4. Berpisah

1394 Kata
Satu minggu sudah Bening tinggal bersama keluarga Zain, luka memar pada matanya berangsur pulih begitu pula memar lain yang ada di tubuhnya. Pipinya sudah mulai terisi dan raut wajahnya sudah berangsur membaik, ya paling tidak sekarang Bening bisa tertawa. Kemajuan yang pesat untuk Bening. “Tok..tok..tok..” Ibu membuka pintu lalu melihat 2 orang polisi berada di depan pintu. “Ada yang bisa saya bantu Pak?” tanya Ibu penuh tanda tanya. ”Mari masuk dulu Pak, kita ngobrol di dalam.” lalu Ibu memanggil Ayah. “Begini Ibu dan Bapak, kami mendapatkan laporan atas nama Ibu Meilani untuk putrinya yang menghilang dan beliau mengatakan kemungkinan anak beliau yang bernama Bening Rembulan berada di sini. Apa betul seperti itu Bapak dan Ibu? Apakah Bening berada di sini?” Bapak memandang Ibu lalu bapak berbicara, “betul Pak, Bening berada di sini, kami melihat anak itu terluka jadi kami mengambil insiatif untuk mengobatinya di rumah kami ini.” Bapak menghela napas lalu bertanya kepada Ibu Meilani,”kalo boleh saya tau Bu, apa yang terjadi pada Bening, jujur saja bu?” Ibu Meilani tergagap mendapat serangan pertanyaan mendadak yang Bapak lontarkan. “Bening hanya terjatuh dari tangga belakang rumah susun yang kami tinggali Pak.” Ibu Meilani memasang muka datar lalu melanjutkan kembali perkataannya,“Saya tidak tahu apa yang dikatakan Bening, ini hanya pertengkaran kecil antara Ibu dan Anak saja,” ucap Ibu Meilani lagi sambil tetap mempertahankan ekspresi datarnya. Bapak dan Ibu saling memandang dalam tatapan dalam lalu menganggukan kepalanya tanda memahami walau Bapak dan Ibu Zain tahu dengan sangat benar apa yang sebenarnya terjadi disini dan mencoba menahan diri karena didepan mereka ada seorang Polisi membuat Bapak mengurungkan niatnya untuk berdebat lebih jauh. “Baiklah Bu, sebentar saya panggilkan Bening dahulu.” Tok ... Tok ... Tok ... Ibu mengetuk kamar Bening lalu masuk setelahnya. Ibu duduk di sisi ranjang lalu mulai bicara dengan perlahan-lahan dan sangat hati-hati, bahwa di Ruang Tamu ada Ibu Bening yang bermaksud untuk menjemputnya pulang dengan membawa 2 orang polisi. Bening sangat terkejut dan menangis karena dia tidak mau ikut dengan Ibunya. Ibu mendekap dan menenangkan Bening lalu meminta Bening untuk menemui Ibunya dahulu agar tidak ada salah paham. “Ibu ... Aku ga mau Bu, aku takut dipukul lagi ... Bu. Mamah pasti memberi cerita yang beda kepada kedua Polisi itu Bu,”isak Bening tak tertahan. “Ibu tau kebenarannya Bening, kamu ga usah khawatir, tapi Ibu mohon pikirkan kami disini. Ibu takut laporan Ibumu kepada Polisi akan berbuntut panjang. Beri kesempatan sekali lagi Bening untuk Ibu mu, semoga kali ini Ibu mu akan berubah.” Bening mengerti akan keadaan nya sekarang, dia tak bisa egois hanya untuk berfikir kepentingannya sendiri, tapi apakah harus seperti ini? Bening sungguh tak mengerti jalan pemikiran orang dewasa itu dan sangat berhasil membuat pikirannya sangat kalut. Persetan dengan apa pun lagi, Bening tak bisa membiarkan orang lain mengganggu Zain dan keluarganya. Bening tak mau keluarga sebaik ini ikut merasakan kepedihan yang Bening rasakan. Bening akan memberikan Ibunya satu kesempatan lagi. “Baiklah Bu, bening akan Ikut.”  Lalu Ibu Zain dan Bening keluar menuju Ruang Tamu sambil berpegangan tangan, saling menguatkan untuk tetap bisa bertahan. Betapa Ibu sangat hancur hari ini, Bening yang sudah dianggap sebagai putrinya sendiri akhirnya akan pergi. Paling menyesakkan baginya karena pergi membawa luka dan Ibu tak bisa berbuat banyak untuk menghalaunya. Rasanya baru saja kemarin Bening sudah mulai bisa tersenyum dan tertawa. Ibu merasa sangat kecewa dengan dirinya sendiri tapi dia juga harus memikirkan keluarga intinya. “Oh Bening anak Mamah, Mamah kangen, ayoo pulang nak,”sambil memeluk Bening ,Mamah berbisik di telinganya. “Tutup mulutmu p*****r kecil atau aku akan menyiksamu lebih dari ini,” lirih Ibu Meilani pelan, Bening tersentak lalu mengendurkan pelukan nya. Bening tersadar bahwa Mamahnya tak berubah sedikitpun. Bening histeris, sekelebat bayangan akan siksaan demi siksaan itu kembali membawanya pada rasa sakit yang luar biasa,menghantam memporak porandakan. Membuatnya susah bernapas. “Aku tak mau pergi ... Zainnnn ...Tolong Aku...,” tangis Bening pecah saat melihat Zain di pintu dan langsung meronta minta pertolongan. Tangan Bening berusaha menggapai tangan Zain yang ditahan oleh Bapak dan Ibu. Tarik menarik antara Ibu Meilani dan Zain pun terjadi. Zain tak rela melepaskan Bening sedikitpun tapi apalah daya badan kurusnya tak sanggup menggapai tangan mungil Bening yang perlahan menghilang dari