Moza membuat janji bertemu dengan Zoya di sebuah kafe tidak jauh dari kantor Zoya. Sepertinya Moza sengaja agar Zoya tak dapat menolaknya dengan alasan jarak. Hatinya melompat gembira ketika mendapati wajah yang ia nanti sejak tadi sudah muncul di ambang pintu kafe.
"Hai..., apa kabar?" Zoya langsung menyapanya begitu sampai di cafe.
"Alhamdulillah, aku baik. Maaf ya Mbak, ngerepotin kamu yang lagi sibuk di kantor aku suruh datang."
"Ah, nggak papa kok, sudah waktunya makan siang juga nih, sekarang. Kebetulan lagi ada yang mau nraktir, rezeki nggak boleh ditolak, kan." Zoya menarik kursi untuk duduk.
"Iya. Sekalian nunggu anak-anak pulang sekolah." Moza tersenyum, merasa puas bisa bicara dengan Zoya.
"Oh ya, kamu dapet kontak telepon aku dari mana?" selidik Zoya dengan senyum ramahnya.
"Aku minta sama Talita, si pengantin baru yang ngundang kita di pernikahannya itu loh."
"Oh iya, Talita. Masih honeymoon dia. Teman aku kuliah dulu, terus udah gitu kita juga sering ketemu urusan kerja." Zoya menyibakkan rambutnya sangat pelan, ia selalu merasa canggung dengan rambut terbukannya jika di hadapan wanita berhijab.
"Kalau aku sih, yah... masih ada aliran saudara jauh dari nenek aku gitu deh."
"Oh, gitu."
Mereka mulai makan sebelum akhirnya bicara serius.
"Mbak, aku... ingin bicara hal yang sangat penting."
"Ten-tang?" Zoya mengernyit penasaran, ia merasa tak pernah bertemu apalagi berurusan dengannya hingga dia memiliki sesuatu yang begitu penting untuk disampaikan kepada dirinya.
"Soal... Kak Sam."
"Abrisam? Iya, kenapa?" akhirnya Zoya dapat menebak arah pembicaraan Moza, tentunya sebagai adik dari istri mantan kekasihnya, Abrisam.
"Kenapa kalian... sampai putus waktu itu?"
"Aku dan Abi, maksud aku Abrisam,mm... sebenarnya nggak ada kata putus di antara kita. Kita pisah gitu aja, tepatnya aku yang ninggalin dia."
"Alasannya?" satu pertanyaan itu memiliki banyak arti bagi Moza.
"Mm..., sifatnya. Ya, intinya kita adalah dua pribadi yang sangat bertentangan. Nggak bisa nyatu. Aku yang selalu salah, dan dia yang selalu benar. Dia yang bebas melakukan apa pun, dan aku yang harus dalam aturannya dia. Aku nggak bisa seperti itu. Aku orang yang ingin melakukan apa pun yang aku mau. Bebas, tanpa in-ter-vensi. Terlebih lagi soal impian aku."
"Tapi Kak Sam yang aku kenal nggak seperti itu. Dia sangat baik dan lembut kepada Marwa."
"Dia begitu kepadaku. Dia juga sangat pemarah kepadaku. Aku nggak suka itu. Berusaha untuk terus bersabar, pada akhirnya nyerah juga. Akhir cerita--aku pun pergi."
"Mbak, setiap orang tentu punya cara mengungkapkan kekesalannya. Aku tau banget Kak Sam seperti apa. Dia bisa sangat pemarah pada satu alasan tertentu. Tapi dia laki-laki baik. Sangat baik. Aku tau dia kakak seperti apa, suami yang seperti apa, dan ayah yang bagaimana."
Zoya menatap wanita di hadapannya, mencari pembenaran atas kata-katanya barusan. Dia, Moza mungkin jauh lebih lama mengenal Abi dibandingkan dirinya. Tapi tidak lebih dalam darinya. Abi memang baik, Zoya tahu itu. Sangat tahu. Tapi untuk hidup bersama dengan seorang arogan, ia sulit. Abi arogan, dan ia sendiri keras kepala. Seperti api dan bensin jika bersama.
"... Wanita seperti apa, kakakmu, Marwa itu? Aku jadi kagum dengannya, dia hebat bisa meredam seorang... Abrisam."
"Kalau Kak Sam api, maka Kak Marwa adalah air, atau bahkan embun yang menyejukkan."
"Dan aku seperti bensin, bagaimana bisa bersatu dengan api?"
"Aku nggak yakin Mbak seperti itu. Ya, seenggaknya, lihat Valery. Dia jatuh cinta sama Mbak sejak pertama kali melihat di pesta itu. Dia itu anak yang luar biasa cerdas. Yah, sangat mewarisi... ayahnya, itu sebabnya mereka suka bertengkar, karena mereka sama."
Zoya tertawa, "sepertinya aku sudah bisa menemukan kesamaan mereka. I know."
"Yah, seperti itulah."
"Mm, usia berapa Val ditinggal ibunya?"
"Lima tahun. Dan dia tidak pernah menangis saat ibunya sakit. Katanya, kalau aku nangis ibu akan lebih sakit jadi aku harus selalu senyum supaya ibu kuat."
"Anak yang sangat pintar."
"Kemudian tangisnya pecah ketika tak melihat lagi senyum ibunya untuk ia beri senyum."
"Tapi lihat dia sekarang, siapa mengira dia... kehilangan ibu. Dia nakal ya, dia sangat ingin tau segalanya."
"Yeah benar, dia nakal. Dan apa kamu tau, dia sengaja menumpahkan sirop pada... gaunmu?" Moza tersenyum geli.
Zoya terbelalak, lalu tertawa. "Sama sekali tidak terpikirkan. Apa itu adalah cara agar dia... duduk dengan aku?" melipat tangannya.
"Ehem..., lebih dari itu. Kata Kevin, dia saat melihat kamu dia sudah membicarakanmu. Kamu cantik. Lalu Kev berkata, mami bilang baik lebih penting daripada cantik. Dan si cerdas Val langsung melakukan itu hanya untuk tau apakah tante yang cantik itu juga baik. Dan lihat sekarang hasilnya. Tante cantik dan baik."
"Oh Tuhan, masyaAllah..., benar-benar sangat pintar."
"Hmhm, kamu jatuh hati padanya, kan? Ayolah, pikirkan ayahnya juga."
"Moza?" Zoya mendelikkan matanya.
"Anggaplah aku adikmu, katakan semua padaku."
Zoya menggeleng, "apa maksudmu katakan semua pada kamu?"
Moza memegang tangannya, memandang lebih dekat. "Mbak, aku tanya, Mbak sekarang hanya masih marah atau sudah nggak cinta?"
"...?"
"Mbak nggak bisa jawab, kan?" Moza meluruskan punggungnya kembali. "Aku tanya lagi. Sampai sekarang, Mbak belum menemukan pria lain, masih sendiri selama sepuluh tahun menghilang, tetap sendiri sampai sekarang, itu kenapa?"
"...?"
"Masih nggak bisa jawab, kan?" ia tersenyum lembut, lalu kembali berkata, "Mbak Zoya itu pergi dari Kak Sam karena marah--sampai sekarang, masih marah. Bukan karena tidak cinta lagi. Jadi, masih-marah, bukan tidak-cinta. Nah, sekarang gimana kalau... Mbak singkirkan perasaan marah itu, maka yang tinggal hanya perasaan masih cinta."
"Moza--nggak semudah memisahkan kata perkata seperti itu."
"Semarah apa sih, Mbak Zoya saat itu?" tanya Moza pandangannya menyelidik.
"Abi, maksudku Sam..."
"Akhirnya aku tau siapa wanita yang punya panggilan spesial itu."
"Oh, Moza plis, itu hanya nama panggilan biasa."
"Tapi dia hanya menginginkan satu wanita untuk menyebut nama panggilan itu. Kamu--Zoya Aiden Habsyi." Moza tertawa kecil, sedangkan Zoya manahan diri untuk tidak terpengaruh. Zoya yang sejak sepuluh tahun lalu adalah Zoya yang tak ingin lagi mengenal Abi-nya, Abrisam.
"Aku hanya Zoya yang sekarang, Moza."
"Oke. Kembali pada pertanyaan aku tadi. Kenapa kamu meninggalkan dia hanya karena marah?"
