2. Lari

1677 Kata
“Aku tunggu di lapangan bola ya Bening, jangan sampai kau melewatkan pertandingan terbaik tahun ini looo...”. Zain berucap pelan saat mereka jalan bersama menuju gerbang sekolah untuk pulang ke rumah masing-masing. “Baiklah...aku akan datang, berikan yang terbaik untuk team mu ya Zain. Semoga kalian berhasil”. Senyum itu terpatri lagi di wajah manis Bening. Tidak dapat dipungkiri berteman dengan Zain membuat Bening merasa aman, anak kurus itu selalu saja memberi kenyamanan yang selalu diidamkan Bening di sudut hatinya yang terdalam. Zain yang selalu menatap Bening dengan tajam selalu bisa membuat Bening merasa terintimidasi dan aman pada saat yang sama. Perhatian dan tutur kata Zain yang lembut membuat Bening akhirnya bisa merasakan menjadi seseorang yang berharga dan diinginkan. Sederhana memang keinginannya, tapi kesederhanaan itu merupakan sesuatu yang mahal buat seseorang yang bernama Bening Rembulan. Hari Minggu yang cerah sarat akan semangat ini menular kepada Bening dan Adel yang sudah berdiri di jajaran kursi penonton, saling berteriak untuk mendukung team masing-masing. Hal baru bagi mereka berdua, ternyata berteriak seperti ini sangat menyenangkan dan membuat tenggorokan kering. “Hahaha ... Hahaha ... Ini sangat seru ya Bening. Aku tak menyangka pertandingan ini akan seheboh ini. Lihatlah gadis pom pom itu, seperti tidak kehabisan energi untuk berteriak. Aku rasa mereka bawa aer galon ke sini...”dan mereka pun tertawa bersama menyadari kekonyolannya. Pertandingan antar dua sekolah yang berseberangan desa itu akhirnya dimenangkan oleh team Zain dan Abi. Sportifitas antara kedua team diacungi jempol, sepanjang waktu pertandingan tadi kesalahan yang disengaja nihil, sliding aman , passing yang terarah. Abi dan Zain sangat mengapresiasi nilai ini dalam sebuah pertandingan, mereka tidak butuh drama Diving untuk mendapatkan kesempatan Shooting. Pertandingan yang fair dengan adu skill dalam dribbling bola sudah bisa membuat mereka para pemain dan penonton puas saja sudah cukup. “Zain..ayo minum dulu, kau sepertinya sangat kelelahan. Apa kaki mu tak apa Zain? Aku heran kalian para lelaki suka kali maen sepak bola, satu bola direbut rame-rame, kaya tak ada kerjaan laen aja kalian nih”ceriwisnya Bening merupakan satu hal yang baru lagi buat Zain sehingga sangat bisa membuat Zain terpingkal mendengar apa yang Bening utarakan. “Hahahhaha...aku tak sangka Kau bisa cerewet juga. Ku kira Kau diem-diem aja ... laaahh. Aku tak apa lah Bening kaki ku sehat walau kurus gini kaki ku kuat tau....Bening kau bawa makanan tak, aku lapar jadinya.” Seketika wajah merah Bening muncul. “Nih...Aku bawa..”Bening menyodorkan tempat bekal. Dia membuat nasi goreng telur. Sebelumnya Bening tak bisa memasak Nasi goreng itu maka sehari sebelumnya Bening sudah membuat janji dengan Ibu Maryanah untuk bisa mengajarkannya membuat nasi goreng yang enak. Ibu Maryanah adalah seorang Ibu rumah tangga biasa, seorang Ibu tunggal tanpa anak, suaminya sudah meninggal 10 tahun yang silam. Mata pencahariannya sama seperti para Ibu di daerah kami yaitu perkebunan teh dan kopi. Ibu Maryanah tinggal tak jauh dari rumahku, yang berbeda adalah Ibu Maryanah selalu memberi perlindungan dengan diam. Perbedaan yang mencolok dari sosoknya juga adalah keluasan hatinya untuk mengurus para anak yatim piatu di daerah kami tanpa berkeluh kesah tanpa meminta sokongan dana dan tanpa bertanya, beliau hanya membuka pintunya selebar mungkin untuk anak-anak sepertiku (walau ibuku masih ada). Setelah Zain cukup beristirahat, dia mengantarkan Bening kembali kerumahnya. “Nah akhirnya sampai juga. Masuklah...Besok kita ketemuan di tempat biasa ya. Apa ban sepeda sudah kau perbaiki?” tanya Zain. “Eh...Eh..Hemm..Sudah Zain, sudah aku perbaiki ko..Tenang aja.” Bening tersenyum sekilas lalu menampilkan muka datarnya kembali. Ekspresi Bening yang seperti itu sudah sangat dipahami Zain, entah apa yang terjadi tapi Zain tahu ada sesuatu yang salah. Seperti saat itu, secara tidak sengaja Zain melihat Bening menangis di belakang tembok gudang kelas kami yang berseberangan dengan taman bunga tulip. Atau pada saat Zain melihat tanda kebiruan di kaki Bening yang sangat putih itu. Semua kejadian dan ekspresi Bening yang terpatri sangat jelas di ingatan Zain. Menunggu hari dimana Bening akan bercerita tanpa ada paksaan darinya. Saat ini Zain hanya ingin ada di samping Bening, menggenggam tangan mungil itu mengambil asa semoga Bening paham akan keberadaannya, paham bahwa sampai kapan pun Zain akan ada di sini untuk Bening Rembulan. Keesokan hari yang sudah disepakati keduanya ternyata tak terlaksana, karena Bening tiba-tiba menghilang. Setiap hari selama 3 hari terakhir ini Zain menunggu di jalan ini sampai akhirnya batas kesabarannya hilang dan ingin segera menanyakan hal ini ke Adel. “Adel... Bening dimana?”dengan terburu-buru Zain masuk ke kelas Adel sambil menyapu seluruh area kelas itu dengan seksama. Tapi yang dicari Zain tidak ada, Bening tak ada. Kemana anak itu, ponsel nya pun tidak aktif. Dan ini sudah hari ketiga Bening tidak masuk kelas. “Aku tak tahu Zain, hari ini dia tidak masuk kelas lagi.” Adel terdiam dan berfikir sejenak, saatnya dia bercerita dengan Zain, kegundahan hati Adel selama ini yang tidak pernah dia ceritakan kepada siapa pun perihal Bening. “Zain..nanti kau pulang bersamaku ya..Hemm..Ada hal yang perlu aku beritahu padamu”. Kegundahan hati Adel terasa sangat kentara pada saat Adel mengucapkannya. “Baiklah Del...aku akan tunggu”. Raut muka Zain tidak bisa disembunyikan lagi. Gusar dan segudang tanya memenuhi pikiran Zain. Zain tahu dia butuh seseorang untuk mengurai semua tanda tanya ini dan semoga Adel bisa memberi petunjuk itu “Sejak kapan kau mengetahui ini Del” tanya Abi tanpa meloloskan tatapan tajamnya. “Saat di kelas aku sering sekali memperhatikannya. Tatapan matanya yang kosong, lamunannya, dan yang paling sering aku dapati adalah dia sering sekali meringis menahan sakit. Diikuti dengan beberapa luka di bagian tubuh. Kadang aku melihat dia mengganti perban di ruangan UKS, seperti luka bakar tapi ketika aku menanyakan lebih detail dia selalu berbohong. Ya aku tau dia berbohong dengan mengatakan dia ceroboh saat menuang air panas atau apapun itu. Aku lalu mengikuti dia pulang, tentunya dengan diam-diam. Melihat keadaan rumahnya dengan diam-diam pula. Dari situ aku tau bahwa dia tinggal bersama Ibunya dan satu lagi adalah seorang lelaki. Aku tidak akan mengira bahwa itu adalah ayahnya karena yang kutahu ayah kandung Bening sudah meninggalkannya sejak kecil.” Sepanjang perjalanan menuju rumah Bening Zain tidak henti-hentinya berfikir, Apa yang sebenarnya terjadi pada Bening?. Sesuatu yang diluar nalar Zain. Adel dan Zain sampai ke rumah Bening, tapi sepertinya rumah itu sudah kosong. Mereka mengetuk rumah itu dengan suara yang agak keras lalu mengintip ke sela-sela jendela. Nihil, tidak ada ciri kehidupan disana. Mereka lalu menanyai beberapa tetangga yang tinggal di situ tapi semua tetangga yang mereka datangi kompak menjawab bahwa mereka tidak tahu keberadaan Bening ataupun Ibunya. Menurut penuturan mereka, sejak kepindahan keluarga Bening ke rumah kontrakan itu mereka tidak pernah melihat sosok Ibu Bening. Rumah itu selalu gelap, jendela tak pernah dibuka, sangat tertutup sekali. Lalu Adel dan Zain melanjutkan kembali perjalanan mereka dan bertemu dengan Ibu Maryanah. Mereka berbincang sebentar lalu Ibu Maryanah mengajak mereka berdua untuk masuk ke dalam rumahnya. Dengan tatapan menerawang.. “ Ibu hanya sempat mengobrol 2 atau 3 kali dengan anak itu. Dia selalu mengintip lewat jendela itu.” Sambil menunjuk ke arah jendela dengan tirai putih menjulang yang berseberangan dengan arah mereka duduk. “Awalnya Ibu kira dia hanya anak baru yang datang ke kawasan ini, maka dari itu Ibu menawarkan minum dan makan, sama seperti anak Yatim yang sering datang kemari. Dia makan dalam diam dan setelah itu tersenyum dan selalu memuji bahwa itu adalah makanan paling enak yang pernah dia makan. Lalu setelahnya dia mencuci piring dan menyapu rumah Ibu. Anak yang sangat rajin dan pendiam. Ibu tak pernah bertanya tentang semua luka di tubuhnya itu. Sudah cukup baginya untuk menahan sakit dengan tidak mengungkitnya kembali “. Tiba-tiba Ibu Maryanah berkata setengah teriak. “Sepertinya Ibu tahu dia kemana...Dia bilang Ibunya diterima kerja di Sungai penuh, Jambi. Bagaimana jika kalian mencoba menyusur jalan Sungai Penuh tersebut, Ibu rasa tak sulit menemukannya disana karena wilayahnya tidak begitu besar.” Zain dan Adel bersitatap, meyakinkan diri atas keterangan Bu Maryanah. “Kita harus menemukan Bening, aku mohon Zain tolong bawa bening pulang” Adel berkata lirih sambil menitikkan air mata. “Insya Allah aku akan menemukan nya, aku harus ijin terlebih dahulu Del..aku tak mau orang tuaku khawatir walau perjalanan ini sebentar dan aku sudah sering kesana mengingat om ku juga disana”. Zain menjelaskan dengan suara yang ditenangkan kepada Adel yang sudah mulai panik. “Baiklah Bu, kami rasa kami harus pamit dahulu, doakan langkah kami Bu..”. Adel dan Zain mencium tangan Ibu Maryanah dengan takzim simbol penghormatan yang sangat tinggi untuk beliau. “Baik Bu ...Wassalamualaikum..” Sepeninggal dari kediaman Ibu Maryanah, Zain berjalan dalam diam, mencerna semua kejadian hari ini dengan perlahan, semua tanda tanya yang menyelimutinya akhirnya terbebas satu persatu. Tak ayal kenyataan ini membuat Zain kecewa karena bodohnya dia untuk tidak bertanya langsung kepada Bening pada saat Bening masih ada disampingnya. Sesal dan sesak yang melingkupi rongga d**a Zain membuat dia menghembuskan napasnya berkali kali. “Del..aku akan antar kau pulang ya..” Sikap bertanggung jawab seorang Zain Al Fatih kepada siapa pun patut diacungi jempol mengingat usianya. “Tak usah Zain karena selepas niihh.. aku ada janji membuat prakarya di rumah Abi. Abi berjanji akan membantuku karena seperti yang kau tahu, tidak ada yang bisa membantuku tugas di rumah karena abang tak ada orang tua pun sibuk bekerja”. Adel mendayungkan logat bahasanya untuk menyatakan kekesalan dalam sebuah tawa. “Oh iya Abi...Aku belum bertemu dengannya hari ini, tolong juga beritahu ke Abi untuk perjalanan ke Sungai penuh. Beritahu dia untuk datang ke rumahku nanti malam ya Del..” “Beres Bos...” Cerianya Adel memang selalu membuat mereka bertiga tertawa. Zain si muka misterius yang jahil tapi bertanggung jawab alias dewasa. Abiyaksa si gagah tampan yang selalu bercita-cita menjadi seorang pengusaha. Bening yang pendiam tapi sekalinya nyeletuk bikin mereka selalu sukses tertawa. Adel si Ceria yang selalu sukses membuat siapa pun yang dekat dengannya merasa nyaman, bercita-cita sebagai aktris karena sangat menyukai Film. Ya Allah, tolong temukan sahabat terbaik dan terkasihku, jagalah Dia untukku Ya Allah, hanya mereka lah sahabatku pelipur rasa sepi, penyokong semangatku. Aku sayang kalian semua sahabatku terbaikku.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN