“Kenapa kamu begitu egois?”
“Pernikahan bukan hanya tentang kamu, tapi kita. Sekalipun pernikahan itu atas perjanjian demi menyelamatkanmu dari perjodohan itu. Pernikahan tetap pernikahan, kita harus sepakat.”
.
.
.
Laura tak henti menarik nafas panjang kemudian menghembuskannya lagi ketika bayangan perdebatannya dengan Dafi kembali menghantui pikirannya. Semakin di pikirkan rasa bersalahnya pun semakin besar. Terasa semakin menumpuk, membuat kesalahannya semakin nampak.
Sejak kemarin Laura belum sempat berbicara lagi dengan Dafi, bahkan di hari minggu yang biasanya Dafi habiskan bersama ayahnya, hari ini tidak. Dia pergi ke bengkel, dengan alasan banyak sekali pekerjaan. Padahal ia sangat tahu, Dafi pasti sedang menghindarinya.
Sekarang, apa yang harus ia perbuat? Ia tak mau terus menerus didiamkan seperti ini.
“Nak Ara ... .”
Laura menoleh ke kanan, ke arah Rama—ayah Dafi yang baru saja duduk di kursi utama. Laura tersenyum. “Ayah ... Ayah tidak jadi memancing?”
Rama menggeleng. “Tidak seru kalau sendiri.”
Laura menghembuskan nafas lagi. Merasa bersalah setelah mendengar penuturan Rama. Jika bukan karena kesalahannya, Dafi tidak akan melewatkan hari memancingnya dengan sang ayah.
“Kenapa? Dafi merajuk?”
“Laura melakukan kesalahan Yah, tapi ... Laura tidak tahu harus memulai semuanya dari mana. Kemarin Laura meminta untuk mempercepat pernikahan kita, tapi Dafi menolak, akhirnya kami berdebat. Tapi Laura yakin bukan cuma masalah itu yang membuat Dafi marah.”
“Yasudah biarkan saja dulu sampai semuanya menjadi lebih tenang. Dafi memang selalu begini, dia akan pergi untuk menghindari perdebatan. Tapi setelah dia merasa tenang, dia pasti akan mengajakmu berbicara.” Jelas Rama.
Laura mengangguk kecil. “Laura akan mengajak Dafi berbicara saat makan siang nanti Yah ... Laura tidak mau masalah ini berlarut-larut. Laura salah, Laura yang harus meminta maaf.”
Rama berdehem seraya tersenyum tipis. “Nak ... jangan terlalu kaget ketika kalian semakin banyak berdebat menuju pernikahan, karena memang sudah biasa seperti itu. Bahkan dulu Bunda sempat berniat membatalkan pernikahan kami karena masalah sepele.”
“Benar ... menjelang pernikahan memang sangat sensitif Nak.” Ujar Andini yang muncul dengan sebuah nampan di tangan. “Masalah kecil pun terasa sangat besar, terus semakin berkembang dan dibesar-besarkan. Kamu harus sabar ya ... biar nanti Bunda ajak Dafi bicara.”
Laura menggeleng kecil. “Terimakasih Bunda ... tapi ada baiknya Laura menyelesaikan masalah ini berdua saja. terimakasih Bunda ... Ayah ... .”
“Sama-sama sayang ... .” Ujar Andini seraya mengelus kepala Laura sesaat.
“Jangan terlalu khawatir ... Bunda punya jurus ampuh supaya lelaki cepat memaafkan kita. Mau tahu?”
***
Dafi hanya termenung di dalam ruang kerja seraya menatap satu toples cookies yang masih utuh. Sesekali Dafi menghela nafas panjang, lalu mengurut keningnya yang mendadak terasa pening.
...
“Sekalipun pernikahan itu atas perjanjian demi menyelamatkanmu dari perjodohan itu. Pernikahan tetap pernikahan, kita harus sepakat.”
...
Dafi terus mengurut keningnya sendiri seraya memejamkan mata, berusaha menenangkan diri. Kemarin adalah perdebatan pertama mereka selama bertahun-tahun mereka saling mengenal. Sebelumnya sekalipun ia tidak suka dengan gagasan-gagasan Laura ia hanya berusha mendiamkannya saja, lalu menghindar. Tapi ia menghindar bukan untuk menghindari masalah, ia hanya tidak ingin berdebat dan melukai hati perempuan itu lebih banyak lagi, terlebih apabila ia emosi akan sangat sulit mengendalikan setiap perkataan yang keluar dari mulut.
Tok tok tok!
Dafi mengangkat wajah, menatap ke arah pintu. “Masuk.”
