Dengan mata sendunya, Samantha memandang zidane yang tampak pula di dalam stroller dengan iri. Karena pemandangan di depan matanya mengingatkan akan keinginannya beberapa minggu yang lalu. Yaitu mengandung buah cintanya dengan Adam. Tapi sayangnya Samantha harus mengubur keinginan itu dalam-dalam. Sebab kenyataannya, setelah penyatuan mereka malam itu, Samantha tidak mendapati dirinya hamil. Tamu bulanannya datang seperti biasanya. Hal ini membuatnya kecewa bukan main, karena bagaimanapun Samantha menginginkan benih dari laki-laki yang dicintainya tumbuh di dalam perutnya. Menemaninya pada kehidupannya kelak meski surat perceraian telah ia kirimkan kepada Adam. Dan sebulan lamanya Samantha menunggu surat perceraian itu tak kunjung kembali kepadanya. Tanpa disadarinya, memikirkan kehidupan

