“Ya, Bu. Sangat. Saya sangat mencintainya. Saya tahu mencintai seseorang sebelum halal itu dilarang. Tapi ketika Ibu bertanya tentang perasaan saya, saya jawab sejujurnya.” Lutfan menjawab dengan tegas. Tidak ada keraguan di sana. “Tapi kalau ibu saya menentang, saya bisa apa? Tolong katakan apa yang harus saya lakukan untuk memperbaiki semuanya?” Lutfan menunduk. Beban di pundaknya terasa berat perihal restu. Namun, setidaknya ia lega sudah berkata jujur. “Dari segi apa kamu mencintainya? Apa dari segi wajahnya yang sangat cantik itu?” Lutfan kembali mendongak, lalu menggeleng. “Tidak, tapi dari sikapnya, sifatnya, dan kepribadiannya. Bu, saya tidak bisa memperjuangkan Alula, tidak bisa berbuat banyak kalau ibu saya tidak ridho. Padahal dari sisi saya pribadi, saya sama sekali tidak

