4. Terlihat Namun Tak tergapai

1428 Kata
Tanpa berpikir sedikit pun juga Abrisam nekat menghadang mobil Zoya dengan mobilnya hingga kedua mobil itu berdecit hebat dan menimbulkan jejak di jalan aspal yang panas. Laki-laki dengan jas rancangan desainer terbaik Indonesia itu keluar dengan semua amarah yang tersimpan sejak sepuluh tahun lamanya. Seumur hidup ia tak pernah menyimpan amarah sebesar ini. Tidak pernah. Zoya dengan pandangan yang amat sangat mengenal wajah arogan laki-laki di hadapannya itu kini sedang menatap dengan jengah dari balik kaca mobilnya. Laki-laki itu sedang memukul-mukul kasar pada kaca jendela mobilnya, memintanya untuk segera keluar. Zoya sangat tahu yang akan ia hadapi bukan lagi kemarahan seorang ayah, melainkan kemarahan seorang laki-laki yang pernah ia tinggalkan sepuluh tahun lalu. "Kalau kamu ingin aku minta maaf kepada kamu, aku akan minta maaf untuk kejadian hari ini," kata Zoya ketika ia sudah berdiri tepat di hadapan laki-laki yang seluruh kulitnya sudah sangat merah karena marah itu. Wajah laki-laki itu jauh lebih menakutkan bagi Zoya yang dahulu sudah terbiasa menghadapi amarahnya. Namun Zoya berusaha menatapnya tanpa takut atau pun lemah. "Urusan-kita-belum-selesai." Napasnya memburu, rahangnya mengeras, dan sekali lagi wajahnya berubah menjadi merah. "Urusan kita sudah selesai sejak aku pergi meninggalkan kamu Abrisam Zaidan--" Zoya membuka pintu mobil hendak masuk ke dalam mobilnya namun tangan kokoh Abi menahan dan pintu mobilnya langsung ditutup kembali oleh Abi, "ABI!" teriak Zoya ketika ia ditarik paksa untuk masuk ke dalam mobil laki-laki itu. "Abi plis lepasin tangan aku!" dia terus memohon meski mustahil. Abi! Abi? Kamu masih memanggil aku Abi? Masih dengan wajah marahnya Abrisam atau biasa dipanggil Abi hanya oleh Zoya, menutup pintu mobil untuk Zoya dan ia pun segera duduk di balik stir. Ia akan membawa Zoya ke tempat terakhir mereka bertemu. Ketika pertengkaran itu terjadi. Dan Abi sangat yakin, benar-benar pertengkaran itu telah membuat Zoya semakin membencinya hingga sanggup menghilang darinya. Dari hidupnya. Dermaga Marina Ancol, menjadi saksi pertengkaran mereka terakhir kali ketika itu. Abrisam sangat marah sehingga tak mengejar Zoya yang pergi darinya saat itu. Mereka datang bersama tapi kemudian pergi sendiri-sendiri membawa ego masing-masing. Kali ini, di tempat yang sama, Abrisam ingin mengulangnya untuk alasan yang berbeda. Ia menarik gadis itu hingga berhenti di dermaga. "Katakan apa alasan kamu meninggalkan aku?" deru napas Abi mampu mengalahkan deru suara ombak yang mengempas lautan saat ini. "Abi--kita sudah selesai. Jangan memulai pertengkaran itu lagi. Jangan memulai apa pun lagi." "Tidak. Tidak akan pernah selesai sampai kamu punya alasan untuk meninggalkan aku di saat aku sangat--" Abi menggantung kata-katanya namun tatapan matanya tak pernah mampu membohongi untuk selalu menyimpan hanya satu orang wanita saja di mata dan hatinya. "Kamu sudah menikah Abi, bahkan kamu saat ini sudah memiliki seorang putri, dan itu artinya kamu bisa tanpa aku. Kamu-bisa." Sekuat tenaga Zoya menahan untuk tidak menangis di hadapan laki-laki ini lagi. "Zoya--aku sangat membutuhkan seseorang untuk menguatkan aku saat itu." Wajahnya seketika berubah menjadi menyedihkan ketika ia mengatakan itu. Dan sekarang kembali dengan wajah amarahnya."Katakan sekarang. Apa yang kamu pikirkan saat meninggalkan aku Zoya Aidan?" paksanya sekali lagi. "Kita adalah dua orang yang nggak bisa terus bersama, Abi. Tidak bisa." "Kenapa?" Abi ingin sekali berteriak sekeras yang ia mampu ketika bertanya satu kata itu kepada Zoya. "Akan selalu ada pertengkaran di antara aku dan juga kamu. Kamu yang sangat pemarah, dan aku ... keras kepala. Aku ingin selalu bebas memilih apa pun yang aku mau, dan kamu yang selalu ... penuh dengan aturan kamu, Abi." "Aku--maafkan aku tidak bisa sebaik yang kamu inginkan, Zoya." Abi tertunduk dalam kali ini. Kemudian ia kembali mengangkat kepala dan berkata, "aku ... adalah aku yang seperti yang kamu kenal. Tidak akan berubah. Jika memang kamu tidak bisa mencintai aku yang seperti ini, baik. Lupakan semua yang terjadi di tempat ini, baik sepuluh tahun lalu--juga hari ini. Maaf." Abrisam pergi meninggalkannya. Zoya tak dapat membaca kata-kata orang yang sudah sangat ia kenal sebelumnya. Mengapa dia seperti itu? Seperti memaksakan sesuatu, tapi kemudian ia menyerah. Zoya mengembuskan napasnya sedikit terengah menahan sesak, ia menangis tak dapat menahan air di mata indahnya. Air mata yang sejak sepuluh tahun lalu tak pernah ia keluarkan untuk seorang Abrisam lagi, akhirnya ia tumpahkan juga hari ini. ... Kita memang tidak akan bisa bersama Abi... Tidak akan pernah... Zoya tak bisa menahan sesak di dadanya dan tak mampu membendung air mata yang sejak lama ia tahan. Abrisam memantapkan langkahnya meninggalkan wanita yang sepuluh tahun lalu telah meninggalkannya di tempat yang sama. Sampai di mobil, untuk pertamakali ia menangisi seorang wanita. Ia memukul stir mobilnya beberapakali dengan kesal. Terus menerus memukulnya. "Kamu tidak pernah mengerti mengapa aku seperti itu Zoya!" "Baiklah aku pergi!" "Kita akan sama-sama pergi!" "Tidak akan pernah ada lagi cinta di dalam hidup aku Zoya. Tidak ada! Tidak akan pernah ada selain kamu." Seorang Abrisam Zaidan Faeyza mampu merengek seperti anak kecil hanya karena satu orang wanita saja yaitu Zoya Aidan Habsyi. Mengapa cinta begitu rumit? Terlihat, namun tak tergapai. Berhadapan, namun tak saling berpandangan. __ (Firman Siagian : Bukan Kamu Tapi Kamu) Yang, aku tak mengerti 'Ku merasa tak mengenalmu lagi Ini kamu, bukan kamu, tapi kamu Apa pun yang telah kulakukan Di matamu aku selalu salah Aku tahu ini hanya mencari-cari Sa-lah-ku Sayang, bilang saja Jelaskan padaku Katakan saja Aku tak mengapa Bila memang aku sudah Tak bisa membuatmu bahagia Perpisahan jalan yang terbaik Apa pun yang telah kulakukan Di matamu aku selalu salah Aku tahu ini hanya mencari-cari Sa-lah-ku Sayang, bilang saja Jelaskan padaku Katakan saja Aku tak mengapa Bila memang aku sudah Tak bisa membuatmu bahagia Perpisahan jalan yang terbaik… ___ Ketika ia ditinggalkan oleh Zoya, adalah merupakan pukulan terkuat dalam hidup seorang Abrisam Zaidan Faeyza. Hatinya hancur, remuk. Wanita pujaan hatinya itu, satu-satunya wanita yang telah berhasil mengambil hatinya--menghilang darinya dengan membawa semua perasaan cinta yang telah ia beri seutuhnya. Wanita itu, Zoya Aidan Habsyi, kekasihnya yang telah berani meninggalkan dirinya--membawa separuh hidupnya pergi. Abrisam berjuang keras melawan perasaannya yang hancur ketika ditinggalkan oleh Zoya. Kekasihnya itu, pujaan hatinya, justru pergi ketika semua telah ia pikirkan matang-matang untuk segera melamar dan menikahinya. Dia justru tidak ingin segera menikah di saat semua telah direncanakan dengan baik oleh dirinya maupun kedua orang tuanya yang telah sangat menginginkannya untuk segera menikahi Zoya. Wanita yang telah direstui oleh seluruh keluarganya untuk menjadi anggota keluarga Zaidan Faeyza yang sangat terpandang. Semua orang telah mendengar berita tentang bahwa Zoya adalah calon menantu keluarga Zaidan Faeyza yang termasuk keluarga pengusaha sukses di Indonesia. Dan dengan menghilangnya Zoya dari kehidupan Abrisam Zaidan Faeyza, putra pertama Abraham Zaidan Faeyza yang sangat terpandang itu, telah menjadi berita besar. Berita yang cukup buruk untuk keluarga mereka yang membuat Tania Zaidan Faeyza, mama Abrisam sangat marah kepada Zoya yang telah meninggalkan putra kebanggannya. Banyak yang akhirnya mempertanyakan apa yang terjadi pada Abrisam hingga ia yang begitu tampan dan sukses, begitu sempurna di mata semua wanita, bisa ditinggalkan pergi oleh kekasihnya, calon istrinya. Pertanyaan besar, dan gosip yang hangat ketika itu. Lalu kini setelah sepuluh tahun, wanita itu kembali di hadapannya lagi. Abrisam masih termenung di balkon kamarnya, memandang langit malam, menahan terpaan lembut dingin angin malam, menikmati sendiri yang sepi. ... Lalu untuk apa kamu kembali di hadapan aku, jika akhirnya aku tetap tidak bisa memiliki kamu, Zoya... Apakah seperti ini cinta? Begitu indah ketika dimiliki... Teramat menyiksa ketika ditinggal pergi... Zoya... Tidak bisakah kau kembali... __ (Firman Siagian : Rindu Serindu-rindunya) Berikanlah jawaban Huraikanlah simpulan Biar tenang jiwaku Setelah kasih lama berlalu Tidak mungkin 'ku lupa Perjanjian kita Di bawah rumpun bambu Di kala bulan sedang beradu oh-oh Mengapa terjadi perpisahan ini Di kala asmara melebar sayapnya Mengapa kau pergi di saat begini Di kala hatiku terlukis namamu Kalau memang tiada jodoh Apa lagi nak 'ku heboh Aku malu pada teman Pada semua Rindu, rindu serindu rindunya Namun engkau tak mengerti oh-oh Pilu, pilu sepilu pilunya Namun engkau tak perduli Malu semalu malunya Namun apa daya orang tak sudi Mahu semahu mahunya Namun apa daya orang dah benci... ____
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN