Diam-Diam Bekerja

1147 Kata
Keesokan harinya teman-teman Rajena tidak ada yang pergi ke kantin saat istirahat. Mereka berada di kelas untuk menemani Rajena sehingga sosok kakak dari Hayissa itu benar-benar dibuat kebingungan. "Kalian gak pergi ke kantin?" tanya Rajena. Hadlan menatap Rajena dengan tatapan mengintimidasi, namun di mana Argi dan Arkan hal itu sangat lucu. "Kita mau tanya, kenapa lo gak pernah ke kantin?" tanya Hadlan masih dengan tatapan intimidasinya. Rajena menggaruk kepalanya tanda bingung, "Ehm.. gue...gue gak biasa jajan." "Gak mungkin, gak ada orang yang tahan buat gak jajan. Jadi kenapa, hm?" tanya Hadlan memaksa. Rajena akhirnya menghela napas, ia menyadarkan punggungnya pada sandaran kursi, "Gue gak sama seperti kalian. Gue gak bisa buang-buang uang untuk jajan di kantin. Puas?" Setelah itu Rajena keluar dari kelas meninggalkan Hadlan, Argi dan Arka yang terdiam karena cukup kaget. "Duh Hadlan, lo sih pake segala natap kayak gitu. Kasihan anjir, ini tuh sensitif banget. Minta maaf sana sama Rajen," ujar Argi. Hadlan langsung berlari keluar kelas diikuti oleh Argi dan juga Arka di belakangnya. Lelaki itu celingukan mencari di mana keberadaan Rajeno. Ternyata Rajena sedang berada di lapangan, bermain basket bersama anak-anak yang kelasnya ada jadwal olahraga hari ini. "Tuh, dia lagi main basket sama anak kelas lain. Mau disamperin sekarang?" tanya Argi. "Jangan dulu deh, takutnya dia masih emosi. Nanti abis istirahat kan kita pelajaran olahraga juga. Nah nanti kita ngobrolnya pas abis olahraga aja," saran Arka yang langsung disetujui oleh Hadlan dan juga Argi. ___ Pelajaran olahraga telah selesai. Matahari yang berada tepat di atas kepala membuat siswa-siswi yang baru saja olahraga benar-benar haus. Argi sedang menuju ke kantin, sementara Rajeno, Hadlan dan Arka duduk di bawah pohon rindang yang ada di lapangan upacara sekolah. "Ada gila-gilanya kita kebagian olahraga jam segini, sumpah panas banget. Boleh gak minggu depan kita bolos aja?" ujar Hadlan sambil melepas baju olahraganya dan menyisakan kaos putih polos yang ia pakai. "Gimana lo gak gerah anjir, ini lo malah pake baju dua rangkap. t***l," maki Arka. Tak lama kemudian, Argi datang dengan membawa empat botol air mineral. Argi memberikan kode agar Hadlan memberikan sebotol air untuk Rajena. Dengan ragu Hadlan langsung mengambilnya dan memberikan botol itu pada Rajena. "Jen, ini air minum buat lo. Maaf ya soal yang tadi, gue gak bermaksud," ucap Hadlan. Rajena menatap air mineral itu tanpa berniat menerimanya. Hadlan gemas langsung meletakkan botol itu tepat di tangan Rajena. "Alah lama lo, ini Arka yang beliin. Duitnya pake duit Arka, jadi tenang aja bukan maksud gue nyogok," ujar Hadlan yang kesabarannya setipis tisu dibagi dua. "Terima kasih. Gue maafin lo," balas Rajena. "Nah gitu dong," ujar Hadlan sambil tersenyum dan merangkul Rajena. "Tapi kalian gak malu kan temenan sama gue?" tanya Rajena. Arka berdecak, "Ngapain malu sih? Kita sama-sama manusia, posisi kita tuh setara di mata Tuhan." "Wih orang kaya berbicara bijak," sindir Hadlan. Rajena tertawa dengan tingkah tiga teman barunya ini. Tadinya ia kira jika mereka tidak akan mau berteman dengannya karena status sosial. Akan tetapi penilaiannya salah, mereka adalah orang yang asik dan juga lucu. "Oke, Jen. Sekarang kirim nomor hp lo ke gue, kita mau masukin lo ke grup," ujar Hadlan. Rajena menggaruk tengkuknya sambil memasang wajah bingung, "Maaf, gue gak punya hp." Kemudian suasana canggung kembali menyelimuti mereka berempat terutama Hadlan. Memang mulut anak itu tidak bisa direm, ia selalu ceplas-ceplos asal bicara. "Lo kalau mau tahu info-info sekolah dari mana kalau gitu?" Arkan malah menambahkan pertanyaan yang semakin membuat suasana di bawah pohon rindang itu canggung. "Ya gak gimana-gimana, kalau soal tugas paling dihukum," ujar Rajena santai. "Gak gak gak bisa. Di rumah gue ada hp bekas, masih bagus sih cuma gue udah beli hp yang keluaran terbaru. Besok gue bawa hp itu ya, buat lo," ujar Arkan yang buru-buru ditolak oleh Rajena. "Gak perlu, Ar. Gue gak apa-apa kok. Jangan merepotkan diri dan jangan kasihani gue," tolak Rajena. "Aman kok, gue cuma mau membantu lo karena takutnya ada info penting di sekolah. Daripada lo kena hukum atau gimana. Besok sekalian gue beliin kartu perdananya, aman pokoknya lo tinggal pake aja," ujar Arka. "Udah, Jen. Kalau Arka udah bilang gitu jangan suka dibantah, niat dia baik mau bantu lo. Gue juga pengen bantu lo, tapi gue beneran belum bisa," timpal Hadlan. "Bener tuh," sambung Argi. Rajena pun bergeming. Ia tak tahu harus bersyukur atau bagaimana karena kali ini ia mendapatkan teman-teman yang begitu baik tanpa memandang status sosialnya. ___ Pulang sekolah, Rajena tidak langsung pulang ke rumahnya melainkan ia datang ke sebuah tempat di mana ia akan bekerja paruh waktu demi mengumpulkan uang agar bisa membelikan kue ulang tahun untuk sang adik tercinta, Hayissa. Rajena mendatangi tempat pembangunan yang saat ini masih belum jadi. Di sana ada beberapa kuli yang sedang bekerja, salah satunya adalah tetangga dekat Rajena. "Nah ini namanya Rajena. Dia tetangga saya yang kemarin minta kerjaan, katanya lagi butuh uang buat tambahan uang jajan," ujar tetangga Rajena itu. Setelah itu Rajena membuka baju seragamnya dan segera melakukan pekerjaan seperti mengaduk pasir dan semen, mengangkut semen dan lain sebagainya. Hingga akhirnya jam kerja para kuli telah selesai. Rajena pun ikut menyudahi pekerjaannya dan mengantri untuk mendapatkan upah harian. "Kamu hari ini baru dapat segini ya karena kamu kerjanya mendekati jam pulang," ujar orang yang membagikan upah. Rajeno mengangguk sambil menerima uang itu, "Terima kasih, Pak." Rajeno pun berpamitan dan segera pulang ke rumah. Di jalan ia kembali merenung, uang yang ia dapatkan tadi sangatlah kecil dan sepertinya jumlahnya belum cukup untuk membeli kue ulang tahun untuk Hayissa. "Kayaknya harus kerja lebih giat lagi, semoga seminggu udah bisa terkumpul," gumam anak berusia lima belas tahun itu. Tiba di rumahnya ia disambut oleh Hayissa yang sedang membaca buku cerita di teras rumahnya. Anak perempuan itu menyambut Rajena dengan penuh suka cita. "Abang!" pekik Hayissa dengan riang. "Lagi ngapain?" tanya Rajena. "Aku lagi baca buku cerita, tadi dikasih sama Ibu RT katanya biar aku pintar," ujar Hayissa. "Adik abang kan emang pintar." "Hehehe... Abang dari mana kok pulangnya sore?" "Oh, abang tadi ada tugas kelompok dulu," dusta Rajena. "Oh oke deh, abang." Setelah itu Rajena masuk ke dalam rumah, di dalam rumah ia melihat sang nenek yang terlihat kebingungan. "Kenapa, Nek?" tanya Rajena ikut bingung. "Aduh ini, Jen. Gas habis, Nenek belum masak buat makan malam. Nenek ada uang tapi uangnya cuma ada segini," ujar Herliza sambil menunjukan dua lembar uang lima ribu pada Rajena. Rajena menghela napas, kemudian ia merogoh saku bajunya. Ia berikan uang yang tadi ia dapatkan dari hasil kerjanya untuk membeli gas. "Eh kamu besok untuk ongkos ada?" tanya Herliza tak yakin. "Ada, Nek. Tenang aja," ujar Rajena. Setelah itu Herliza segera membawa gas yang kosong untuk segera diganti dengan yang baru. Rajena melihat sang Nenek yang sepertinya kesulitan untuk membawa tabung gas. "Nenek diam aja di sini, biar aku yang beli gasnya," ujar Rajena. Setelah itu ia pergi untuk membeli gas menggunakan uang yang baru saja ia dapatkan. "Uangnya cuma mampir sebentar," lirih Rajena
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN