Alula yang mendengar itu, mundur, lalu berlari menjauhi IGD. Kaki jenjangnya terus mengayun menapaki paving block di halaman rumah sakit, tidak tahu harus ke mana. Tiba di sebelah parkir mobil, ia berhenti dengan napas terengah-engah. Wanita itu memegangi dadanya yang terasa sangat sesak. Ia juga masih terisak-isak. Karena tidak kuat, Alula terduduk dengan tubuh menyandar pada tembok. Ia menutup wajah dengan kedua telapak tangan. Tangisnya tidak bisa dihentikan. Alula lalu mengambil ponsel dari tas ranselnya dengan tangan gemetar, berniat menghubungi Aprilia. Namun, ditahan. Ia tidak ingin mengganggu kebersamaan sang sahabat dengan Tyo. Ia bertekad bisa mengatasi situasi ini sendiri. Lutfan mengejar, tetapi ponsel di sakunya bergetar. Begitu dilihat, ibunya menelepon. Ia pun memperlamba

