Beberapa bulan berlalu. Lutfan kehilangan semangat hidup karena tidak berhasil menemukan Alula. Pria itu sering melamun, banyak menyendiri. Bahkan sering tidak pulang dengan alasan sibuk di kampus padahal sebenarnya tidak. Ia pergi ke suatu tempat untuk menyendiri. Nur yang merasakan perubahan itu, merasa bersalah. Hari ini libur. Lutfan tidak keluar kamar sejak pagi. Nur yang khawatir, menghampiri ke kamar putranya yang tidak dikunci. Wanita itu mendapati sang putra tidur dalam posisi duduk dengan laptop yang masih menyala di atas meja. Nur melihatnya. Di laptop itu, ada skripsi Alula. Nur tahu sebab di halaman bagian bawah ada nama gadis itu. Mata Nur memanas. Ia tambah merasa bersalah. Disentuhnya lengan Lutfan. “Fan, kalau tidur cari posisi yang enak, Nak.” Lutfan menggeliat, lalu

