Mata Juan mulai perlahan terbuka. Kejadian semalam begitu terekam jelas di dalam otaknya. Dia melihat sekelilingnya, matahari mulai masuk melalui jendela kamarnya. Juan mengucek-ngucek matanya. Punggungnya terasa nyeri, karena semalam dia tidur di Sofa yang ada di dalam kamarnya. Juan menghela napasnya atas insiden semalam. Kue tart coklatnya mungkin sekarang sudah mengeras, dengan sisa yang masih banyak di atas meja. Dia melihat jam dipergelangan tangannya, waktu sudah menunjukan pukul sepuluh pagi menjelang siang. Sontak saja mata Juan langsung melotot lebar. Dia tidak sekolah, dan yang paling penting, Juan tidak melihat kepergian terakhir Sari. Tangan Juan langsung membuka pintu, berlarian menuruni tangga rumahnya. Dan disana tidak ada siapa-siapa. Juan berlari keluar, disana ada Fitr

