Irenee menggandeng lengan Azam mesra saat berhasil membujuknya untuk pulang bersama.
“Bisa nyetir mobil nggak?” tanya Irenee yang sudah berada di parkiran.
“Bisa.”
“Yaudah, kamu yang nyetir.”
“Tapi aku nggak ada SIM.”
“Gapapa.” jawab Irenee dengan merangkul lengan Azam saat melihat Reyhan mendekat ke arahnya. Eh ralat ke arah mobilnya yang berada di samping mobil milik Irenee.
Mereka berdua masuk mobil. Dan Azam mengendarai mobil Irenee dengan lancar.
“Zam, kamu nggak ada rencana buat minta nomor aku?” tegur Irenee.
“Eh. Boleh.” jawab Azam.
Irenee menghela nafasnya. Dia ini lagi negur Azam loh, buka nawarin Azam.
“Berapa nomor WA kamu?”
“Aku ga ada WA.”
“Line.”
“Aku juga nggak punya Line.” jawab Azam lagi. Irenee menatapnya. Azam masih fokus di jalan raya. Jangan sampe lecet mobilnya Irenee gara-gara dirinya bawa mobil nggak becus.
“Terus punyanya apa?”
“Hp aku bukan android atau ios.” jujur Azam.
“Terus?”
“Ya hp biasa. Cuma bisa buat telfon smsan sama dengerin musik.”
Irenee mendengus kesal. “Astaga.”
Nggak mungkin dong kalo dirinya cuma smsan nggak bisa VC VC gitu.
“Kamu kasih aja nomor WA kamu. Nanti aku WA pake hpnya adekku.” kata Azam lagi.
No!!! Big No!!! Buat Irenee. Ya kali
“Hp adek kamu Android??”
Azam menganguk sebagai jawabannya.
“Kok hp kamu enggak?”
“Sayang aja uangnya kalau di buat beli hp baru. Keperluan aku masih banyak juga soalnya.” jawab Azam. Irenee diam sekarang. Dia ingin bertanya kondisi keluarga Azam. Namun ia urungkan niatnya takut nggak sopan.
Irenee menyuruh Azam menepi saat melihat konter hp.
“Tunggu disini.” suruh Irenee. Azam menganguk.
Selagi Irenee keluar dari mobil Azam memegang dadanya yang berdetak keras sedari tadi. Azam melihat Irenee kembali dengan membawa kantong plastik.
“Nih.” kasih Irenee ke Azam.
“Ini apa?”
“Hp.”
“Aku tau Ai ini hp, Maksudnya kamu ngasih ini ke aku apa?” tanya Azam lagi.
“Biar kita bisa VC.” jawab Irenee polos.
“Berapa kamu belinya?” tanya Azam.
“8.”
“8 juta??” tanya Azam syok. Azam langsung mengembalikan hp tadi ke Irenee.
“Ini mahal banget Ai, Aku nggak bakal bisa ganti.” tolak Azam. Ia memaksa agar Irenee menerima hp itu lagi.
“Aku nggak nyuruh kamu ganti kok. Aku beliin itu buat kamu. Ikhlasss.”
“Emang uang jajan kamu nggak habis buat beliin ini ke aku?”
“Tenang aja, bulanan aku 60jt.”
Azam melongo mendengar jawaban Irenee. 60 juta dalam sebulan. Sekaya apa keluarga mereka jika Irenee yang anak sekolah aja 60 juta. Azam menggeleng-gelengkan kepalanya tak percaya.
“Pokoknya aku nggak bisa nerima. Ini berlebihan.” Azam menarik tangan Irenee dan meletakan hp tersebut.
“Kalau kamu nggak mau nerima. Aku buang hp ini. “ ancam Irenee.
“Aku nggak suka kalau aku ngasih orang terus di tolak.” lanjutnya.
“Aku nggak main-main.” Irenee sudah akan membuang hp itu tapi Azam mengambilnya lagi.
Irenee tersenyum.
“Makasih.” ucap Azam tak enak.
“Iya. Lanjutin nyetirnya.”
Azam melanjutkan menyetir mobilnya.
“Ai makasih ya.” kata Azam lagi.
Irenee memutar matanya jengah. Ini sudah keseratus kalinya Azam mengucapkan makasih.
“Kalau gitu hari ini sama besok minggu kamu harus nemenin aku.”
Azam menganguk. Ia menyanggupi permintaan Irenee sebagai ucapan terimakasih.
Azam menunggu Irenee berganti baju. Melihat Irenee turun dari tangga seperti melihat bidadari turun dari surga. Sepertinya dirinya mulai percaya dengan dongeng jaka tarub jika bidadari pernah turun ke bumi.
Irenee sudah tak sabar melihat rumah dan keluarga Azam. Dia penasaran sebenarnya.
Irenee melihat sekitar saat Azam mengajaknya turun dari mobilnya.
“Rumah kamu yang mana Zam?” tanya Irenee.
“Masuk gang ini belok kanan. Itu rumahku. “ jawab Azam.
“Ayo.” ajak Azam. Irenee mengikutinya dari belakang. Masuk gang rumah Azam banyak yang memperhatikan Irenee dari ujung rambut sampe ujung kaki.
“Zam penampilanku aneh ya??” tanya Irenee penasaran. Pasalnya sedari tadi tetangga Azam memandanginya.
“Enggak kok, Kamu cantik.” jawab Azam jujur.
“Kok dari tadi ngelihatin mulu?”
“Terpesona kali sama kamu.”
“Miss, may i take a photo with you??”
Irenee dan Azam menatap anak laki-laki dengan teman-temannya kaget. Azam sudah akan menyuruh anak anak kecil itu pergi tapi Irenee sudah duluan mengiyakan.
“Mas Azam fotoin ya.”
Azam menganguk. Ia segera mengambil foto Irenee dengan anak-anak itu.
“Udah-udah. Aku mau foto berdua sama missnya. Minggir sana kalian.” suruh anak laki-lakiyang meminta foto dengan Irene tadi.
“Aku juga mau foto berdua.”
Azam tidak enak dengan Irenee. Setelah anak anak kecil gantian ibu ibu yang meminta foto. Dan beberapa pemuda seumuran Azam meminta foto. Mau tak mau Irenee mengiyakan. Azam semakin tak enak.
“Udah, kalian nggak usah minta foto.” larang Azam kepada teman temannya.
“Yaelah pelit amat Zam. Mumpung ada artis luar negeri ini.”
“Dia pacarku.” mendengar pernyataan Azam teman-temannya tertawa tak percaya. Mana mau cewek secantik ini mirip artis lagi mau sama Azam.
“Aku pacarnya Azam.” kata Irenee.
Azam menjulurkan lidahnya kepada teman-temannya yang memandangnya kaget. Dia menggandeng Irenee dan segera mengajak ke rumahnya. Irenee menatap tangannya yang di pegang Azam.
Irenee menatap rumah kecil yang di depannya sudah penuh orang orang bermain hp. Irenee membaca tulisan yang berada di tembok rumah itu. Wifi zone Irenee mengerti Azam membuka wifi sekalian jualan di rumahnya.
Orang-orang disana menatap Irenee.
“Ciee.. Mas Azam bawa cewek ke rumah. Pacarnya ya?”
“Ciee..”
Azam menyuruh orang orang itu diam.
“Masuk yuk. Maaf kalau rumah ku jelek.”
Irenee masuk ke dalam rumah tersebut dan duduk di karpet yang baru saja di rapikan Azam. Dia segera bangun dan menyalami seorang perempuan parubaya yang di duganya pasti ibunya Azam.
“Siang tante.” sapa Irenee.
Perempuam itu tersenyum melihat Irenee. Cantik.
“Maaf nggak bawa apa-apa.” sambung Irenee lagi.
“Nggak papa. Nggak usah repot-repot. Ibu yang minta maaf nggak bisa nyuguhin apa-apa. Bentar ya, ibu bikinin minum. “
“Eh nggak usah bu.”
“Udah gapapa. Kamu duduk aja.”
Irenee duduk sembari memainkan ponselnya. Azam sedang berganti baju.
“Ibu... Ibu..” panggil seorang anak laki-laki yang masuk ke dalam rumah. Irenee kaget melihatnya. Kaget mendemgar suaranya sebenarnya.
Anak laki-laki dan perempuan itu melihat Irenee kaget. Benar yang di katakan teman temannya. Kakaknya membawa perempuan cantik mirip artis luar negeri di rumahnya.
“Kakak siapa?” tanya gadis kecil itu.
