BAB 10 Terungkap Malam sudah larut. Naya berjalan seorang diri menyusuri sepinya jalanan yang dia lewati. Sesekali Naya menyeka air mata yang masih membasahi wajah. Hatinya begitu sakit mendapati perlakuan dingin dan angkuh dari Gasta. Naya memasuki kamar kos dengan gusar. Dia melempar tas selempang ke atas pembaringan, sementara dirinya jatuh terduduk di lantai keramik yang dingin. Naya terguguk mengingat perlakuan Gasta akhir-akhir ini. Perlahan Naya bangkit, membuka jendela kamar lebar-lebar. Dilihatnya kerlap-kerlip lampu kota yang tampak indah, berharap rasa damai segera hadir untuk menghapus segala gundah di hati. Bulir bening masih melekat di wajah Naya. Dirinya tidak menghiraukan dinginnya angin malam yang terus menampar wajah, seolah memintanya sadar akan kenyataan pahit yang

