Sudah lama rasanya Gisa meninggalkan Negara kelahirannya. Hari, Bulan, tahun sudah banyak berlalu. Rasa sakit, kecewa, marah semuanya masih terasa dengan jelas. Setiap mengingat kejadian yang menimpanya 6 tahun yang lalu, membuat Gisa merasa sangat gelisah. Ia takut bertemu dan berhubungan lagi dengan pria yang paling ia benci. Hal yang paling Gisa takutkan adalah kehilangan putrinya. Ia takut jika pria itu datang dan mengambil putrinya. Perasaan takut itu semakin menjadi-jadi mengingat Gisa sudah kembali menginjakkan kakinya di Negara kelahirannya. Gisa keluar dari bandara bersama dengan Eva. Ia menggendong seorang gadis kecil yang sedang tertidur lelap. Terlihat jelas kekhawatiran di wajah Gisa. Pandangannya beredar melihat sekelilingnya. Takut apa yang ditakutkannya akan terjadi. "K