pandangan. Di dalam mobil Polisi ternyata sudah menunggu kekasih mamahnya, dengan tersenyum tanda kemenangan dia menggenggam tangan Bening. Bening menangis dalam diam, berfikir bahwa inilah akhir takdirnya. Takdir membawanya untuk  jatuh ke pelukan calon ayah tiri yang kejam ini. Semua peristiwa perih serta merta perlahan masuk kembali ke ingatan Bening dan tanpa sadar dia bergidik ketakutan. Mencengkram lengannya sendiri, berharap kekuatan itu akan ada sampai akhirnya dia lemas dan pingsan. Sesampainya di rumah Ibu Meilani, “Plaaakkk ... Apa yang Kau lakukan hah ... Kau mencoba membantahku? Aku yang merawatmu tau, bisa apa Ibumu kalo tidak ada aku hahhh?” mendorong, menerjang, dan menampar Bening berulang-ulang sampai dia merasa terpuaskan. Akhirnya rasa ini kembali. Apa yang harus aku lakukan. Aku harus kuat aku tak akan mati dengan begitu mudahnya, aku harus tegar. Tendangan dan pukulan diterima Bening dengan kepasrahan, tidak ada rintihan meminta tolong kepada Ibunya yang asik sendiri dengan mabuknya. Bening hanya terdiam menutup mata merasakan sakit akibat tendangan dan pukulan yang diterima dan hanya berusaha kuat sampai ini berakhir. Ya Tuhan tolonglah aku, aku ingin bebas, aku kuat...kau kuat Bening...kau sangat kuat Bening...kau akan menaklukan dunia...kau hanya harus kuat...seketika ucapan Zain yang tiap malam diucapkan terngiang-ngiang di benak bening. Zain...aku akan kuat untukmu. Zain tolong temukanlah aku, genggamlah tanganku lagi, peluk aku dan jangan lepaskan. “Cepat bikinkan aku kopi anak malas. Kau disini sama dengan Ibumu ... Kalian adalah Babuku. Tak usah berlagak hebat kalian di hadapanku ... Kau dengar itu haahhh...”     Hardikan dan teriakan suaranya seketika membangunkan akal sehat Bening untuk menggerakkan badannya yang sangat-sangat sakit. Tapi Bening sudah bertekad untuk tidak membiarkan lelaki laknat ini melihat air matanya lagi. Membawa nampan yang berisi kopi itu ke ruangan tengah sambil menahan sakit adalah hal yang sudah biasa bagi Bening. Namun kemana lelaki laknat itu? Ibunya pun tak ada. Kopi panas itu Bening letakkan ke meja lalu dia berniat akan keluar sejenak ke pintu belakang rumah untuk menghilangkan penat. Melewati lorong kamar Ibunya yang samar- samar terdengar lirihan. Bening seketika meremang, sangat takut jika lelaki laknat itu akan menyiksa Ibunya. Perlahan dia mendekat ke arah pintu kamar tapi lirihan-lirihan itu sudah tidak terdengar lagi dan beberapa detik kemudian berubah menjadi erangan dan desahan yang bertubi-tubi. Bening memilih untuk berlalu dan melanjutkan rencananya ke kebun belakang, dia sudah tau bahwa Ibunya menjadi b***k Seks lelaki laknat itu sejak dahulu, sejak di Kayu Aro. Saat di Kayu Aro lelaki itu hanya datang dan menetap di rumahnya selama sepekan dalam tiap bulannya. Selama itu pula akan selalu ada hardikan dan umpatan diikuti pemukulan terhadap dirinya. Terkadang Ibunya juga diperlakukan demikian tetapi tak sesakit dan selama yang dideritanya setidaknya itulah yang ada di pikiran Bening, karena setelahnya akan berakhir di kamar. Entah apa yang dilihat Ibunya dari lelaki itu sampai pada akhirnya malah Ibunya yang mendatangi lelaki laknat itu sampai ke Sungai Penuh. Kenyataan hidup seperti inilah yang ada di hadapan Bening. Mengelak tak punya daya, melawan pun percuma karena tak bertenaga. Apalah arti seorang Bening remaja dihadapan lelaki laknat itu dan Ibunya, hanya seonggok daging bernyawa yang harus diberi makan saja. Bening selalu berharap dan berdoa semoga dia tak menjadi korban kekerasan s****l karena dengan melihat kondisinya saat ini hal tersebut sangat mungkin terjadi. Bening kadang berfikir inilah mungkin satu-satunya yang bisa dilakukan Ibunya sehingga sang Ibu rela menjadi b***k seks lelaki itu. Alasan dan kenyataan yang Bening harapkan benar adanya (Paling tidak ada gunanya sang Ibu di matanya). Saat sendiri seperti inilah yang membuat Bening selalu teringat akan kebersamaannya dengan Adel, Zain dan Abi. Betapa dia merindukan mereka. Apakah Zain memikirkan dirinya?. Masih tertanam dengan jelas di ingatan saat Zain memegang erat tangannya menyalurkan kehangatan dan kekuatan hanya untuk menenangkan Bening. Begitu rindu dengan celotehan Adel saat menceritakan Film yang dia tonton dan berakting memperagakan para pemainnya. Tentu saja sorakan teman- teman Bening yang selalu heboh saat Abiyaksa datang ke kelasnya untuk menghampiri Adel dan Bening. Betapa beruntungnya aku mengenal kalian sahabat sahabat terbaik ku. Tetesan air mata itu akhirnya jatuh, tak lama karena tiba-tiba suara lelaki laknat itu kembali terdengar.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN