Alasan

1045 Kata
"Abang..." lirih Hayissa. Rajena langsung berjalan mendekati Hayissa dan menitipkan sebentar kue ulang tahun yang sedari tadi ia pegang kepada Argi sebentar. Kemudian ia langsung memeluk Hayissa dengan penuh kasih sayang. "Selamat ulang tahun adik Abang. Semoga panjang umur, sehat dan bahagia selalu. Semoga semakin cantik dan juga pintar, ya. Maaf Abang baru bisa mewujudkan keinginan Hayi buat kasih kue di hari ulang tahun Hayi." Ketiga teman Rajena yang mendengar itu ikut terharu. Mereka ikut tersenyum dan Hadlan pun sudah berkaca-kaca. Tangis Hayissa semakin keras, Rajena hanya mampu mengusap-usap punggung Hayi agar adiknya itu tenang. "Udah ya, jangan nangis lagi. Itu lilinnya nanti meleleh dan habis, yuk ucapin doa yang terbaik dalam hati Hayi," ajak Rajena. Hayissa akhirnya menghentikan tangisnya dan segera mengusap air matanya dengan kedua tangannya. Lalu Argi maju selangkah dan langsung mendekatkan kue ulang tahun yang berhiaskan lilin itu ke hadapan Hayissa. Hayissa menutup matanya sambil memanjatkan doa dalam hatinya, "Semoga Nenek dan Abang panjang umur. Semoga Hayi bahagia terus bareng Nenek sama Abang. Semoga Hayi gak pernah ketemu Ibu atau Ayah." Kemudian Hayissa membuka matanya dan segera meniup lilin itu. Rajena tersenyum dan ketiga temannya bertepuk tangan setelah Hayissa meniup lilin. Dengan segera Hayissa langsung memeluk Rajena sambil mengucapkan berkali-kali terima kasih kepada sang kakak. "Abang terima kasih, Hayi sayang banget sama Abang." ___ Usai acara tiup lilin, kelima orang yang ada di rumah Rajena kini sedang menikmati kue ulang tahun Hayissa. Berkali-kali Hayissa tertawa akan tingkah konyol Hadlan yang sering menjahili Argi. Sedangkan Argi sebagai orang yang dijahili hanya bisa mendelik, apalagi saat dengan sengaja Hadlan memoleskan krim yang ada di atas kue ulang tahun tepat di pipi Argi. "Kak Arka sama Kak Argi dari tadi ribut terus, kayak adik kakak," ujar Hayissa sambil tertawa. "Emang kamu sama abang kamu kayak gitu?" tanya Hadlan. Hayissa berpikir sejenak kemudian menggelengkan kepalanya, "Enggak sih, Abang gak pernah bercanda nyolekin kue ulang tahun ke pipi." Hadlan langsung menepuk jidatnya mendengar jawaban Hayissa yang polos. Sedangkan Rajena, Argi dan Arka hanya tertawa. "Kak Hadlan punya adik?" tanya Hayissa kemudian. "Punya, perempuan juga sama kayak kamu. Namanya Hasya, seumuran sama kamu juga." "Pasti cantik ya?" Hadlan mengangguk, "Cantik, sama kayak kamu." "Kalau Kak Argi sama Kak Arka juga punya adik?" tanya Hayissa kepada dua teman Hadlan lainnya dan langsung direspon dengan gelengan kepala yang kompak. "Kak Argi punya kakak, kalau Kak Arka anak tunggal," jawab Arka. "Oh, anak tunggal tuh yang gak ada kakak atau adik ya? Jadi anak satu-satunya gitu?" tanya Hayissa lagi. Arka mengangguk, "Iya." ___ Waktu sudah menunjukan pukul lima sore lebih lima belas menit. Sekarang waktunya Arka, Argi dan Hadlan berpamitan kepada Rajena karena sudah bermain seharian di rumahnya. "Jen, kita pamit pulang dulu ya. Terima kasih buat semuanya. Jangan kapok kalau nanti-nanti kita bakalan main lagi ke sini," ujar Arka. Rajena mengangguk, "Sama-sama, terima kasih juga karena kalian udah bantuin gue. Terima kasih buat kadonya, Hayi senang banget. Maaf ya gue gak nyediain makanan yang enak." "Santai aja, Jen. Kita emang niatnya ke sini mau main bukan mau makan," timpal Hadlan. "Yuk Jen, pamit dulu ya. Salam buat Nenek lo," ujar Argi kemudian ia berjalan menyusul Hadlan dan Arka yang sudah masuk ke dalam mobil dengan posisi Arka yang mengemudi meskipun anak itu masih di bawah umur. Setelah Arka menyalakan mobilnya, Rajena langsung melambaikan tangan kepada mereka. Ketika mobil Arka benar-benar hilang dari pandangannya, Rajena kembali masuk ke dalam rumah dan menemukan Hayissa yang sedang sibuk membuka kado. "Dapat apa aja?" tanya Rajena. "Ada tempat pensil, pulpen-pulpen lucu, pensil warna, baju, boneka beruang sama bando cantik," jawab Hayissa sambil menunjukan barang itu satu persatu. "Udah bilang terima kasih sama teman-teman Abang?" Hayissa mengangguk dengan cepat, "Udah kok. Tadi juga Hayi dikasih uang seratus ribu sama Kak Arka, katanya buat Hayi jajan." Rajena terdiam sebentar karena ia tak tahu jika Arka memberi uang kepada Hayi kemudian Rajena mengangguk, "Simpan ya uangnya, jangan dijajanin semua. Nanti kan suka ada keperluan di sekolah." "Iya Abang, Hayi simpan." "Udah ininya sekarang beresin dulu. Uangnya jangan disimpan di mana aja ya, jangan sampai Nenek tahu," ujar Rajena. Hayissa mengangguk. Iya sedikit paham akan kalimat terakhir Rajena. Terkadang jika Herliza tahu Hayissa atau Rajena memiliki uang, maka Herliza akan meminjamnya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari meskipun uang yang dipinjam itu tidak pernah diganti. Bukannya Rajena perhitungan, hanya saja ia berpikir untuk menyimpan dana darurat yang tidak diketahui oleh sang Nenek karena ia dan Hayissa kadang mempunyai kebutuhan yang harus segera dibeli. ___ Arka, Hadlan dan Argi masih berada di jalan. Lalu lintas sore ini cukup macet karena banyak yang beraktivitas di akhir pekan ini, apalagi di daerah Desa Kasturi ada beberapa tempat wisata yang viral. Maka banyaklah orang dari kota yang berkunjung ke sini. "Duh, selama di rumah Rajena tadi mata gue rasanya panas terus," ujar Hadlan secara tiba-tiba membahas Rajena. Arka yang tadinya fokus menyetir kemudian mengalihkan pandangannya pada Hadlan yang ada di sampingnya, "Kenapa?" "Ya kasihan aja sama Rajena dan adiknya. Harusnya mereka masih ada sama orang tuanya, ini mah gue lihat-lihat tadi si Rajena ngerjain pekerjaan rumah kayak cuci piring sama cuci baju. Gue tanya tadi ke mana Neneknya, katanya lagi bantu-bantu di rumah tetangga gitu. Istilahnya jadi pembantu lah." "Gue penasaran orang tuanya ke mana. Rajena belum pernah cerita ya?" sambung Argi. Arka menggeleng, "Kayaknya itu luka buat dia, makanya dia gak pernah cerita. Bisa aja orang tuanya udah gak ada kan?" Hadlan mengangguk setuju, "Bisa aja emang udah gak ada dua-duanya atau bapaknya meninggal, ibunya kerja ke luar negeri." "Bisa juga ibunya meninggal, bapaknya kawin lagi gak bilang-bilang dan lepas tanggung jawab," timpal Argi. "Atau sebaliknya, tapi bisa juga ibu bapaknya cerai terus pada punya kehidupan masing-masing," balas Hadlan lagi yang langsung disetujui oleh Argi. "Berisik kalian, malah nebak-nebak kehidupan seseorang. Gak ada yang tahu aslinya gimana, kecuali Rajena yang merasakan sendiri. Kalau Rajena belum cerita atau gak pernah cerita sama sekali, berarti dia emang gak mau orang-orang tahu," ujar Arka. "Tapi menurut lo kenapa Rajena gak mau cerita? Apa dia malu?" tanya Hadlan lagi. "Pasti ada alasannya kok, cuma kita gak bisa maksa. Bisa jadi bukan karena malu kan? Tapi karena terlalu sakit buat nyeritain itu sama orang. Pasti kalau cerita kan sambil kebayang lagi sakitnya kayak apa." "Nah, menurut gue opsi kedua adalah alasan yang sebenarnya," tutup Arka.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN