BAB 1. Pertengkaran.

1515 Kata
PH 2. BAB 1. Banyak yang mengatakan bahwa pernikahan adalah Happy Ending bagi kehidupan. Tapi bagi Lisa, pernikahannya dengan Adrian adalah awal dari kehidupan yang sesungguhnya. Awal darinya benar-benar mengenal kehidupan yang sesungguhnya. Awal dari tahu bahwa sesuatu yang sudah dimiliki sekalipun, masih bisa di rampas oleh orang lain dengan cara yang tidak pernah dia bayangkan sebelumnya. “Sayang dasi aku yang warna biru mana?” Teriakan Adrian membuyarkan lamunan Lisa. Wanita itu segera menghampiri suaminya dan mengambilkan barang yang laki-laki itu cari. Setelah itu Lisa kembali keluar kamar dan menghampiri ranjang putranya. Adrian mendesah melihat kediaman istrinya. Semalam mereka bertengkar karena Adrian pulang terlalu larut. Padahal mereka sudah berjanji bahwa batas malam adalah pukul sepuluh malam. Itupun jika ada acara, jika hari biasa maka batas malam adalah pukul delapan malam. Bukan tanpa alasan Lisa menentukan jam malam untuk Adrian, dia hanya ingin putranya mendapatkan figure seorang ayah. Sebab siang hari Adrian sudah begitu sibuk. Jadi setidaknya waktu malam adalah waktu untuk keluarga. Bahkan sabtu dan minggu saja Adrian kadang ada urusan pekerjaan. “Sayang mau sampai kapan sih kita meributkan hal yang sama? Aku kerja buat kamu juga sama buat Regarta. Demi masa depan dia nantinya.” Ucap Adrian bersuara. Mengikuti langkah Lisa menuju kamar putranya itu. Lisa diam saja. Sejatinya memang dalam pertengkaran mereka Lisa hanya mengucapkan apa yang ada di benaknya seperlunya saja dan sisanya Adrian akan berbicara lebih banyak. Memberi alsan dan pertimbangan yang sejujurnya Lisa hanya butuh kata maaf, tapi laki-laki itu tidak peka. “Nggak mau bicara? Kamu terus-terusan kaya gini bikin aku bingung.” Adrian kembali berbicara. Lisa tetap diam sambil menahan air matanya yang hendak keluar. “Kamu Cuma tinggal di rumah, urus anak, menikmati semua kerja keras aku. Salah aku dimananya? Aku pulang malam itu kerja! Kecuali aku pulang malam macem-macem baru kamu berhak marah.” Tambah Adrian lagi semakin menambah jumlah sesak di d**a Lisa. Air matanya jatuh mengenai putranya dan membuat matanya mengedip lucu. Momennya tidak tepat, jika tidak sedang dalam suasana seperti sekarang Lisa sudah menciumi putranya yang menggemaskan itu. “Yaudah terserah kamu, sana kerja ini sudah siang.” Balas wanita itu tanpa menoleh. Tidak ingin melanjutkan pertengkaran ini apalagi di hadapan putra mereka. Adrian mendengus lelah, nyatanya pernikahan tidak seindah yang ada di bayangannya. Dan menurutnya Lisa masih terlalu kekanakan dalam menyikapi banyak hal. Membuat pagi ini yang seharunya dia menjaga mood karena akan ada meeting dengan orang penting menjadi berantakan. Laki-laki itu kemudian melajukan mobilnya menembus jalanan Jakarta yang cukup padat. Meninggalkan Lisa yang saat ini sedang menangis tertahan. Tidak ingin memperlihatkan air matanya pada putra kesayangannya itu, tapi sekaligus tidak bisa menahan sesak yang berkumpul di d**a. Wanita itu kemudian menepuk kembali punggung anaknya untuk membuatnya kembali tertidur karena sekarang belum waktunya dia terbangun. Berkali-kali tangannya menghapus air mata yang mengalir di pipinya. Berusaha mati-matian agar tangisannya tidak mengeluarkan suara. Dan setelah putranya itu kembali tertidur, Lisa keluar pelan-pelan dari sana menuju dapur. Rencananya hendak membereskan bekas dia memasak sarapan dan bekal untukAdrian tadi pagi. Tapi tangisannya sudah tidak bisa dia tahan lagi. Lisa menangis sesenggukan sampai kepalanya berdenyut. Dadanya sakit sekali mengingat ucapan Adrian yang selalu seperti meremehkan pekerjaanya sebagai ibu rumah tangga. Dia selalu mengatakan bahwa Lisa bisa hidup enak dan mudah mengurus rumah tangga sambil menikmati hasil kerja kerasnya. Padahal memiliki seorang putra yang belum genap satu tahun dan sedang lumayan aktiv sambil mengurusi semua keperluan Rumah Tangga tidaklah mudah. Apalagi untuk ibu baru sepertinya. Banyak sekali ketakutan di dalam dirinya yang ingin dia bagikan pada Adrian tapi laki-laki itu selalu sibuk dan tidak ada waktu. Bukan hanya itu saja yang membuat Lisa marah, kesal dan sesak tapi tidak bisa mengungkapkannya. Sejak beberapa bulan lalu, ada seorang karyawan Adrian bernama Sabrina yang datang ke rumah dan menjemput Adrian. Saat itu masih pagi buta dan Adrian malah membentak Lisa karena Lisa melarangnya pergi. Laki-laki itu tetap pergi meninggalkan Lisa yang menangis. Setelahnya Adrian meminta maaf pada Lisa dan masalah itu telah selesai. Tapi yang Lisa kesal, wanita bernama Sabrina itu selalu bersikap seolah-olah dia lebih mengerti dan mengenal Adrian. Dia juga selalu bersikap seolah-olah dia bisa lebih dibutuhkan oleh Adrian. Untuk acara-acara perusahaan bahkan Adrian lebih memilih mengajaknya dibanding mengajak Lisa. Alasannya adalah Regarta masih kecil dan sebaiknya Lisa menjaganya di rumah. *** Adrian memukul kemudinya setelah sampai di parkiran kantor. Sungguh dia sudah lelah dan ditambah harus terus bertengkar dengan Lisa hanya karena hal sepele yang seharusnya bisa di bicarakan membuatnya kesal. Terutama karena semalam Lisa harus tidur di kamar Regarta akibat pertengkaran mereka sehingga Adrian tidak bisa memeluknya saat malam dan itu membuatnya kesal pagi ini. Apalagi usahanya untuk berbaikan dengan menggunakan dasi biru tidak berhasil. Rupanya kemarahan Lisa lebih besar dari yang Adrian pikirkan, padahal penyebabnya hanya hal sepele. Kemarin malam memang tiba-tiba ada pekerjaan mendadak yang membuat Adrian harus pulang hingga larut malam. Laki-laki itu padahal sudah mengabari, tapi Lisa masih marah. Adrian kemudian membenarkan letak jasnya dan hendak keluar dari mobil ketika matanya melihat kotak makan berwarna biru yang berada di bangku sebelahnya. Rupanya Lisa membuatkan bekal pagi ini, dan untuk ini akhirnya Adrian sedikit lega sekalipun masih kesal. Setidaknya Lisa masih memperhatikan makananya sekalipun dia sedang marah. Laki-laki itu lalu berjalan memasuki kantornya sambil menenteng kotak bekal yang dibawakan Lisa. Semua orang menunduk hormat ke arahnya termasuk Sabrina, yang sekarang sudah menjadi sekertarisnya itu. Adrian tidak menyesal menjadikannya karyawannya dengan posisi seperti sekarang sebab menurutnya kinerja Sabrina memuaskan. Dia cekatan, kerap kali memberikan solusi yang bagus dan yang pasti kompeten dalam bidangnya. Semua jadwal Adrian terprogram dengan sempurna sehingga tidak ada waktu terbuang sia-sia. “Hari ini ada pertemuan dengan pimpinan Young-Han Group untuk pembicaraan mengenai kerjasama yang sebelumnya pak, selain itu sorenya bapak harus menghadiri launcing produk yang juga bekerja sama dengan kita. Sabrina terus mengucapkan jadwalku yang cukup padat. “Tolong geser acara sore hari, saya harus pulang cepat.” Ucap Adrian memotong ucapan Sabrina yang belum selesai. “Untuk acara Launcing tidak bisa di geser pak dan bapak harus hadir.” Balas perempuan itu. “Launcing hanya sampai jam lima sore kan? Setelah itu tolong kosongkan jadwal. Ganti besok saja.” Ucap Adrian lagi. Dia tidak ingin istrinya semakin marah di rumah jika dia plang terlambat lagi. “Tapi malam ini ada janji makan malam dengan Jong-sung group pak, dan saya rasa itu tidak baik jika di cancel karena mengingat pimpinan perusahaan tersebut sedikit sulit di temui dan jika kita cancel mungkin beliau akan merasa kita tidak menghargainya.” Jawab Sabrina membuat Adrian mendesah. Kepalanya tiba-tiba pening. “Bisa di percepat acara makan malamnya hanya sampai jam delapan?” Tanyanya lagi. “Bapak ada acara di luar pekerjaan?” Sabrina balik bertanya. “Saya harus pulang cepat karena istriku menunggu di rumah.” Jawab Adrian seadanya. Sabrina tersenyum, dimata Adrian mungkin itu senyuman yang wajar, tapi jika perempuan lain yang melihatnya. Mereka akan tahu bahwa ada perasaan tidak suka yang di selipkan dalam senyuman itu. “Saya rasa istri bapak seharusnya mengerti bahwa urusan pekerjaan bapak juga penting. Mengingat ribuan karyawan bergantung pada kinerja perusahaan ini dimana pimpinannya adalah bapak. Mau saya bantu meyakinkan ibu Lisa soal makan malam nanti malam?” Ucap Sabrina berusaha memberi solusi pada Adrian seperti biasa. “Tidak perlu, nanti biar saya sendiri yang akan menghubungi Lisa.” Jawaban Adrian diangguki oleh Sabrina dan setelahnya perempuan itu pamit untuk kembali ke meja kerjanya karena telah selesai membacakan jadwal Adrian. Adrian sudah tahu bahwa Lisa keberatan tentang keberadaan sabrina di sekitar Adrian, jika sabrina yang menghubungi Lisa maka semuanya akan menjadi semakin kacau. Entah kenapa istrinya itu belakangan ini menjadi sangat curigaan dan menyebalkan, padahal sebelumnya Lisa adalah wanita yang penurut dan selalu memahami apapun kondisi Adrian. Karena itulah adrian cukup frustasi belakangan ini. Pekerjaanya yang menumpuk ditambah masalah di rumah yang membuatnya pusing, seperti meningkatkan kadar stress di kepalanya. Tidak lama kemudian Bima masuk dan mengernyit heran melihat Adrian sedang melamun sambil memegangi kepalanya. “Kenapa lo? Ada masalah?” Tanya laki-laki itu sembari menyodorkan berkas ke hadapan Adrian. Beberapa waktu lalu Adrian meminta Bima untuk menyelidiki sesuatu dan kali ini laki-laki itu datang untuk mendiskusikan kemungkinan-kemungkinan yang bisa terjadi dari hasil penyelidikannya sebelumnya. “Istri gue marah-marah mulu Bim, gue pusing. Mana kerjaan gue banyak dan gue lembur terus.” Desah Adrian frustasi. “Kasih dia pengertian dong Yan, jangan sambil emosi. Dia begitu karena mungkin dia kelelahan jaga anak dan lo nggak ada bantu-bantunya sedikitpun.” Jawab Bima berusaha memberikan solusi. Adrian kembali mendesah. “Capek apanya sih Bim? Anak gue juga anteng aja. Dia di rumah juga nggak banyak kerjaan karena semua di kerjakan pakai mesin kan? Gue yang capek banting tulang tiap hari eh sampai rumah bukannya di sambut malah di ajak berantem.” Ujar Adrian lagi. Bima terkekeh. “Orang bilang jadi ibu rumah tangga juga bikin Sress loh Yan, gimana kalau lo bantu Lisa dengan pakai pengasuh jadi dia nggak begitu Stress, jadinya dia nggak marah-marah mulu sama lo.” “Gue nggak mau anak gue diasuh pengasuh, gimanapun pendidikan dari ibunya akan lebih baik dari pada dari pengasuh.” Jawab Adrian lagi dengan keras kepala. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN