1 : Selamat tinggal keluarga

1580 Kata
Biasakan diri untuk Like dulu sebelum membaca! karena dengan masih untungnya cerita ini tidak berbayar. alias Gratis tis tis tis ❤️ Ok Happy Reading BesTAI.... "Sari anaku, nanti di Jakarta jaga kesehatan ya! Jangan lupa makan, jangan lupa ibadah sama Allah!" Ucap Ibuku. Kami sedang perpisahan di terminal Bus, yang ada di Kabupaten Majalengka Jawa Barat. Bapak, ibu, Kirana adiku juga ikut mengantarkan kepergianku. Sebenarnya aku sangat sedih, telah membohongi mereka, dengan alasan aku bekerja di Perkantoran yang ada di Jakarta. Padahal aku disana akan menjadi seorang pembantu. Mataku berkaca-kaca melihat Ibu memberikan beberapa lembar uang ratusan ribu untuk bekalku sebelum gajian. Padahal aku bekerja di Perumahan, jadi tidak mungkin kekurangan makan. Namun karena mereka mengira aku kerja di Kantor, Ibu sampai membela-belakan meminjam uang kesana kemari untuk bekalku. Aku menerima uang tersebut. Sambil menangis aku memeluk ibu. Bapak juga ikut memeluk. Sementara Kirana hanya memainkan handphone-nya pura-pura tidak melihat kami, malu karena kelakuan keluarganya yang terlalu lebay. "Bapak sama ibu juga baik-baik di Majalengka, Sari pasti langsung kirim uang setelah gajian pertama." Ucapku. "NENG BURUAN!! BUS MAU BERANGKAT!" Ucap mamang knek Bus. Akhirnya aku naik kedalam Bus jurusan Cikijing Majalengka--Bekasi. Bus mulai menyala untuk segera berangkat, namun mataku masih saja memandang ke kaca jendela untuk melihat keluargaku yang melambai-lambaikan tangannya tanda perpisahan. Keadaan Bus cukup penuh, selama perjalanan aku tidur sambil mendengarkan lagu dari earphone. Bus juga sedang melewati Tol Cipali, beberapa kali Bus berhenti di Rest Area untuk mengisi bahan bakar. Setelah beberapa jam, aku sampai di Bekasi untuk Menuju Bus Jakarta. Kira-kira satu jam aku sampai di Jakarta. Aku naik angkutan umum untuk menuju rumah majikanku. Mataku terus saja melihat keatas untuk memandang gedung-gedung yang menjulang tinggi. Beberapa kali aku memotret gedung itu untuk dikirimkan pada Ibu di kampung. Jujur saja, ini kali kedua aku ke Jakarta. Dulu pernah sekali aku ke Jakarta waktu SD, yaitu untuk mengantar Uwa berangkat ke Bandara untuk naik haji. Setelah itu aku tidak pernah lagi. Karena aku hanyalah anak rumahan yang jarang kemana-mana. "Pak Saya Sari Arianti Lestari, mau ketemu ibu Monica" ucapku pada Satpam rumah, karena aku sudah sampai di alamat tujuan. "Oh Pembantu baru ya neng dari Majalengka?" Tanya nya. "Iya" "Yaudah masuk neng, kebetulan nyonya lagi nganter dek Marsya ke SD. Nanti juga dateng" ucap Pak Satpam padaku, lalu dia membukakan gerbang rumah. Mataku terus saja menekuri bangunan megah itu. Warna Catnya putih dengan rumah tiga lantai. Serta dinding yang didominasi oleh kaca, sehingga membuat kedalaman rumah bisa terlihat dari luar. Sungguh sangat indah bangunan itu, ditambah tanaman bunga dan rumput-tumput yang tertata rapi di pekarangan rumahnya. Membuat orang yang baru berkunjung begitu mengagumi rumah itu. "SARIIIIII" teriak seorang perempuan yang seumuran denganku. Dia Fitri, teman sebangku ku waktu SMP. Aku sering curhat padanya, tentang aku yang tak kunjung mendapatkan pekerjaan. Dan pekerjaan inipun aku ditawarkan oleh Fitri. Hingga aku sekarang datang kesini juga tak luput dari bantuan darinya. Fitri berlarian dari dalam rumah menyambutku. Dia memeluku karena sudah sangat lama tidak bertemu. Satpam disebelahku juga tersenyum, melihat betapa hebohnya Fitri menyambut kedatanganku. "Akhirnya kamu datang juga Sar, aku kira kamu bakalan nyasar" ucap Fitri sambil memegang pundaku. Aku terkekeh sedikit. "Gak bakalan lah Fit, kan sekarang ada mamang Google" "Oh iya ngomong-ngomong soal Mamang, kenalin Sar ini mang Ujang satpam terkuat di komplek ini, dan mang ujang ini Sari Arianti Lestari temen Fitri waktu SMP. Dulu kita sekelas" ucap Fitri. Sepertinya julukan Satpam terkuat memang benar adanya, badan Mang Ujang memang tampak sangat besar. Namun bukan besar oleh lemak, tapi besar oleh otot. Jadi Rumah ini bakalan aman dari maling. "Hallo mang ujung nama Saya Sari" ucapku sambil mengulurkan tangan untuk berkenalan. "Hehehe saya Ujang neng dari Kuningan, kalo neng Sari mang Ujang udah tau, dari Majalengka kan?" Aku terkekeh. "Iya mang hehehe tetangga kabupaten ternyata." "Yaudah mang Ujang, Fitri mau bawa Sari ke kamar dulu ya" kata Fitri. Aku dan Fitri lalu masuk kedalam kamar yang terletak tidak jauh dari dapur. Kamar itu lumayan luas untuk ukuran seorang pembantu, lalu aku istirahat dikasur itu yang ternyata kamar itu juga ditempati oleh Fitri. Karena tidak ada lagi sisa kamar. "Kamu cape kan Sar? Sekarang kamu istirahat dulu! Nanti kalo nyonya Monica udah dateng aku pasti bangunin kamu ko." Aku mengangguk, lalu benar-benar tertidur pulas setelah memasukan barang kedalam lemari. *** Matahari mulai terbenam, aku juga telah bertemu Ibu Monica, Majikanku. setelah lumayan berbincang mengenai pekerjaanku, ternyata aku ditempatkan sebagai pengasuh anak SD kelas 4, namun tetap saja tugas utamaku mengurus rumah bersama Fitri. Karena dia terkadang kewalahan jika sendirian. Pekerjaan Ibu Monica sebagai Dokter THT, sementara suaminya Dokter Bedah. Namun katanya dia juga mempunyai anak laki-laki, yang sekarang masih kelas 3 SMA. Aku belum bertemu dengannya, karena sampai sore ini dia belum pulang. "Sar tolong bawain makanan ini ke meja makan ya!" Titah Fitri setelah selesai memasak. Aku begitu kagum padanya, dia sangat pintar memasak. Juga Pintar mengurus rumah, untung saja aku disuruh mengasuh anak-anak, bukan disuruh mengurus rumah. Kalo aku mengurus rumah, mungkin aku pasti kewalahan. Namun tetap saja, Nyonya menyuruhku membantu Fitri selagi Marsya__anaknya, ada dirumah dan Nyonya juga ada dirumah. "Baik Fit" Satu persatu Aku bawa makanan ke meja makan. Disana sudah ada Dek Marsya, Nyonya Monica dan Tuan Pram suaminya. Namun anak yang satunya lagi belum datang, yang katanya anak yang sudah SMA. Seketika saat aku telah selesai membawa nasi dan lauk pauk, terdengar suara motor berhenti diluar rumah. Nampaknya itu anak Ibu Monica yang baru datang. Anak laki-laki berseragam SMA itu akhirnya memasuki rumah dengan wajah penuh dengan bekas luka, dan beberapa lebam di wajahnya, seperti habis berkelahi. Bahkan Jas Almamaternya dia taruh diatas pundak. Laki-laki itu berjalan menghampiriku, lebih tepatnya menghampiri meja makan. "JUAN KAMU TAWURAN LAGI?" teriak Pram papanya. Aku hanya membatu ditempat, melihat majikan laki-lakiku berteriak pada anaknya. Sedangkan Marsya, dia mendekati mamanya karena takut. "Sabar pah!" Titah Ibu Monica mencoba menenangkan suaminya. "BAGAIMANA PAPAH BISA SABAR, ANAK KAMU INI MAU JADI APA NANTI SETELAH LULUS DARI SEKOLAH? BAHKAN KULIAH AJA GAK BAKALAN BENER, PAPA GAK YAKIN DIA BISA MENDAPATKAN PEKERJAAN" ucap Pak Pram dengan nada yang begitu tinggi. Sedangkan Juan tampak biasa saja mendengar papanya mengomel. Aku juga rasanya ingin sekali menceramahi Juan. Pasalnya aku benar-benar mengalami hal yang tadi Pak Pram katakan. Aku saja yang dulu bersikap biasa saja di sekolah ataupun kampus, tapi berakhir menjadi pembantu. Apalagi Juan yang berkelakuan seperti preman. Ckckckck suatu saat kamu bakalan mengalami susahnya cari Kerja Juan! "Udah ngomelnya Pah? Kalo gitu Juan keatas dulu" ucap Juan sambil berlalu meninggalkan ruang makan. "Astaga Ma, anak kamu bener-bener...." Gumam Pak Pram sambil menghembuskan napasnya degan susah. Ibu Monica menatapku, dia melambaikan tangannya untuk aku mendekati kursinya. Lalu dia berbisik ditelingaku. "Sari, nanti setelah acara makan selesai. Kamu anterin makanan ke kamar Juan ya!" Bisik Ibu Monica. Aku mengangguk. Lalu permisi pergi ke dapur. *** Acara makan malam sudah selesai, Fitri dan aku juga baru saja beres membersihkan piring-piring kotor. Namun aku tiba-tiba baru mengingat titah Ibu Monica padaku. Sambi menepuk jidatku, aku pergi ke meja makan yang masih tergeletak makanan, akupun mengambil beberapa lauk untuk diletakan di atas piring. Selanjutnya aku pergi ke lantai dua untuk menuju kamar Juan. Sebelum mengetuk pintu, aku mendengar suara Gitar dipetik, dengan suara seorang laki-laki bernyanyi. Suaranya begitu lembut dan indah, aku tahu itu pasti suara Juan. Lalu akupun mengetuk Pintu itu. Tuk tuk tuk Juan tak berhenti bernyanyi, aku kembali mengetuk pintu itu untuk kedua kalinya. Namun Juan tetap saja bernyanyi. Apa dia tidak mendengarnya? Aku kembali mengetuk. "Den ini saya Sari, mau nganterin makanan" ucapku untuk pertama kalinya. Setelah mendengar suaraku, akhirnya Juan berhenti memainkan Gitar dan bernyanyi. Lalu membukakan pintu kamar itu. "Maaf mbak saya tidak pesan makanan" ucapnya. Lalu... Brakkkk. Pintu kamarnya ditutup tiba-tiba tanpa mempersilahkan aku untuk berkata. Sambil membawa nampan makanan, aku terus saja mengetuk pintu itu. "Den makan ya! Nanti Nyonya pasti khawatir Den Juan gak makan" ucapku dengan nada agak keras. Kemudian tak berapa lama Juan membuka pintu kamarnya, dia melipat kedua tangannya di d**a sambil menatap ke arahku. "Lo lulusan Apa? Kalo SMP gue gak bakalan makan, kalo SMA gue bakalan makan" ucapnya dengan nada songong. Aku menghembuskan napas pelan, ucapan Juan begitu tidak sopan dengan orang yang lebih tua darinya. Kalo bukan anak majikan, itu mulut udah aku bejek-bejek. Umpatku. "Saya lulusan S1" jawabku. "Hah S1? Hahahaha" tawanya pecah. Lalu kembali fokus melihatku. "Sorry gue gak terima lulusan SD" ucap Juan. "Kata siapa saya lulusan SD? Saya sarjana Ekonomi jurusan Management, kenapa memangnya?" Tanyaku dengan bangganya, yah aku tahu sih jika lulusan S1 jadi pembantu pasti jadi bahan olokan. "Hahahaha lo becanda?" Kini Juan kembali tertawa. "Saya gak bercanda, buktinya ini" kataku sambil memperlihatkan layar Wallpaper di Ponsel yang disana terdapat Foto aku sedang wisuda sambil membawa rapot dan bunga. "Jjjadi lo benerna sarjana?" Tanya Juan yang kini membulatkan matanya. Lalu entah kenapa dia kembali tertawa terbahak-bahak. "Lo beneran sarjana Ekonomi, dan sekarang lo jadi Pembantu? Hahahaha berarti lo b**o" ucapnya sambil tertawa dengan tangan memegangi perutnya. Aku menggeram, karena diolok-olok oleh anak SMA. Dengan segera aku meletakan nampan makanan di atas lantai, lalu memperlihatkan hasil nilaiku yang ada File-nya di ponsel. "Saya gak b**o, buktinya IPK saya bagus" kataku sambil memperlihatkan IPK-ku yang cukup tinggi. Juan terdiam, kemudian berkata sambil menatapku. "Lo lulus jadi pembantu gue, sekarang lo masuk kamar!" Ucapnya, lalu menariku kedalam kamarnya setelah aku mengambil kembali nampan yang ada di lantai. "EH MAU NGAPAIN?" Teriaku. Bersambung Wajib komen! kalo gak komen p****t lo bisulan hahahahaha follow sekalian juga ya bestai ?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN