Evander masih sibuk menatap teleponnya setelah itu semua, bingung pada tingkah laku sang kekasih yang tidak biasa. Alisnya mau menyatu dalam heran dan usaha kerasnya untuk berpikir yang tidak menghasilkan apa-apa. Hingga akhirnya, “Tuan!” Suara agak keras dari sang sekretaris membangunkannya dari khayalan dan jutaan pikiran buruk yang menghantui kepalanya yang kelelahan. Evan menjawab cepat, “Apa, apa?” Menggelengkan kepalanya sembari menatap sang sekretaris yang masih menunggu dia benar-benar sadar. “Rapat selanjutnya akan segera dimulai.” Sebuah kabar yang Evander tidak sukai, tidak saat dia masih memiliki beban pikiran sebanyak ini. Dia menarik mundur lengan jasnya dan menatap pukul yang ditunjukkan jam tangan mahal di pergelangan tangan, menemukan bahwa sang sekretaris tidak b

