Pulang sekolah aku bersama Vika, Lala dan Dinda bergegas menemui mama Dani di butik. Kami kesana sebelumnya tanpa janji, jadi mungkin agak repot sih, tapi gimana lagi, waktunya udah mepet.
Setelah nungguin Vika yang tertinggal di belakang, aku mulai mendorong pintu kaca itu dan masuk kedalam.
Butik besar bernuansa Eropa klasik sama kaya rumah Dani itu berdiri di tengah kota malang. Banyak manekin berjajar dengan gaun-gaun yang indah. di side lain ada sebuah kaca besar yang memenuhi ruangan estetik itu.
Dengan dinding molding favorit mama Dani Butik ini sudah bisa dikatakan GLAM pada kelasnya.
"Aku sering lewat sini dodol... tapi nggak tau malu butik ini punya nyokap nya Dani." bisik Lala padaku.
"Keren banget sumpah, kenapa kita nggak foto di sini aja ala-ala princess gitu." usul Dinda.
"Emang boleh?" tanya Vika padaku.
"Aku belum ngomong, ya kita coba aja." jawabku.
Aku menemui Tante Maya yang tengah asyik memberikan pengarahan kepada salah seorang desainer barunya.
"Ini di bikin cutt A line aja, kalau mermaid itu buat yang badan agak berisi jadi keliatan tambah gendut." kata Tante Maya.
"Okkee siap Bu." jawab desainernya.
"Ya udah kerjain dengan hati-hati ya." pesannya kemudian.
"Iya Bu."
Setelah desainer itu meninggalkan Tante Maya, perhatiannya terpusat pada kami berempat.
"Loooh tumben rame-rame kesini ada apa, duduk dulu sini." ajak Tante Maya.
"Jadii gini Tante, Syaluna sama temen-temen kan mau foto buat buku tahunan, nahh rencananya mau sewa dress disini pas juga kebetulan konsep kita vintage gitu, ada kan ya." jelasku.
"Banyakk kok sini-sini kalian pilih sendiri, yang ini klasik, ini glam, ini pastel, banyak kok kalian pilih sendiri." kata Tante Maya dengan sangat ramah kepada kami.
"Terus sama sekalian izin buat foto disini boleh?" lanjutku.
"Bolehhh sayanggg, silakan kalian foto mau dimana aja boleh, nggak satu kelompok sama Dani?" tanya Tante Maya.
"Kebetulan cewek sendiri cowok sendiri Tante." jawabku.
"Ohh gitu sayang sekali ya."
"Memang kenapa Tante?" tanya Vika.
"Tante jadi gak bisa halu lihat mereka prewed." katanya sambil tersenyum.
"Aaaaaa cie cieeee..." kata mereka bertiga.
"Hehhhhh apa siih kalian." aku mencoba mengendalikan mereka bertiga sebelum kebablasan.
"Terus kira-kira harga sewa buat dress nya berapa Tante, soalnya menyesuaikan budget kita aja, gak perlu yang mewah-mewah hehehhe." lanjutku.
Tante Maya memegang kedua pundak ku. lalu menghembuskan nafas nya.
"Mana ada, orang tua minta bayaran dari anaknya. Hmmm?? kalian pakai aja pilih mana aja yang kalia suka, foto dimana aja terserah, buat kalian berempat yang cantik-cantik yang manis-manis ini gratisss..." kata Tante Maya.
"Hmmm jadi nggak enak Tante." ucapku.
"Tante bilang apa? ganti nanti di masa depan dengan....." ucapnya sengaja ditahan biar aku melanjutkannya sendiri.
"Iya Tante paham..." jawabku.
"Pinterr... yaudah kamu pilih-pilih mau pakai yang mana." katanya kemudian.
"Cussss ayuukkkkk..." kata Vika mengajakku memilih-milih baju yang yang ada di display lemari kaca.
"Ini bagus nih, dusty pink." kata Lala
"Iya dehhh aku ini..." lanjutnya sambil memeluk gaun itu.
"Aku ini aja sky blue..." ucap Vika.
"Aku yang mana donggg..." tanyaku.
"Aku juga mana dongggg kasih saran plisssss..." kata Dinda.
"Nahhh aku ktemu ini aja deh, kaya dress nya Taylor Swift di Love story ya nggak sih warnanya..." kata Dinda.
"Siiippp keren-keren." jawabku.
"Kamu yang mana Sya?" tanya Vika.
