“Mana yang lebih penting? Egomu ... atau kebahagiaan mereka?” Sudah beberapa jam pertanyaan itu menghantui Edmund. Sekalipun ia memejamkan mata dan menutup telinga dengan bantal, suara Hunter terus terngiang. “Bukankah mereka akan lebih bahagia kalau pulang bersamaku?” gumamnya sambil menatap langit-langit yang gelap. Sebelumnya, Edmund antusias membayangkan hidupnya bersama Alice dan Sky. Mereka akan menyambutnya setiap pulang kerja. Mereka bisa bermain bersama setiap malam, atau berjalan-jalan di akhir pekan. Rumah mereka akan dipenuhi canda dan tawa. Namun kini, ia mendadak ragu. “Apakah aku egois jika menginginkan Alice kembali? Apakah aku egois kalau membawa mereka pergi dari sini?” “Bagaimana kalau Sky malah tidak terbiasa dengan kehidupan di perkotaan? Bagaimana kalau dia leb