"Dia--seperti hanya menginginkan aku, tapi tidak cinta. Dia ingin aku yang seperti perintahnya. Aku bukan robot yang melakukan segalanya dengan perintah. Dia melarangku melakukan yang aku suka. Membatasi pertemanan aku."
"Se-posesif itu Kak Sam? Menurut pandangan aku selama menjadi adik ipar, dia tidak seperti itu kepada Kakakku." Pandangan Moza berubah, seperti meneliti sesuatu. "Berarti benar kata almarhumah Kakak aku--"
Zoya memicing tak mengerti. "Apanya yang benar?"
"Selama menikah, yang ada di hadapannya memang Marwa, Kakak aku. Tapi, di matanya hanya ada wanita yang meninggalkannya, kamu, Mbak Zoya."
"Maksud kamu bagaimana Moza?"
"Mbak, Kakak aku bilang, Kak Sam itu hanya sayang padanya bukan cinta. Di matanya tetap ada satu wanita dan itu bukan Marwa. See, perlakuannya kepada Zoya jauh berbeda kepada Marwa. Sifat yang Mbak katakan sebagai posesif itu tadi, nggak ada sedikit pun ketika dia bersama Kakak aku, Marwa."
"Bagaimana kalau sebaliknya? Justru kakak kamu yang lebih dicintai, bukan aku?" Zoya memejam meletakkan lima jarinya di depan wajah. "Maksud aku gini, Marwa mendapatkan perlakuan yang sangat manis, sangat baik, tidak pernah mendapat kemarahan dari seorang Abi, maksudku Abrisam. Dan aku kebalikan dari itu. Bagaimana, jika bukan aku yang ia cinta tapi, Marwa?"
Moza menyunggingkan senyumnya. "Aku mengerti kemana arah Mbak Zoya. Tapi ini berdasarkan penilaian Kakakku. Marwa hanya mendapatkan kasih sayang seorang Abrisam, dengan segala perlakuan manisnya. Tapi justru itu menunjukkan bahwa dia nggak cinta, tidak ada perasaan memiliki. Tidak ada rasa takut kehilangan, itu sebabnya dia hanya mencurahkan rasa sayangnya--bukan cinta."
"Lantas menurut kamu, apa yang dia lakuin ke aku ... itu cinta?" Zoya menggeleng skeptis.
Moza mengangguk, memberi keyakinan. "Mbak jangan menutup hati hanya karena emosi dan ego. Cuma seorang Zoya yang bisa membuat Abrisam merasa takut kehilangan. Itu yang akhirnya membuat dia ... posesif."
Sampai di sini Zoya sangat mengerti kemana tujuan Moza.
"Za, aku rasa ternyata aku ... nyaman sendirian daripada bersama--posesif. Aku merasa memiliki kebebasan untuk apa yang aku lakukan sesuai apa mauku, pilihan aku. Aku beruntung memiliki kedua orang tua yang membebaskan aku selama aku bertanggung jawab atas perbuatan aku dan tidak menyulitkan mereka. Jika ternyata aku tidak beruntung memiliki... kekasih yang mengekang, aku menolak ketidakberuntungan itu dengan... meninggalkannya."
"Saat itu. Tapi sekarang--kembali berhadapan. Sekarang pilihannya, Mbak akan kembali padanya dan mengubah ketidakberuntungan itu menjadi ... anugrah."
"Anugrah?" cibir Zoya tak mengira. "Dan satu lagi, aku tidak kembali padanya. Tidak."
"Oke. Katakanlah kalian saat ini dipertemukan kembali, maksud aku begitu. Semua ini cerita yang Tuhan tuliskan untuk kalian berdua. Jika mungkin seorang Zoya akan disatukan oleh pernikahan kedua seorang Abrisam, dengan statusnya sebagai ayah dari satu anak, mengapa tidak. Mengapa harus menolak takdir ini? Bukankah... pilihan Tuhan adalah yang terbaik?"
Zoya memundurkan punggungnya pada kursi. Ia mencoba mencari sesuatu yang membuat Moza begitu yakin.
"... Apa yang membuatmu begitu yakin kepada aku, Moza?"
"Valery. Aku tidak akan membiarkan keponakan aku itu berada di tangan wanita yang... tidak akan pantas disebut ibu."
"Valery..."
"Dan bukankah akhirnya Valery yang menjadi alasan Tuhan mempertemukan kalian? Kalau tidak karena ulahnya di pesta dan di plaza, entah alasan apa yang bisa mempertemukan kalian?"
Zoya berpikir sejenak sebelum akhirnya memutuskan, "Valery. Oke, kita kunci dulu Valery sebagai alasan kalau memang ... aku akan bersama dia pada pernikahan kedua. Dan... plis, Abi jangan sampai tau pertemuan kita hari ini. Aku nggak ingin tau apakah dia masih mencintai aku. Juga nggak mau tau apa aku menginginkan bersama dia atau tidak. Kita cukup pikirkan Valery saja."
"Setuju."
"Aku ... sangat menyukai anak kecil. Aku tidak suka melihat seorang anak dimarahi dengan alasan apa pun. Jadi, jika terjadi lagi di depan mata aku, dengan senang hati aku akan membawa Val pergi." Mereka tertawa.
"Sepertinya akan seru."
"Siap-siap saja kemungkinan kami akan sering lari ke rumah kamu."
Mereka berdua tertawa lagi.
___
Zoya tak dapat tidur, ia mengerang kesal ketika melihat jam sudah hampir subuh sedangkan ia masih juga belum tidur sedetik pun. Ia lalu memeluk bantal guling dan melebarkan matanya. Memandang ke cela-cela jendela dan gorden yang sedikit tersingkap karena angin.
Menjauh dari Abi memang tidak membayarnya tenang. Namun kesibukan berkuliah hingga bekerja seperti saat ini mampu membuat dirinya sedikit mengabaikan segala rasanya pada laki-laki itu.
Mencoba untuk tetap tenang dan tegar, ternyata ia salah, ia kalah.
Berpura-pura tegar, hanya terus membuktikan betapa rapuh dirinya.
Terus menghindar, sementara diri berharap terus dikejar.
Memasang jarak rindu ketika bertemu, pada nyatanya rasa itu begitu menggebu.
Sampai kapan membelenggu rindu?
Sampai kapan?
Sampai jadi abu...
Sampai...
Jadi...
Debu...
___
(Raisa : Usai Di Sini)
Hadirnya tanya yang tak terjawab
Mampu menjatuhkanku yang dikira tegar
Kau tepikan aku, kau renggut mimpi
Yang dulu kita ukir bersama...
_
Mendengar kata-kata Moza hari ini, membuat Zoya termenung di atas ranjang kamar apartemennya. Ia memeluk kedua lututnya, memangku dagunya di atas lutut. Sunyinya malam seakan menjadi teman bicara.
... Apakah aku memang ditakdirkan untuk bersama dengannya ketika dia sudah pernah menikah? Setelah dia menjadi duda dengan satu orang putri. Dia memang mungkin saja masih mencintai aku. Aku pun ... ah--aku memang sulit melupakan dia atau bahkan lebih dari itu.
... Valery, anak itu--aku sudah merasa ada sesuatu dari matanya. Dia memang putri Abrisam. Mata itu, mata yang sangat aku kenali. Dia putrinya. Putri Abi. Dia sangat menyukai aku, aku pun begitu sejak awal bertemu dengannya. Jika memang--jalan yang Tuhan pilihkan akan seperti ini, jika memang aku akan kembali pada kehidupan Abi dalam pernikaha kedua, apakah aku bisa menerima? Apakah aku bisa menjalaninya? Menjadi istri dan ibu.
Apakah aku harus berada dalam pernikahan kedua...
__
(Raisa : Mantan Terindah)
Andai ku bisa ingin aku memelukmu lagi
Di hati ini hanya engkau mantan terindah
Yang selalu kurindukan
Mau dikata... kan apa lagi
Kita tak akan pernah satu
Engkau di sana aku di sini
Meski hatiku memilihmu
Engkau meminta padaku
Untuk mengatakan bila ku berubah
Jangan pernah kau ragukan
Engkau kan selalu di langkahku
Mau dikatakan apa lagi
Kita tak akan pernah satu
Engkau di sana aku di sini
Meski hatiku memilihmu
Engkau di sana aku di sini
Meski hatiku memilihmu
Yang tlah kau buat sungguh lah indah
Buat diriku susah lupa...
____