“Irenee. Kamu siapa?” Irene mengulurkan tangannya untuk di jabat anak perempuan itu.
“Nisya. Ini kak Risky.”
“Hai.” sapa Irenee dengan tersenyum. Nisya dan Risky segera duduk di dekat Irenee.
“Kakak cantik ya.” puji Risky.
“Makasih. Risky juga ganteng kok.”
“Gantengan mana sama kak Azam?”
“Gantengan kak Azam lah.” jawab Nisya.
“Aku nggak tanya kamu.” sinis Risky ke Nisya.
“Ini, di minumnya.” kata Ibu Azam dengan menaruh minuman dan camilannya.
Irenee segera menoleh ke arah ibunya Azam.
“Makasih bu, maaf ya ngerepotin.”
“Gapapa. Ibu nggak repot sama sekali.”
Azam kaget melihat kedua adiknya sudah duduk di dekat Irenee dan mengobrol akrab dengan perempuan itu. Azam tersenyum memperhatikannya.
“Ai, mau makan dulu nggak? tawar Azam.”
Irenee melihatnya dan menggelengkan kepalanya.
“Aku masih kenyang.” jawab Irenee.
Nisya memperhatikam kakak laki lakinya itu.
“Kak Irenee siapanya kak Azam?” tanya Nisya.
“Calon Istri.” jawab Azam.
Irenee yakin wajahnya pasti sudah semerah tomat saat ini mendengar jawaban Azam. Azam duduk di depannya.
“Berarti Kak Irenee, calon kakaknya Nisya dong.”
“Seriuss?? Kak Irenee pacaran sama kak Azam?? kok mau sih sama kak Azam?” saut Risky.
Azam ingin menjitak adik laki-lakinya itu sekarang jika tidak ada ibunya. Ibunya sendiri tertawa. Irenee tidak percaya jika keluarga Azam sangat hangat dan menerimanya.
“Tanya aja sama Irenee.”
“Beneran kak?” tanya Risky lagi.
“Iya.” jawab Irenee dengan menahan senyumnya.
“Kok Irenee mau sama Azam.” kini gantian ibunya yang menggoda Azam. Dia tak percaya jika putra itu memiliki pacar. Azam bahkan tak pernah menyinggungnya sama sekalii.
“ Irenee juga nggak tau bu.” jawab Irenee.
Azam mendengus melihat tingkah keluarganya itu.
***
Azam mengajak Irenee berjalan jalan di sekitar rumahnya.
“Ai, makasih ya udah buat adekku seneng.” kata Azam.
“Aku yang harusnya makasih. Udah bikin aku ketawa dari tadi. Adek kamu lucu banget malah. Ngingetin aku ke Darrell. Aku juga sering berantem sama dia.” sambung Irenee.
“ Irenee.” panggil Azam.
“Ya?”
“Aku boleh tanya sesuatu nggak?” tanya Azam serius. Irenee menatapnya.
“Kamu kenapa jadiin aku pacar? Aku bukan orang yang ganteng, keren, pinter. Aku juga bukan orang yang kaya.”
Irenee tau jika Azam pasti akan bertanya seperti hal ini. Jadi Irenee sudah mempersiapkan jawabannya.
“Nggak tau Zam. Bukannya emang cinta nggak ada alasan ya?”
Azam diam. Memikirkan perkataan Irenee. Memang benar seperti itu. Buktinya dirinya terpesona hanya dengan melihat mata biru itu.
“Emang sejak kapan kamu suka aku?” tanya Azam lagi.
Nah ini Irenee juga sudah akan mendunganya.
“Bukannya rasa suka datangnya tiba tiba ya Zam? “ tanya balik Irenee.
“Kok aku nggak ngerasa kayak kamu suka sama aku ya?” tanya Azam polos.
Irenee diam. Lah memng benar kok dirinya nggak suka sama Azam. Dirinya pacaran sama Azam gara-gara kesel sama Reyhan dan mentari.
Irenee tersenyum manis di depan Azam. Azam melihatnya. Senyum tak tulus melengkung dari bibir gadis di depannya. Azam pernah tak sengaja melihat Irenee tertawa dengan Darrell. Dan itu lebih nampak hidup dan membuat jantungnya bergetar lebih keras. Tak seperti sekarang ini. Ya meskipun jantung Azam tetap berdetak sekarang.