kita Para Wanita, Tetap Saja Jika Ingin Pergi Selalu Saja Bingung Mau Memakai Baju Yang Mana.   " Aduh, Pake Baju Yang Mana Ya? “ Aku Mulai Frustasi Memilah Baju Yang Akan Ku Kenakan, Sampai Akhirnya Aku Menyerah Dan Memilih Mini Dress Berwarna Merah Maroon. Perlu Kalian Ketahui Bahwa Aku Sangat Suka Menggunakan Mini Dress Karena Menurutku Perempuan Yang Memakai Mini Dress Itu Cantiknya Akan Tambah Dan Terlihat Manis, Selain Itu Juga Terlihat Seksi. Ha Ha Ha Itu Menurutku Sih Entah Kalian Setuju Atau Tidak Aku Gak Akan Marah Jika Tidak Sependapat.     Aku Menatap Diriku Di Depan Cermin Dari Atas Kepala Sampai Ujung Kaki, Menurutku Semuanya Sudah Terlihat Perfect. Lekukan Tubuhku Yang Katanya Body Goals Terlihat Jelas.   " Yuhuuuu, Hari Ini Gue Benar - Benar Terlihat Cantik Dan Seksi Sekali Dengan Mini Dress Merah Maroon Selutut Dan Rambut Gue Yang Lurus Ini Bawahnya Sengaja Gue Curly Biar Terlihat Lebih Badai. Oke Gue Keren! “ Aku Memutar Tubuhku Di Depan Cermin Sampai Akhirnya Kedatangan Nendo Membuatku Terkejut Dan Berhenti Berputar.   “ Nady, Lo Udah Selesai Dandan Ny…" Ucapan Nendo Terhenti Setelah Melihat Diriku. Dia Hanya Berdiri Sambil Memegang Gagang Pintu Dan Terdiam Melongo Menatapku. Entahlah Apa Yang Membuat Ia Seperti Itu, Mungkin Saja Ia Terpesona Melihat Kecantikan Ku Ini.   " Ngapain Bengong Di Pintu? Bukannya Masuk! " Ucapku Dengan Ketus.   " Engg... Enggak. Udah Siap Belum Ayo Kita Berangkat? " Ucap Nendo Dan Kami Berdua Pun Keluar Kamar Bersama Menuju Mobil Yang Terparkir Di Halaman Rumah.   Saat Di Perjalanan, Nendo Hanya Diam Saja. Aku Sendiri Bingung Kenapa Dia Seperti Itu, Padahal Biasanya Dia Yang Selalu Memulai Pembicaraan. Dasar Lelaki Aneh!   " Nendo, Gimana Penampilan Gue Hari Ini? " Tanyaku Memecah Keheningan Saat Di Dalam Mobil. Aku Penasaran Kenapa Dia Tidak Memujiku Sama Sekali, Biasanya Juga Dia Selalu Memuji Dan Mengeluarkan Gombalan Andalannya. Apa Ada Yang Salah Dengan Penampilanku Saat Ini? Ah Kurasa Tidak. Im Oke.   " Cantik. " Singkat Nendo Yang Sedang Menyetir Mobil.   " Itu Doang? Gak Ada Kata Lain, Selain Cantik? Ya, Kalo Cantik Mah Itu Udah Pasti Lah. " Ucapku Percaya Diri.   " Perfect. " Ucapnya Lagi.   " Hanya Itu Saja? " Aku Bertanya Lagi.   " Terus Apa Lagi Dong, Nady? " Mata Nendo Tetap Memandang Lurus Ke Depan, Ia Fokus Menyetir.   " Lo Itu Kalo Lagi Di Ajak Bicara, Liat Ke Orangnya Dong? Kenapa Sih? Lo Gak Mau Natap Gue? Dandanan Gue Terlalu Menor? Ngomong Aja Kalo Gak Suka! Gak Usah Sok Muji! " Aku Mulai Kesal Sendiri, Ada Apa Dengannya Yang Terlihat Kaku Seperti Itu? Seperti Bukan Nendo Yang Biasanya!   Nendo Menghentikan Mobilnya Di Pinggir Jalan, Setelah Memastikan Aman, Ia Membenarkan Duduknya Sedikit Miring. Matanya Menatapku Dalam - Dalam.   " Yaudah, Jangan Marah. Nih, Gue Tatap Wajah Lo, Kan? " Nendo Sudah Menatap Wajahku, Tapi Aku Masih Saja Kesal Dengannya Yang Sangat Menyebalkan. Bagaimana Tidak? Masa Aku Harus Memaksanya Untuk Memuji Diriku Hari Ini. Memalukan!   " Udah Gitu Doang? "  Ucapku, Untuk Apa Dia Hanya Menatapku Sekilas Lalu Kembali Melajukan Mobil. Dasar Cowok Aneh, Bukannya Senang Melihat Istrinya Tampil Cantik, Seksi Terus Keren Kayak Gini, Eh Malah Di Cuekin. Menyebalkan.   Tak Lama, Akhirnya Kami Pun Sampai Juga Di Kantor Milik Orang Tua Nendo.  " Udah Sampe, Ayo Kita Turun. " Ucap Nendo Dan Kami Pun Bergegas Turun Dari Mobil.   Saat Aku Turun Dari Mobil, Nendo Meraih Tanganku Lalu Di Genggamnya Dengan Erat. Ia Menuntunku Masuk Ke Dalam Perusahaan. Aku Merasa Sedikit Terkejut Menatap Tanganku Kini Terpaut Menjadi Satu Dengan Tangan Nendo, Karena Sedang Tidak Ingin Berdebat Jadi Aku Memilih Diam Saja Dan Membiarkan Tanganku Di Genggamnya Meskipun Dahiku Kini Sedikit Berkeringat Mendapati Perlakuan Ini.   " Selamat Pagi, Pak Nendo. " Sambut Penjaga Yang Sudah Ada Di Depan Pintu Masuk Kantor. Sepertinya Mereka Sudah Kenal Dengan Nendo . Ya Iyalah, Dia Anak Pemilik Perusahaan Ini. Tidak Mungkin Jika Mereka Tidak Mengenalnya.   " Pagi. " Sahut Nendo Dengan Senyuman Yang Terlihat Di Wajahnya. Selain Itu Masih Banyak Lagi Yang Menyambutnya Dan Di Balas Dengan Ramah Oleh Nendo.   Sepertinya Dia Orang Yang Benar - Benar Dermawan Dan Friendly, Tapi Kok Aku Jadi Risih Ya, Kalian Tau Kenapa? Karena Seluruh Orang Yang Ada Di Kantor Memandangku Dengan Penuh Rasa Penasaran Seperti Tatapan  Ingin Tahu.   ‘ Itu Siapanya Pak Nendo??? ‘   Kami Berdua Menuju Lantai Atas Menaiki Lift , Aku Menarik Tanganku Agar Terlepas Dari Genggamannya. “ Udah Gak Usah Di Gandeng Terus. ” Ucapku Sambil Memasang Wajah Jutek, Tapi Dia Hanya Diam Saja Tak Menjawab.     Hey Ada Apa Denganmu Nendo! Kau Sangat Menyebalkan Bertingkah Cuek Seperti Itu! ** NEXT --->
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN