“Hoek! Uhuk!” Laura mengerutkan kening ketika mendengar suara batuk berkali-kali dari kamar mandi, yang kemudian setelah itu di susul oleh suara gemerincik air. Laura menggeliat kecil seraya meraih ponsel yang tergeletak di nakas, ternyata masih jam dua pagi. Tak lama kemudian suara itu kembali terdengar, membuat Laura segera bangkit, berjalan cepat ke arah kamar mandi lalu membuka pintu kamar mandi tersebut tanpa permisi. Di sana, di depan wastafel Dafi terlihat sedang berusaha memuntahkan sesuatu dengan kedua tangan yang mencengkram erat pinggiran wastafel. “Dafi.” Panggil Laura dengan suara parau, khawatir melihat wajah Dafi yang terlihat mulai pucat. “Kamu kenapa? Sakit? kenapa tidak bilang?” Dafi menggeleng kecil seraya membasuh wajahnya sesaat sebelum menatap Laura. “