"Ehmmmmm....." aku masih berusaha mencari warna yang cocok dengan ku.
"Ya udah ini aja deh..." aku mengambil sebuah dress dengan warna abu terang yang cantiknya dominan.
"Ehhhh iya bagus itu kenapa aku tadi nggak lihat ya." kata Lala.
"Mau tuker?" tanyaku
"Nggak lah ini aja." sahutnya.
"Kita cobain yuk?"ajakku.
"Bolehhh deh..." ucap mereka.
Kami mulai membawa dress-dress tersebut ke ruang ganti. Setelah itu kami keluar dan mencoba mengatur gaya.
Di dinding molding tadi kami menata sebuah kursi berwarna putih tulang dan menata berbagai bunga-bunga.
"Ketuaaaa... sini sayang, kamu yang duduk di kursi, terus Dindaaa.. kamu yang duduk di lengan kursi, Lala kamu berdiri ya dan aku nih yang sok syantik duduk dibawah dengan kaki kaya gini." ucapnya sambil mengarahkan gaya kami satu persatu.
"Gimana keren kan?" katanya kemudian.
"Boleh-boleh siippp, terus kita kapan mau take a pic nya?" tanyaku.
"Gimana kalau besok pagi, kan hari Minggu tuh, kita kerumah ku dulu untuk dirias sama mama." jawab Lala.
"Setujuuu..." jawab kami semua.
"Ya udah kita ganti dulu trus pulangg..." ajak Vika.
"Kamu masih mau disini apa pulang? kalau mau pulang biar aku yang anterin kamu sampai rumah." Katanya kemudian.
"Pulang aja..." jawabku.
Mereka bertiga beranjak dari posisi nya dan kembali menuju fitting room. Aku turut mengikuti mereka. namun saat aku baru saja berdiri, tiba- tiba pandanganku gelap, semua terasa mute, dan aku melangkah kemana tak tau pasti, yang jelas aku terjatuh dan kepala ku membentur sesuatu dengan cukup keras.
Dan begitu aku tersadar kurasakaan kepala ku sakit. Mereka bertiga sudah berganti pakaian dan mengerumuni ku bersama Tante Maya pula.
Tante Maya terlihat panik sekali. ditangannya terdapat minyak kayu putih dan gulungan kapas. Beliau langsung menerobos diantara Lala dan Vika begitu melihatku tersadar.
Aku langsung barusaha bangkit dari posisiku dan mencari tau barusan apa yang terjadi.
"Tante ada apa? apa yang terjadi?" aku bertanya pada tanteku yang masih belum hilang rasa paniknya.
"Kamu tiba-tiba pingsan, Tante Sampek bingung, padahal tadi nggak kenapa-napa kan?" Tante Maya balik bertanya padaku.
"Ohh iya, tadi waktu Syaluna berdiri tiba-tiba jadi gelap semua, mendadak banget aku juga kaget biasanya seiring berjalannya waktu bisa jadi terang lagi dan langsung pulih ya nggak, kalian pernah ngalamin kan pas tensi kalian rendah, dari duduk ke berdiri pasti kaya gitu rasanya, nggak tau kenapa tadi malah kebablasan dan ini sakit banget." aku memegang pelipis kiri ku.
"Tadi kebentur meja." jawab Vika,
"Kami baru aja mau ganti baju tiba-tiba kamu jatuh dan gak sadarkan diri." lanjutnya.
Terdengar decitan pintu depan dibuka, kemudian masuklah Dani bersama seorang dokter.
"Dani kesini Tante?" tanyaku.
"Tadi Tante telpon dia suruh panggilin dokter sekalian."
Dani dan dokter itu mendekat, sepertinya aku harus siap-siap Dani bakalan ngomel lagi, Setelah diperiksa baru dokter mengatakan kondisiku yang sebenarnya.
"Ini tensi nya rendah banget Bu." jelas dokter kepada Tante Maya.
"Iya pak kemarin juga gitu tapi sudah minum obat kan ya." Tante memastikan aku meminum obatku lagi
"Iya Tante Syaluna minum kok." jawabku.
"Apakah punya riwayat alergi obat?"
"Saya kurang tau dok?"
"Looh kok nggak tau, sebelumnya belum pernah terjadi reaksi alergi pada obat apapun?" tanya dokter
"Ngga pernah dok." jawabku.
"Tadi minum obat lagi jam berapa?"
"Barusan kamu minum obat kan Sya sebelum kita masuk tadi, itu obat apa?" tanya Vika.
"Kamu minum obat itu lagi?" tanya Dani mungkin yang dia maksud Fluoxetine.
"Enggak kan obat ku kamu yang pegang by, aku cuma minum amoxilin tadi karena tenggorokan ku sakit kaya radang gitu, ke UKS di kasih amoxilin belum sempat minum, baru nyampe depan sini tadi aku minum." jelasku.
"Nahhh itu dia, kamu alergi penisilin, amoxilin itu termasuk salah satunya, dan yang barusan terjadi tiba-tiba pingsan tadi adalah reaksi alergen super sensitif tersebut. Anaphylactic shock (baca: Anafilaksis syok) merupakan salah satu reaksi alergen yang paling berbahaya, reaksi ini akan mengakibatkan penurunan tekanan darah secara drastis sehingga aliran darah ke seluruh jaringan tubuh terganggu. Akibatnya, muncul gejala berupa sulit bernapas, bahkan penurunan kesadaran. Gejala lain termasuk ruam kulit, mual, muntah, kesulitan bernapas, dan shock." jelas dokter.
Dokter memeriksa kondisi kulit tangan dan wajahku dan akhirnya menemukan ruam di sepanjang leher ku.
"Ini gatal?"
"Iya dok." jawabku.
"Ini kamu alergi penisilin ya, salah satu nya termasuk amoxilin, kalau berobat bilang ada riwayat alergi penisilin jangan Sampek berobat justru membahayakan diri kamu sendiri ya." tutur dokter.
"Iya dok makasih." jawabku.
"Anaphylactic shock bahaya loh ya bisa mengancam jiwa, dan kalau sudah terjadi kaya gini bisa jadi dalam 12 jam kedepan masih ada kemungkinan kamu jatuh pingsan lagi, jadi kamu harus benar-benar bedrest ya, jangan aktivitas dulu, saya buatkan resep nanti ditebus ya." kata dokter.
"Iya dok makasih." ucapku.
"Ini resepnya, ya sudah kalau gitu bisa saya pamit ya, kamu yang nurut istirahat saja ya." pamit dokter
"Iya dok...." jawab ku.
Tante Maya beranjak nganter pak dokter sampai ke depan. Dani menerima resep itu dari ukuran tanganku.
"Ya udah kamu istirahat ya, suami udah dateng kami pamit ya." ucap Vika.
"Maaf ya jadi ngerepotin, besok tapi bisa kok kita foto." ucapku.
"Iya santai aja lagi." kata Lala.
"Yang penting kamu istirahat jangan bandel." tambah Dinda.
"Dan kami cabut ya..." pamit Vika.
"Ok thanks ya..." jawab Dani.
Mereka bertiga pergi dan tinggalah aku berdua dengan Dani, aku sudah bersiap menerima segala omelan dia kali ini.
Dan ternyata aku salah, dia justru mengelus puncak kepala ku dengan lembut.
"Aku tebus resep dulu ya, habis itu kita pulang." kata nya kemudian.
Aku ngangguk tanpa bisa berkata apa-apa. Tante Maya mendekatiku setelah Dani pergi.
"Dani tumben gak marah-marah sama Syaluna Tante, biasanya dia paling cerewet." ucapku.
Tante Maya justru membalasnya dengan senyuman.
"Asal kamu tau, calon suami kamu ituuu, dari kecil paling nggak bisa lihat kamu sakit, pas Tante telponan sama mama kamu, dia denger kalau kamu sakit dia pasti uring-uringan sendiri, katanya... maaah bilangin Tante jangan cubit Syaluna nanti dia nangis terus sakit, oceh Dani gitu." kata Tante Maya.
Aku tertawa kecil ngebayangin nya.
"Sampai sekarang pun, sayangnya ke kamu nggak pernah berubah, ehhh berubah dong, jadi cinta..." ucap mama Dani sambil tersenyum.
"Beneran dia sayang banget kok sama kamu." tambah Tante Maya.
"Iya tante." jawabku.
"Ada pelanggan, Tante tinggal kedepan ya, kamu nggak papa sendirian?" tanya Tante.
"Enggak papa kok Tante." jawabku.
Enggak lama Dani kembali dengan membawa obat ditangannya. Dia langsung menuju kulkas untuk mengambil segelas air putih tidak lupa dengan sepiring nasi lengkap dengan lauknya.
"Makan dulu ya terus minum obat." ucapnya.
"Sini aku suapin." lanjutnya.
"Aku bisa sendiri Dan..." jawabku.
"Udah biar aku yang suapin." sahutnya ya udah aku nurut aja.
Masih setengah nasi dalam piring tapi rasanya mual banget udah mau muntah, saat Dani menyodorkan sesendok lagi aku menutup mulutku sambil menggelengkan kepala.
"Sekali lagi sayang.." ucapnya.
"Enggak udah... rasanya mual banget mau muntah." tolakku.
"Ini minum dulu." Dani mendekatkan gelas minumku, aku menerima dan meminumnya seteguk kemudian mengambil nafas.
"Makan lagi..." ucapnya.
"Enggak by udah..." tolakku secara halus.
"Bisa-bisanya manfaatin kelemahan aku buat nolak makanan." dia ngedumel sendiri.
"Beneran udah kenyang kok." sahutku.
"Ya udah minum obatnya ya..."
"He em..." Dan dia mulai mengambil beberapa tablet obat dari berbagai macam obat yang dia bawa. Aku memasukkan kedalam mulutku lalu menggiringnya dengan air putih.
"Makasih..." ucapku.
"Iya sayang..." jawabnya.
"Kita pulang biar kamu bisa istirahat dengan nyaman dirumah ya." lanjutnya.
"He em..." aku ngangguk lalu bangkit dari tidurku.
Dani membantuku berdiri dan menggandeng merangkulku.
"Ma... kita pulang ya, biar Syaluna bisa istirahat dirumah." pamit Dani.
"Oh iya... hati-hati ya..." pesan Tante.
"Iya Tante." balasku.
Sampai dirumah aku langsung menuju kamarku, setelah mengganti baju, kurebahkan diri diatas tempat tidurku yang nyaman.
Baru saja aku berniat melanjutkan tidurku Dani mengetuk pintu dari luar.
"Masuk aja." ucapku.
Kemudian dia masuk dengan membawa laptop dan beberapa buku sekolahnya.
"Hmmm... tumben kamu belajar." ucapku.
"Iya demi lolos UTBK UB nanti, demi masa depan." jawabnya.
"Kamu pingin lanjut ke UB?" tanyaku.
"Iya sayang." jawabnya.
"Kamu juga?" dia balik bertanya.
"Aku nggak pingin kuliah, aku mau kerja aja." jawabku. Dia langsung menoleh kearahku.
"Aku nggak mungkin bisa lanjut kuliah, aku nggak ada biaya, dan aku nggak mau nyusahin om sama tante. juga kamu jangan paksa aku ya." ucapku.
Dia terlihat kalut dengan pikirannya sesekali dia menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya.
"Kalau gitu lulus sekolah aku mau kita nikah." ucanya kemudian membuatku tertawa.
"Kenapa?" tanyaku.
"Aku nggak bisa ngatur kamu buat nurut sama aku karena aku bukan siapa-siapa, tapi begitu kamu jadi istriku, kamu harus nurut sama aku, aku mau kamu dirumah aja, nggak perlu kerja, biar aku yang kerja sambil kuliah." tegasnya.
"Ya nggak gitu Dan.. aku juga pingin kerja, aku janji nggak macem-macem." ucapku.
"Enggak... aku nggak bisa biarin kamu kerja," tandasnya.
"Danii... plisss. kamu mau, aku tersiksa sepanjang hidup dengan terus bergantung sama kamu dan kekuarga kamu, plisss kasih kesempatan kasih ruang biar aku bisa balas seenggaknya apa yang pernah kalian kasih buat aku, walaupun hanya sebagian kecil aja." pintaku.
"Kamu benar-benar kelemahan aku." sahutnya.
"Sayanggg... tolong kamu ngerti in aku." lanjutku.
"Iyaaa.... kamu boleh kerja sesuka hati kamu, tapi setelah kita nikah, aku mau kamu dirumah aja." lanjutnya.
"Iya kita nikahnya setelah kamu lulus kuliah ya." sahutku.
"Ya nggak lah... masuk kuliah aku juga nyari kerja apa aja yang. Ida dikerjakan oleh mahasiswa aktif, setelah aku cukup modal buat nikah, ya kita nikah." jawabnya.
"Tapi..."
"Enggak pake tapi.." selanya.
"Yaudah terserah kamu."