[NEWS] Resmi, Inilah Tanggal Pernikahan Puteri Pemilik Wardana Group
[NEWS] Wardana Group Mengumumkan Secara Resmi Pernikahan Pewaris Tunggalnya, Laura Atma Wardana
[NEWS] Darma Cahyo Wardana Umumkan Hari Bahagia Sang Puteri Tercinta.
.
.
.
Laura menarik nafas panjang seraya memejamkan matanya sesaat setelah membaca beberapa judul artikel yang memuat tentangnya dan pernikahan yang akan ia gelar dua bulan mendatang. Ia menyandarkan punggungnya pada kursi, seraya mengurut keningnya yang mendadak terasa pening lalu menghembuskan nafasnya sesaat.
Ya ... pada akhirnya ia benar-benar akan menikah dengan Dafi setelah mendapatkan restu dari orangtua Dafi dan restu terpaksa dari kedua orangtuanya. Keputusan itu tidak serta merta begitu saja ia putuskan, apalagi konpensasi yang Dafi inginkan terasa benar-benar berat untuknya. Banyak pertimbangan ia lakukan, tentangnya yang mungkin akan berpisah dengan anak yang ia kandung nanti, sampai mungkin saja mereka akan menelantarkan anak itu. Namun akhirnya ia memutuskan menerima tawaran itu dengan semua resiko besar yang pasti akan ia hadapi.
Orangtua Dafi tidak tampak terkejut ketika Dafi mengatakan akan menikah dengannya. Mereka justru menyambut dengan baik, mereka bahkan kini memperlakukannya dengan begitu baik, lebih baik daripada yang dilakukan orangtuanya. Lalu ... orangtuanya? Seperti yang sudah ia katakan, mereka menerimanya dengan terpaksa. Terpaksa menerima karena malu memiliki anak yang belum menikah. Tapi setidaknya itu lebih baik daripada mereka terus memaksa untuk menjodohkannya.
Laura meraih ponsel kemudian menghubungi Dafi. Dia mungkin terkejut dengan semua berita yang beredar sekarang.
“Hallo Dafi.”
“Hm.”
Laura menarik nafas panjang. “Kamu sudah membaca beritanya?”
“Sudah.”
“Kamu ... tidak apa-apa? Maksudku ... .”
“Santai saja Ra. Aku tidak apa-apa. Hanya merasa aneh saja nama seorang Dafi terpampang di sebuah berita seperti itu.”
“Maaf ... aku tidak tahu Papa akan mengumumkan pernikahan kita seperti ini. Aku pikir Papa tidak akan melakukannya.”
“Tidak masalah.”
Laura bergumam sesaat. Ia bingung harus berbicara apa lagi dengan lelaki itu. Apalagi Dafi memang tidak begitu banyak bicara ketika bersamanya.
“Pulang jam berapa? Mau kujemput?”
Laura mengerjapkan mata sesaat. Apa? Dijemput? “Apa Daf?” tanya Laura kembali, memastikan ia tidak salah dengar.
“Mau kujemput?”
Laura mengulum senyumannya, bahagia mendapatkan tawaran sederhana dari lelaki itu. “Mmm ... memangnya tidak sibuk?”
“Sedikit. Tapi aku bisa jika cuma menjemputmu.”
“Baiklah. Kamu bisa menjemputku. Aku akan mengabarimu nanti.”
“Hm.”
“By the way ... thank you Daf ... .”
“Anything for you wife.”
Blush!
Seketika wajah Laura memanas setelah mendengar kalimat manis itu. Jantungnya serasa terjatuh, bulu romanya meremang, perutnya serasa di terbangi oleh ribuan kupu-kupu, terasa begitu menyenangkan dan juga mendebarkan secara bersamaan.
Apa katanya? Wife?
Wajah Laura semakin memanas saat mengingat kata itu kembali.
“Yasudah aku akan selesaikan dulu pekerjaanku.”
“Hm. Aku ... akan menghubungimu nanti Dafi. Bye ... .”
“Hm.”
Senyuman Laura mengembang begitu lebar tanpa terkendali, kedua tangannya terangkat menangkup wajahnya sendiri sebelum di letakkan di atas dadanya yang berdebar dengan sangat kencang. Ia tak menduga, ucapan sederhana itu mampu membuatnya menggila seperti ini. Terasa begitu menyenangkan hingga ... ia merasa benar-benar serakah. Ia ingin mendengarnya lagi! Namun jika ia tidak boleh serakah, bolehkah ia berharap dapat merasakannya satu lagi? Ya ... ia rasa satu kali akan cukup untuk mendengarkan ucapan manis dari lelaki itu.
Oh ya ... ada satu yang terlewatkan. Mereka berdua pun telah memutuskan menggunakan sebutan baru yang berbeda dari sebelumnya. Dari Lo-gue ke Aku-kamu agar terdengar lebih intim dan yang menurut Laura memang lebih terdengar wajar diantara sepasang kekasih—meskipun kenyataannya mereka hanya kekasih palsu.
Laura kembali mengalihkan pandangan ke arah ponselnya yang berdering. Pertanda sebuah panggilan masuk. Dari Alvin. Sahabat terbaiknya.
Laura tak langsung menjawab, ia menatap ponselnya itu sesaat sebelum akhirnya pada deringan ketiga ia menjawab panggilan tersebut.
“Hallo Vin.”
“Ra, selesai jam kerja gue, Gibran sama Bastian tunggu di restoran Gibran.”
“Gue gak bisa. Dafi udah janji mau jemput.” Elak Laura, bermaksud menghindari pertemuan dengan sahabat-sahabatnya itu.
“Gue akan telpon Dafi dan ngabarin lo ada acara sama kita dulu. Jangan sampai gak dateng. Jam 5. Kita tunggu Ra.”
Laura membasahi bibirnya sesaat sebelum menghembuskan nafas panjang, mulai gugup. Apa yang harus ia katakan pada ketiga sahabatnya itu? Mereka ... sudah pasti orang-orang yang tidak akan pernah bisa ia bohongi. Karena mereka sangat tahu bagaimana hubungannya dengan Dafi di masa lalu. Lalu ... apa yang harus ia perbuat? Apa yang harus ia jadikan alasan?
***
Laura melangkahkan kakinya mengikuti seorang pelayan menuju sebuah private room restoran ternaman milik salah satu sahabatnya. Setelah melihat tiga orang laki-laki berkumpul dalam satu meja bulat, Laura menghentikan langkahnya sesaat seraya menarik nafas panjang sebelum melangkah mendekat ke arah ketiganya lagi.
“Sorry gue telat.” Ujar Laura lalu duduk di kursi tersisa.
Ketiga sahabatnya itu saling melirik, terlihat sekali bahwa mereka saling mengandalkan untuk membuka percakapan. Dan ... ia tahu persis percakapan macam apa yang ingin mereka ungkapkan. Alvin, Gibran dan Baskara, ketiga sahabatnya itu masih saling melirik sampai Gibran mulai membuka suara.
“Gue liat di berita lo mau nikah Ra?”
Laura mengangguk.
“Mendadak gini?” tanya Alvin.
“Gak mendadak, udah di rencanain dari lama.” jawab Laura gugup.
“Dari kapan?” tanya Alvin lagi.
Laura memalingkan wajah dari ketiga temannya yang menatapnya dengan tatapan yang begitu tajam. Mereka menatapnya penuh intimidasi, menghakiminya yang telah melakukan perbuatan impulsif di tengah kebingungannya.
“Lo gak nikah sama Dafi karena sesuatu kan Ra?” kali ini Bastian yang menodongkan pertanyaan. “Karena perjanjian misalnya?”
“Enggak.”
“Jangan bohong Ra, gue tahu ... Paman Damar sebenernya mau jodohin lo sama Deon kan? Anak Utama Group. Kenapa sekarang jadi Dafi?” Alvin menarik nafas panjang. “Jujur Ra ... setelah gue tahu Paman Damar mau jodohin lo sama Deon gue nunggu lo hubungin gue. Setidaknya kalau lo gak mau lo bisa cari jalan keluar sama-sama bareng gue. Tapi jangankan hubungin gue. Gue hubungin pun lo gak jawab.” Ujar Alvin. “Apa gue udah gak seberharga itu Ra jadi sahabat lo?”
Gibran menyentuh lengan Alvin sesaat. Menenangkan Alvin yang sudah tersulut emosi bahkan sejak sebelum Laura datang. “Ra ... lo jangan salah paham ya ... kita gak ada maksud apa-apa, kita bertiga cuma khawatir sama lo, gak mau lo kenapa-kenapa. Selain itu kita ini sahabat Ra. Selama ini lo juga selalu bantu kita, tapi kita cuma kaget, kenapa lo gak minta bantuan sama kita sama sekali. Kenapa mendadak Dafi? Apa yang terjadi?” tanya Gibran lagi.
Laura menarik nafas panjang kemudian menghembuskannya lagi. Seperti yang ia duga, ketiga sahabatnya ini akan bertanya hal itu. Akhirnya setelah berdiam diri selama beberapa waktu ia menarik nafas panjang sebelum mulai menceritakan seluruh kronologi yang terjadi padanya. Dari mulai perjodohan, kabur, bertemu Dafi sampai pada perjanjian pernikahannya dengan Dafi.
Alvin mendesah pelan. “Ra ... lo lupa sama apa yang terjadi sama gue? Lo gak bisa ya belajar dari pengalaman hidup gue Ra?” tanya Alvin seraya menatap ke arah Laura dengan sendu. “Apa lo masih gak ngerti tentang segala sesuatu yang lo mulai dengan keburukan akan berakhir buruk juga? Oke gue sama Jihan emang pada akhirnya bisa bersatu, kita nikah bahkan kita bahagia. Tapi kami saling mencintai Ra. Sejak awal kami memang saling mencintai. Sementara yang terjadi sama lo?” Alvin menghembuskan nafasnya lagi.
“Ra ... lebih baik lo pikir ulang. Bener kata Alvin.” Kali ini Gibran yang berujar. “Kita cuma takut hal buruk terjadi sama lo.”
Bastian yang sejak beberapa saat lalu diam kini menghembuskan nafas, menarik lengannya hingga ia menoleh, menatap ke arah lelaki itu. “Laura ... gue tahu Dafi gak cinta sama lo, dia bahkan udah ikrar dia gak ada perasaan apapun sama lo, gimana ceritanya lo milih hidup sama dia? Kenapa lo sampe nekat bohong sama Paman Damar? Paman Damar ayah lo sendiri Ra. Gimana kalau ujung-ujungnya Paman Damar tahu hubungan kalian hanya sebatas perjanjian?”
“Terus mau kalian apa? Gue dijodohin sama Deon? Cowok b***t, penjahat kelamin kayak dia? Gitu?! Vin!”
“Gak gitu caranya Ra. Lo bisa cari cowok lain. Seenggaknya cari yang peduli sama lo, yang tertarik sama lo. Kenapa harus Dafi yang udah jelas-jelas sejak dulu bilang gak tertarik sama lo?”
“Gak usah munafik, lo juga dulu gak mau dijodohin sama Agatha sampai akhirnya milih sama Jihan, lo juga Bas ... lo juga kayak gak tahu aja gimana perasaan cinta, apalagi cinta yang udah lo ikrarin sebagai cinta terakhir. Lo sendiri susah kan move on dari Dania? Apa salahnya kali ini gue challenge diri gue sendiri buat sama Dafi? Siapa yang tahu dengan tiga tahun kesempatan gue sama Dafi gue bisa luluhin hati dia? Siapa yang tahu ... hubungan atas dasar perjanjian itu jadi kenyataan?” ujar Laura dengan lirih.
Hening.
Tidak ada percakapan di antara keempat orang itu. Laura diam setelah mengeluarkan semua yang bersarang dalam pikirannya. Ketiga sahabatnya yang lain pun terdiam setelah mendengarkan cercaan darinya, sampai kemudian Bastian berujar pelan.
“Gimana kalau misalkan sampai tiga tahun Dafi gak cinta sama lo Ra? Apa yang akan lo lakukan?”
Deg!
Laura tertegun. Benar ... apa yang akan ia lakukan jika sampai tiga tahun Dafi tidak mencintainya? Tapi ia pernah satu kali terluka karena Dafi. Mungkin ... terluka sedikit tidak akan masalah bukan?
“Ra ... lo akan lebih sakit daripada yang udah pernah lo rasain, apalagi setelah kalian hidup bersama. Lo juga jangan egois. Apalagi dengan akan adanya anak diantara kalian.” Lanjut Bastian lagi.
Laura menarik nafas panjang kemudian menghembuskannya lagi. Kenapa ... semuanya terdengar terasa lebih berat?
“Ra ... Kenapa lo gak minta tolong sama gue aja? Gue ... udah jelas peduli sama lo dan gue gak akan maksa lo buat punya anak.”
Laura mendongak, menatap ke arah Bastian dengan mata membulat. “Apa yang coba lo bilang Bas?”
“Kenapa lo gak pilih gue jadi suami lo Ra? Gue pasti gak akan mikir ulang buat tolongin lo. Gue pasti akan jagain lo dan gak akan memperumit kehidupan lo di masa depan seperti yang sedang lo jalanin sekarang.”
Laura hanya diam, masih mencerna setiap kalimat yang tengah Bastian ungkapkan.
“Ra ... .” Bastian menyentuh lengannya, menggenggamnya dengan erat. “Ayo coba pikirin ulang masalah ini. Ya?”
Laura masih diam seraya menatap iris mata Bastian yang menatapnya dengan tatapan sendu, penuh dengan kekhawatiran.