“Bang.”
“Kevin ... .” ujar Dafi kemudian bangkit, lalu mengambil tempat duduk di sofa. “Duduk.”
“Bang gue gak bisa lama-lama, gue cuma mau tanya tentang lo sama Laura.”
Kevin adalah salah satu sahabat yang lebih muda satu tahun darinya, suami dari sahabat kecilnya—Dania dan ... seseorang yang pernah mencintai Laura.
“Ada apa?” Tanya Dafi. “Lo juga mau nentang hubungan gue sama Laura?”
Kevin terkekeh kecil. “Enggak Bang, kenapa gue harus nentang? Gue cuma kaget aja denger cerita dari Dania, makanya gue dateng.”
“Apa yang Dania bilang?”
“Setahu Dania lo sama Angel Bang, bukan Laura. Kenapa tiba-tiba Laura?”
“Gue udah jelasin sama Dania, kalau gue sama Angela udah putus. Angela selingkuh, jadi untuk apa lagi gue bertahan? Lalu ... Laura. Kami cuma beruntung bertemu lagi, kami kemudian berbicara banyak, setelah itu yasudah ... kami memutuskan untuk menikah.”
“Bukan cuma pelampiasan sakit hati lo dari Angela kan Bang?”
Dafi tersenyum masam. “Bukan.”
“Bukan karena Laura dijodohkan dengan Deon juga kan?” tanya Kevin lagi.
Dafi tidak menjawab. Ia cukup terkejut saat Kevin mengetahui tentang lelaki itu, padahal Dania kemarin tidak membahasnya, seolah Dania tidak tahu tentang hal itu.
Kevin menghela nafas panjang. “Gapapa Bang, meskipun alasan kalian nikah buat hindarin Deon. Gue tetep dukung kalian. Gue juga gak akan rela kalo Laura akhirnya sama cowok itu. Gue percaya sama lo Bang, lo pasti gak akan b******k kayak Deon. Gue juga percaya ... kalian pasti bisa jalanin pernikahan kalian dengan baik. Apalagi sejak dulu Laura emang suka banget sama lo. Tapi Bang ... gue cuma mau minta beberapa hal sama lo.”
Dafi menatap Kevin yang juga menatapnya dengan tatapan tegas.
“Jaga Laura, kalau misalkan lo belum bisa balas cinta Laura seenggaknya lo jangan sakiti perasaan dia. Gue harap lo bisa menghargai perasaan Laura. Karena selama gue mengenal Laura, sekalipun Laura terlihat kuat, tapi Laura sangat rapuh, dia juga kesepian dan tumbuh hampir tanpa kasih sayang. Hampir tidak ada bedanya seperti kehidupan gue dan saudara-saudara gue. Jadi ... kalau lo sakiti perasaan dia, bisa aja dia hancur Bang. Jadi ... gue mohon, jangan sampai lo nyakiti perasaan dia Bang.”
Dafi menghembuskan nafas perlahan kemudian mengangguk kecil. “Gue gak bisa janjiin itu Kevin, tapi gue pasti berusaha buat lakuin hal itu. Gue juga manusia, masih punya hati. Gue gak mungkin tanpa sebab nyakitin seseorang, apalagi Laura.”
Kevin mengangguk kecil. “Thank you Bang. Semoga pernikahan kalian berjalan dengan lancar. Kalau gitu gue pamit ya Bang. Dania minta gue anterin belanja.”
“Hati-hati, jangan sampe telat, entar lo di amuk lagi.”
Kevin terkekeh kecil. “Aman. Yaudah bye Bang.”
Sepeninggal Kevin, Dafi termenung kembali. Ia baru menyadari bahwa banyak sekali yang menyayangi Laura dan peduli pada Laura. Jika sampai ia melakukan kesalahan hingga menghancurkan Laura, tidak cuma pukulan dari Bastian yang akan dia dapatkan, bisa jadi ia akan kehilangan nyawa.
...
Gue percaya sama lo Bang, lo pasti gak akan b******k kayak Deon.
...
Satu tamparan tak kasat mata Dafi rasakan ketika mengingat ucapan itu. Andai Kevin tahu tentang perjanjian itu. Kevin tidak akan mungkin berkata seperti itu dan bersikap baik padanya. Dia pasti akan seperti Bastian dan akan menjadi orang pertama yang akan mengeksekusinya. Sebab ia pun ... tidak kalah brengseknya dengan lelaki itu.
Ia hanya beruntung ... Kevin sepertinya belum mengetahui apapun.
Tok tok tok!
“Masuk.”
Clek!
“Apa kamu sibuk?”
Dafi terkesiap, ia kemudian mendongak menatap ke arah pintu masuk. Ternyata Laura yang datang. Perempuan itu tersenyum tipis dan menatapnya dengan mata berbinar. Seolah tidak apapun yang sebelumnya terjadi pada mereka.
“Duduk.”
Laura berjalan ke arahnya kemudian meletakkan bawaannya di atas meja. Tanpa banyak bicara Laura segera mengelaurkan semua barang bawaannya dengan senyuman yang masih terpatri apik di wajah cantik itu.
Dafi meneguk ludahnya kasar lalu memalingkan wajah.
.
.
.
Laura menahan nafas sesaat, menahan debaran jantung yang perlahan tiba-tiba menggila. Berdebar tak karuan ketika melihat wajah tanpa ekspresi yang lagi-lagi ia dapatkan dari Dafi. Tangannya mulai berkeringat dingin, takut jika Dafi akhirnya akan menolak makanannya ini. Seperti yang dilakuakn Dafi kemarin.
“Saatnya makan siang. Aku sengaja memasak ini untukmu dan membawanya ke sini untuk makan siang bersama.” ujar Laura kemudian memberikan satu kotak makanan pada Dafi.
Senyuman Laura mengembang ketika Dafi menerima kotak makanan itu lalu menyantap makanan tersebut dalam diam. Sementara Laura hanya duduk diam menatap ke arah Dafi yang sedang menikmati makan siangnya itu, menatap penuh antisipasi dengan kedua tangan yang saling bertautan.
Apakah makanannya enak? Apakah Dafi menyukai makanan itu?
“Makan Ra, kamu gak akan kenyang cuma liatin aku.” ujar Dafi.
“Eh? Hm. Iya.” Ujar Laura seraya mengambil bagiannya. Laura pun makan dalam diam, mengunyah makanan tersebut dengan hati-hati dan secara perlahan.
Menurut lidahnya makanan itu tidak buruk, tapi tidak seenak masakan Bunda juga, membuat jantungnya semakin berdebar kencang, takut jika Dafi benar-benar tidak menyukai makanan yang ia buat.
“Terimakasih makanannya.”
Laura menoleh ke arah Dafi yang sudah menghabiskan seluruh makanan dalam kotak makan itu. benar-benar habis, tanpa sisa. Apakah hanya itu yang ingin Dafi sampaikan? Tidakkah Dafi ingin mengomentari makanannya?
Laura menghembuskan nafas pelan lalu mengangguk kecil. “Tidak masalah.”
“Aku suka.”
“Hm?”
“Makanannya, aku rasa enak. Hanya saja sepertinya kamu lupa menyiapkan minum?”
Laura mengerjapkan mata lalu menoleh ke arah paper bag yang ia bawa lagi, dan ternyata benar-benar tidak ada minuman yang ia bawa. Laura mendesah kecewa.
“Padahal tadi aku sudah menyiapkan jus berry untukmu.”
Dafi terkekeh kecil seraya mengucak kepalanya. “Dasar ceroboh.” Ujar Dafi kemudian beranjak pergi keluar dari ruangan itu.
Laura mematung, perlahan ia menyentuh kepalanya yang masih terasa hangat setelah menerima usakan dari Dafi lalu berpindah, menekan d**a yang terasa berdebar sangat kencang. Apa yang baru saja ia terima tadi? Apakah ... sekarang mereka sudah berbaikan?
“Jangan melamun. Ini ... .”
Laura mendongak, menatap Dafi seraya menerima sebotol minuman dingin dari tangan lelaki itu.
“Terimakasih.”
Dafi hanya mengangguk kecil kemudian duduk kembali di sampingnya. Setelah itu mereka diam, tidak ada yang mengeluarkan suara sama sekali. Laura sendiri masih bingung, ia harus membawa pembicraan mereka dari mana? Ke arah mana? Agar masalah mereka selesai dan mereka bisa tenang seperti sebelumnya. Laura menarik nafas panjang kemudian menghembuskannya lagi.
“Maaf.”
“Maaf.”
Ujar mereka bersama. Keduanya kembali saling bertatapan lalu terkekeh kecil, tertawa bersama menertawakan diri mereka masing-masing.
.
.
.
“Untuk meluluhkan hati laki-laki, manjakan lidahnya. Ikat mereka, buat mereka rindu dengan masakan yang kita buat sendiri.”
Laura menatap Dafi yang masih menatapnya seraya terkekeh kecil. Sepertinya saran dari Andini memang benar adanya.