The Darkness

2075 Kata
      Malam ini sesuai janji, Dani ngumpulin kami semua diruang keluarga, sebelumnya wajah mama Dani terlihat sumringah dan mengajakku duduk disampingnya langsung suram begitu mendengar pengakuan Dani yang diluar dugaan mama nya.      "Ma... sebenarnya, tadi siang Dani bolos sekolah." dia mengawali pembicaraan kami.      "Kenapa?" tanya orang tuanya bersamaan.      Kulihat wajah mama dan papa Dani langsung berubah serius, terlebih papa Dani yang ekspresinya tidak pernah aku lihat sebelumnya dan itu membuatku gemetaran.      "Dani ngejar Syaluna, dia mau pulang sendirian naik bis." jelas Dani.      "Syaluna mau pulang? diam-diam nggak pamit om sama Tante?" tanya Tante Maya, yang kini fokusnya berubah ke aku.      "Ada apa Sya?"      "Maaf om Tante bukannya Syaluna gak tau diri udah ditolongin tapi gak menghargai, hanya saja Syaluna kangennn banget sama mama sama papa, Syaluna tau, kalau sebenarnya mama gak balas chat Tante sewaktu ngabarin Syaluna sakit, iya kan." terangku.       "Syaluna ngerasa telah diabaikan telah di buang oleh orang tua Syaluna Tante." jawabku.      Kulihat om dan tante saling bertukar pandang dengan coding yang tidak bisa aku baca.      "Dani bilang om sama Tante bisa menjelaskan sesuatu, dan sepertinya saat ini adalah moment yang tepat om... Tante." ucapku.      "Daniii... kamu bilang apa?" mama Dani membentak Dani dengan sangat keras.      "Ma... mungkin emang sudah saat nya Syaluna tau, Dani nggak bilang apa-apa, Dani bilang mama sama papa yang bakalan menjelaskan semuanya."      "Tolong Tante, apa yang sebenarnya Syaluna nggak tau?" aku mulai mencium memang ada rahasia besar di balik itu semua, dan hanya aku yang tidak tau. Buktinya Tante Maya sampai kaya gitu ngebentak Dani.      Bukannya mulai berbicara Tante Maya justru nangis dan memelukku dengan sesekali menghapus air matanya.      "Tante ada apa?" ulangku sekali lagi.      "Janji sama Tante sama om sama Dani juga, kamu nggak bakalan ninggalin kami, kamu akan selalu bersama kami iya kan?"      "Yahhh gimana Syaluna bisa berjanji untuk sesuatu yang yang Syaluna gak tau itu apa tante?"      "Baiklah... Tante akan menceritakan semuanya sama kamu, sebenarnya papa sama mama kamu sudah bercerai sejak kamu pertama kali tiba disini satu tahun yang lalu." Awal cerita yang dramatis, sukses membuat hatiku hancur, mama sama papa yang selama ini selalu mesra didepanku, selalu bahagia, selalu setia berjuang dan bertahan dalam suka duka, mereka sekarang berpisah tanpa aku boleh mengetahui alasannya. kenapa?      "Bercerai..." ulangku.      "Iya... mereka tidak ingin kamu tau, mereka tidak ingin kamu sedih, terutama mama kamu, mama kamu sangatttt menyayangi kamu."       "Kenapa mereka bercerai Tante, selama ini Syaluna tau, mereka selalu bahagia Tante."       "Karena orang ketiga? siapa?" lanjutku.       "Bukan itu sayang..." ucapnya sambil meremas jemariku.       "Karena apa...?" tanyaku semakin penasaran.       "Karena mama kamu..."       "Mama kenapa?" aku tidak sabar mendengar penjelasan mama Dani yang terputus-putus.       "Mama kamu tidak bisa memiliki keturunan." jawabnya lalu pecahlah tangisnya.       Aku langsung menangkap bahwa aku bukan putri kandung keluarga Ariadi. Dadaku sesak airmataku mengalir deras tubuhku menggigil.       "Dulu Tante temuin kamu di depan pintu butik... Tante bawa kamu pulang, Tante sangat sangat sayang sama kamu, terus mama kamu datang saat kamu berusia 3 bulan, dia menangis melihat bayi secantik ini dibuang, dia merengek-rengek ingin mengasuh dan merawat kamu, Tante izinkan mama kamu membawamu, karena waktu itu Tante sudah punya anak, Dani, usianya sekitar 11 bulan dan mulai belajar jalan, dia selalu jagain kamu saat kamu tidur, dengan tidur di samping kamu. dia selalu panggil Tante kalau kamu nangis. Tapi jangan salah mama sama papa kamu juga sangat sayanggg sama kamu." jelas Tante. apapun itu tidak bisa mengubah keadaan hatiku yang sudah hancur.       Dani meraihku dan membiarkanku menangis dalam pelukannya.       "Nama Hafsha Syaluna juga Tante yang kasih nama itu ke kamu, lalu papa kamu menambahkan namanya di belakang nama kamu."       "Jangan sedih, semuanya sayang sama Syaluna, Eyang, mama, papa, semua om dan Tante pokoknya semua sayang Syaluna." bisik Dani.       "Setelah bercerai papa kamu menikah lagi, dan mama kamu kerja sendirian, tapi tetap saja mama kamu tidak membiarkan kamu melihat kondisinya yang sebenarnya, jadi Tante meminta, agar kamu disini, Tante yang rawat kamu, jagain kamu seperti saat kamu masih bayi."       "Aku ingin ketemu mama."       "Mama kamu sekarang sedang dekat dengan seorang rekan bisnisnya, dia jarang ada dirumah." tambah om Angga.       "Kalau menurut Tante nggak papa kalau misalnya mama kamu deket lagi sama seseorang, siapa tau jodoh bisa jadi teman hidup ya.." ucap Tante Maya. Aku hanya mengangguk, aku merasa tidak berhak melarang apapun itu, toh aku bukan siapa-siapa di keluarga ini.      "Terus sekarang gimana?"      "Syaluna tinggal dimana, sama siapa?"      "Dari awal aku sudah curiga setelah mama selalu mengabaikan ku." lanjutku. . "Kamu tenang saja, dari awal kamu anak om sama Tante, kamu tetap tinggal disini sama kami, tetap anak kami, adiknya Dani." tegas om Angga.      "Nggak akan ada cerita kamu kemana-mana, kamu tetap disini sama kami." tambah Tante Maya.      "Kamu mau kan? kamu bersedia kan... Tante yang yang sebenarnya mama angkat kamu bukan mama Viona. Jadi kamu nggak perlu merasa diabaikan dan dibuang, kamu sudah berkumpul lagi dengan keluarga kamu. Kamu punya papa, kamu punya mama kamu punya kakak." tambah Tante Maya.      Aku hanya mengangguk, tapi aku tidak bisa berjanji untuk terus berada di sisi mereka, karena aku tidak mau merepotkan dan jadi beban terus-terusan di keluarga yang sudah cukup baik ini.      "Ma... aku sayang sama Syaluna bukan sebagai abangnya, Dan aku nggak mau jadi abangnya."       "Terus mau kamu apa?" tanya mamanya.       "Mau jadi papa dari anak-anak nya." bisik papa sambil hi five sama Dani.       "Kok papa tau sih?" tanya Dani.       "Tau lahhh papa pernah muda, dari gimana kalian saling perhatian satu sama lain, saling menatap satu sama lain, ada cinta diantara kalian, dan gak bisa ditutupin." Kata om Angga.       "Papa nggak marah?"       "Kenapa harus marah.. kenapa?" ulang papa.       "Tapiii buktiin dulu sama mama kalau kamu emang layak dampingin Syaluna." tambah mama.       "Jadi nggak papa nih, direstuin gitu ceritanya?"       "Iyaaa..." ucap kedua orang tuanya.       Mulutku ternganga, aku masih kaget dan nggak nyangka. Apa karena mereka cuma kasian aja sama aku atau gimana nih.       "Jadi untuk Syaluna Tante mohon, kamu nggak usah sedih, gak usah risau pingin pergi dari sini, ini rumah kamu, tempat tinggal kita, ada Abang kamu yang juga pacar kamu, masak kamu mau ninggalin dia gitu aja." ucap Tante Maya.      "Syaluna masih ingin ketemu mama Tante?"      "Gimana pa?" tanya Tante Maya ke suaminya.      "Ya udah... ayo kita kerumah kamu sekarang. Ayoo om yang akan anterin kamu kesana." ucap om Angga.      "Kamu nggak usah nangis, ganti baju, kita berangkat sekarang sebelum kemaleman, ya." lanjutnya.       "Iya om..." aku segera beranjak dari tempat duduk ku, dan menuju kamarku untuk ganti baju.       Setelah semua siap, kami semua masuk ke mobil yang telah om Angga siapkan. Aku dan Dani duduk di belakang.        "Maaf ya om jadi ngerepotin ucapku."        "Ahh enggak masalah... udah kamu tidur saja, nanti kalau udah nyampek om bangunin." jawab om Angga.       "Tutup jendelanya biar gak dingin sayang." tambah Tante Maya yang duduk didepan.       "Sini peluk biar gak dingin..." bisik Dani sambil memelukku. Aku menoleh kearahnya, dia tersenyum. Dia sudah tau sejak awal perihal keadaanku, tapi dia tetap memilih mencintaiku.        "Dari awal, kamu udah janji ke aku, buat mau aku perjuangin, ya kan.. jadi aku nagih janji itu sekarang." lanjutnya masih dengan bisik-bisik agar pembicaraan kami tidak terdengar oleh om dan Tante.      "Tapi kan..." ucapku yang langsung terhenti oleh kecupannya yang singgah untuk beberapa detik saja.      "Aku nggak nerima tapi-tapi." lanjutnya. Aku menatapnya dalam-dalam, dan dia balik menatapku.       "Aku serius." sahutnya. Aku memalingkan wajahku darinya. Kulihat kilatan-kilatan dari cahaya lampu jalanan memantul ke jendela. Pandanganku jauh keluar sana. Aku masih tidak mengerti dengan semua hal yang terjadi secara tiba-tiba.      "Udah malem... tidur aja.." ucapnya kembali mendekapku. Aku memegang tangannya. Kurasakan kehangatan di dalam hatiku. Aku menoleh lagi kearahnya. Dia tersenyum, kubalas senyumnya kali ini dengan perasaan lega.      "I do..." ucapku.      "Makasih..." ucapnya sambil mengecup bibirku sekali lagi.       "Hehh udah." aku mengisyaratkan agar berhenti memberiku kecupan-kecupan kecil karena ada orang tuanya.       "Emang kenapa, biarin..." sahutnya.       "Bandel..."        "Yang penting kamu suka kan..."       "Lahhh..."       "Masih protes, mau triple kill?"       "Enggak-enggak." Jawabku dengan segera.       Entah berapa lama perjalanan, yang jelas aku baru saja bangun dari tidurku. Kulihat Dani masih tertidur dengan kepalanya bersandar pada pundakku. Aku meraih ponselku dari dalam tas. Kulihat jam analog dari displaynya. Tepat tengah malam.      "Udah Sampek mana om?"      "Ini udah di Alloha."       "Wahh bentar lagi nyampek." Aku masih menyiapkan diri buat ketemu sama mama, entahlah aku nggak ngerti gimana harus bersikap, aku akan memeluknya sambil nangis-nangis, atau marah karena kebohongan yang ditutup rapat dari aku.     Mobil om Angga berhenti pada sebuah rumah bercat putih dengan halaman luas, bernomor 34B aku. Rumah besar tanpa pagar itu adalah rumahku.     Aku membangunkan Dani, dan mengajaknya turun. Sepi sekali, seperti tidak ada tanda-tanda kehidupan dirumah.      Aku mengetuk pintu beberapa kali sambil memanggil mama, tapi tidak ada jawaban dari dalam. Aku berputar kesamping tempat kamarku berada lampunya nyala dan kulihat semua masih sama seperti saat aku meninggalkan rumah ini satu tahun yang lalu.       "Mama..." aku memanggilnya sekali lagi.       "Dan sepertinya mama nya gak ada, kamu ajak kesini." ucap papa Dani dari depan.      Dani datang menghampiri ku. tangannya meraih tanganku yang sedang meratap di kaca jendela.      "Mama nggak ada, rumah nya sepi." ucapku berusaha menyembunyikan kekecewaan dan airmata.      Aku melepaskan tangannya dan berjalan mendahuluinya. Dia menarikku dan menatapku dalam-dalam.       "Setidaknya aku hanya mengucapkan terimakasih, telah merawatku selama ini, aku tidak akan menuntut penjelasan apapun, jika mereka tidak ingin menjelaskan padaku, aku hanya ingin berterimakasih saja". aku menangis dan itu sangat menyakitkan.      "Lain kali kita kesini lagi." ucap Dani. Dia mengangkat wajahku dan menghapus airmata yang meleleh di pipiku. Kemudian mengajakku kembali kedepan.      "Maaf om udah jauh-jauh nganter kesini, tapi gak ada orang dirumah." ucapku.      "Nggak papa, lain kali kita kesini lagi, kalau mama kamu sudah bisa dihubungi." jawab om Angga.      "Sekarang kita pulang, besok kalian harus sekolah." kata Tante Maya.      "Iya Tante." ucapku lesu.      "Nggak papa, semangat kapan-kapan kita kesini lagi." Tante Maya menggandengku.       Hampir tengah malam, dan aku mulai terserang kantuk, Dani sudah kembali tidur.      "Kamu bisa berbaring di jok belakang, kalau Dani bikin kamu nggak nyaman sayang." ucap Tante Maya dari depan.      "Nggak papa kok Tante." ucapku.       "Ya udah kamu buat tidur ya, besok sekolah nanti kamu pusing kalau begadang semalaman."      "Iya Tante." jawabku. Aku mulai memejamkan mata dan bersandar ke jendela. Entah berapa lama aku tertidur. Sepertinya lama sekali sampai aku merasa kram leherku. Aku bangun dan kulihat ternyata kita udah sampai di rumah. Om sama Tante udah nggak ada, dan Dani... dia masih nungguin aku bangun.       "Kenapa?" tanyaku.       "Aku udah bangunin kamu dari tadi, kamu cuma haamm hemmm ya udah aku tungguin Sampek kamu bangun."       "Masa sih?"       "Buat apa aku bohong?"       "Sejak kapan kita nyampek, sekarang jam berapa?"       "Udah setengah jam yang lalu, sekarang jam setengah 3 pagi."       "Ooh maaf aku ketiduran, leher aku kram... dari semalam neleng kesini terus." keluhku.       "Coba sini aku lihat." ucapnya.       Dia mendekat menyibakkan rambutku. Kemudian mencium leherku, menyesapnya perlahan kemudian mengakhirinya dengan hisapan yang kuat.       "Auuw.. sakit tau." ucapku sambil memegangi bekas ciumannya di leher ku.       "Maaf maaf khilaf, mumpung ada kesempatan sih soalnya."       "Dasar otak mesum." aku memukul lengannya. Dia hanya ketawa.       Aku keluar dari mobil dan melangkah masuk kerumah. Melewati ruang keluarga aku melihat ke arah cermin.        "Ya ampunn Dani..." aku shock melihat leherku yang merah keunguan.        "Gimana dong, ini bakalan kelihatan."       "Enggak kok, ketutup sama rambut." jawabnya enteng.       "Ya nggak lah Dan, orang disini tempatnya. kamu sih kenceng banget jadi kaya gitu kan. Lagian kenapa coba, haaasshhh nyusahin aja kerjaannya."        "Leher kamu aja yang putih, jadi walaupun gak kuat-kuat banget tadi udah merah." ucapnya membela diri.       "Bisa aja ngeles nya." aku meninggalkan nya dan masuk ke kamar.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN