Freya menatap bulir-bulir air hujan yang menempel di jendela mobil tepat disampingnya. Terkadang ia menyentuh kaca itu dan mengusap embun disana, pertanda cuaca ibukota sore ini cukup menusuk sampai tulang. Untung saja AC mobil sudah dikecilkan. Jika tidak bisa-bisa ia akan kedinginan didalam sini. Entah kenapa langit yang tadinya cukup cerah mendadak sangat mendung bersamaannya dengan kedatangan Ezra menjemputnya. Joselyn pun juga pulang dengan mobilnya sendiri setelah ia dijemput. Memang sahabat terbaik. “Mau mampir ke suatu tempat dulu? Atau makan?” “Kemana?” tanya Freya tanpa mengalihkan pandangannya dari jendela mobil. “Kemana pun asal bisa merubah wajah murung kamu itu. Tau gak? Sangat gak enak dilihat tau!” protes Ezra akhirnya. “Gak usah dilihat kalo gak enak!” balas Freya ya

