Bab 79: Menjadi Pria Egois

1239 Kata
Lepas dari sekolah mereka, Mia dan Akram berencana kembali ke rumah. Namun, hujan yang tiba-tiba datang membuat mereka mengurungkan niatnya. "Tunggu dalam aja, ya Mi," ujar Akram saat tempias hujan mengenai baju mereka. "Boleh, Mas." Akram pun mengajak Mia memasuki salah satu ruang kelas yang kebetulan tidak terkunci. Ia pun duduk di salah satu kursi seraya mempersilakan Miana Agya. "Makasih, Mas." Akram mengangguk kecil. Ia melihat ke arah luar sambil berkata, "Malah ujan." "Memangnya kenapa kalau hujan?" "Jadi nggak bisa main bola." "Mas mau main bola?" tanya Mia, kaget. Akram mengangguk. Rencanya ia akan melakukan itu di depan Mia sama seperti dulu. Ia ingin mengulangi momen yang sempat ia lewatkan. "Jadi nggak bisa kan," keluh Akram. Ia menyalahkan keadaan. Mia menyunggingkan senyum. Tak sempantasnya Akram menyalahkan hujan. "Dinikmati saja, Mas. Kalau reda ntar dicoba. Hujan itu rahmat." Akram menoleh. Ia senang dengan saran jitu dari istrinya pun jawaban yang selalu menenangkan. "Boleh aku bertanya, Mas?" "Ya. Tanya apa?" "Berapa lama kamu menjalanin hubungan sama Nasha?" Akram mengernyit. Pertanyaan macam apa itu? "Maksudku aku cuma mau tau langsung dari kamu, Mas," ralat Mia. "Emmmm berapa lama, ya? Enam tahun ada kali ya." "Enam tahun? Akram mengangguk lagi. Jika dihitung dari masa pendekatan memang enam tahun mereka menjalin hubungan. Sangat tidak sebentar. "Apa Mas rela hubungan itu hilang begitu saja?" "Maksudmu?" "Mas bilang kita bakal jalanin yang benar selama tiga puluh hari kedepan bukan? Mas bilang kita akan memulainya?" Akram mengangguk. Ya, ia memang berkata demikian. "Versiku adalah mengawali dengan kejujuran, Mas. Maka aku ingin tau langsung dari kamu tanpa ada yang ditutupi." "Kejujuran?" Giliran Mia yang mengangguk. Ia perlu memastikan lagi, lagi dan lagi. Setidaknya surat yang disimpan Akram cukup membuktikan ada harapan dalam hubungan mereka kelak. "Tidak mungkin sebuah hubungan di dasari tanpa kejujuran," imbuh Mia. Akram pun mengernyit heran. Mia seperti sedang memberinya soal ujian. Apakah ia harus menjawab sesuai dengan yang diharapkan? "Emmmm yang pasti aku sama dia udah nggak ada hubungan lagi, Mi. Ya udah selesai aja. Pacaran habis itu putus." "Putus semuanya? Yakin nggak ada sisa?" Akram menatap mata Mia lekat. Bicara tentang sepenuhnya tentu ia belum bisa. Ia hanya tidak mau melakukan kesalahan. Ia dan Nasha memanh telanjur nyaman. Tapi, saat semua itu nantinya akan terhalang restu, Akram pun mulai mempertimbangkannya. "Aku nggak pengen nyesel di kemudian hari, Mi. Sebelum terlambat lebih baik aku perbaiki. Setidaknya yang halal jauh lebih menentramkan bukan?" Mia mengangguk kecil. Jawaban dari Akram cukup retoris. Seperti tidak muncul dari dalam hati, tapi menggugah jiwanya untuk percaya. "Gantian aku yang tanya lagi boleh?" "Tanya apa?" "Kenapa kamu takut bapak sama Ibu tau hubungan kita yang penuh sandiwara?" Tentu pertanyaan itu di luar dugaan Mia. Seharusnya Akram mau memahaminya. Bukan malah memperjelas dengan kata 'sandiwara'. "Entahlah. Aku sendiri tak paham mengapa seperti itu. Yang pasti aku tak siap membuat mereka terluka." "Kebahagiaan mereka nomor satu?" Mia mengangguk mantap. Baginya tak masalah ia tidak bahagia asal orangtuanya bisa merasakan bahagia. Hal itu sudah cukup. "Aku rasa Mas pun sama." Akram tersenyum simpul. Mereka ada karena orangtua mereka. Sudah sewajarnya mereka membalas budi dengan sepantasnya. Toh hubungan yang tidak dilandasi restu orangtua hanya akan mempersulit mereka kedepannya. "Mi...." "Iya, Mas?" "Kayaknya kita harus pulang sekarang." "Sekarang?" Mia mengamati keadaan di luar yang masih hujan. Akram mengangguk yakin. Ia tidak mungkin menahannya dan tidak akan melakukannya di tempat semacam ini. * "Kamu nggak apa-apa?" tanya Akram memastikan sebelum mereka menerobos hujan. "Nggak apa-apa, Mas. Lanjut aja." "Oke. Langsung ke rumah ya." Mia mengangguk. Ia mengencangkan pegangannya pada jaket Akram. Saat seperti ini ia merasa berani karena tidak langsung bersentuhan dalam arti yang sebenarnya. Namun, Mia tak mengira ternyata Akram melewati jalan yang berbeda. "Loh, mau ke mana, Mas?" tanya Mia dari posisinya. Akram tak menjawab. Ia hanya menyeringai sambil terus melajukan motornya. Sudah kuyup, sekalian saja mereka berputar-putar, begitu pikirannya. Akram sengaja mengambil jalan berbeda. Ia ingin setiap hujan datang, Mia akan mengingatnya. "Muter?" tanya Mia lagi. Meski hujan sudah mereda, mereka tetap basah juga. "Nggak keberatan, kan?" "Tapi jauh banget, Mas jatuhnya." "Kenapa memang kalau jauh?" "Dingin banget jadinya." Akram pun menarik tangan kiri Mia dan melingkarkannya di perut. "Makanya pegangan yang kenceng biar nggak dingin." Mia jelas tersentak. Apa yang dilakukan Akram di luar batas kebiasaan. Namun, ia tak bisa mengelak karena Akram telanjur memegangi dengan tangan kirinya. Mia hanya bisa mengulas senyum sambil memikirkan banyak hal. "Namanya buang-buang waktu, Mas," celetuk Mia saat motor Akram sudah berhenti di halaman rumah mereka. "Nggak apa-apa sekali-kali." "Kalau sakit bagaimana?" "Kan ada aku yang bakal jaga," kelakar Akram. Ia semakin berani menggoda Mia. Mia pun tersipu. Ia memilih mempercepat waktunya saat melepas helm dan segera membuka pintu rumah mereka. Akram hanya tersenyum. Ia merapikan terlebih dahulu posisi motornya seraya masuk menyusul istrinya. "Sorry, Mi. Aku mau jadi pria egois," lirih Akram sambil terus berjalan membuntuti Mia. Akram sebenarnya cukup kesal dengan kebongongan yang dilakukan Mia beberapa hari lalu. Ia tak mengira Mia akan melakukan itu padanya. Akram yang sudah mulai menikmati waktunya bekerja di toko semakin bersemangat. Ia mulai mengaplikasikan ilmu yang ia dapat saat bekerja di Betamart. Meski berbeda jenis barang yang dipasarkan, kegiatan yang dilakukan hampir sama. Siang itu sebenarnya Akram ingin memberikan kejutan pada Mia. Ia yakin gadis itu akan senang jika mendapatkan oleh-oleh. Maka Akram menyempatkan membeli makanan ringan sebagai bentuk perhatiannya. Akram tertawa sendiri saat mengantre di salah satu kedai bakso langganannya. Setelah melakukan pesanan, ia memerikan ponsel sebentar. Namun, tak sengaja ia mengetuk status WA nomor Frans di mana terdapat foto pria bernama Zaki tengah berada di rumah Mia. Hal itu sontak membuatnya berpikiran macam-macam. Segera Akram menghubungi nomor Mia untuk memastikannya. "Assalamualaikum. Kamu lagi di mana, Mi?" Waalaikumsalam. Di rumah, Mas. Gimana? "Benar di rumah? Nggak sedang pergi-pergi?" Enggak, Mas. Dari pagi di rumah. Ada apa Mas? "Nggak apa-apa, Mi. Cuma mastiin aja." Ya, Mas. "Nanti pulang mau aku bawain apa?" Nggak usah, Mas. Nggak usah repot. Sambungan itu pun terputus. Akram berusaha berpikir positif bahwa Mia memang sedang di rumah menunggunya seperti biasa. Akram pun membayar pesanannya dan bergegas ke rumah. Begitu sampai di halaman, ia bersiul demi mengusir rasa gugup serta rasa penasarannya. Semoga benar dia di dalam. Akram pun mengetuk pintu rumahnya. Ia memang tidak membawa kunci seperti yang sudah-sudah. Akram mengucap salam. "Kok nggak dijawab?" ucap Akram. Ia mengintip lewat jendela untuk memastikannya. Akram pun mengeluarkan ponsel lagi. Ia bermaksud menghubungi Mia tapi sayang sudah ada pesan masuk terlebih dahulu dari seseorang. [Frans : Mia di rumah. Tadi aku jemput karena ada urusan. Nggak usah dicari.] Tangan Akram melemas. Mia tak hanya membohonginya tapi juga meminta Frans untuk melindungi. Akram pun kesal. Ia berpikir sebentar hingga akhirnya menuliskan pesan. [Akram : Oh, oke.] [Frans : Kata Mia ada kunci cadangan di dekat garasi. Kamu bisa masuk lewat sana kalau nanti pulang.] Mata Akram membelalak. Kunci cadangan? Bahkan Mia menggunakan itu? Yang benar saja. Akram tak membalas lagi pesan dari Frans. Ia bergegas menuju tempat di mana kunci cadangan berada. Ia berharap itu hanya akal-akalan Frans saja. Namun, harapan tinggi Akram hilang begitu saja. Di tempat yang tidak pernah ia tahu sebelumnya tersimpan kunci rumah mereka. Akram akhirnya kembali ke toko. Ia tunggu pengakuan dari Mia terkait kepergiannya, namun tak kunjung tiba. Hari ini saat ia ingin kembali mengajak Mia berkencan, tak disangka Mia justru meminta kejujuran. Sementara gadis itu sejatinya pun sudah melanggarnya. Akram sedikit geram. Ia perlu melakukan hal lain yang akan membuat Mia tak berkutik dan tak berani lagi berbohong padanya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN